Cinta dari “Guru Petualang”

Masih kuingat jelas, saat aku kecil dulu keluargaku bukanlah tipe yang sanggup melakukan piknik dan berlibur bersama setiap bulan. Kami hanya keluarga kecil biasa.

Kami bukan keluarga yang kekurangan, namun juga tak memiliki uang yang lebih.

Hal yang paling aku ingat, aku adalah seseorang perengek dan peminta. Jika keinginanku tak dipenuhi, aku tidak akan segan-segan lagi untuk menangis, bahkan hingga tetangga sebelah terkadang mendatangi orang tuaku. Karena tak tahan dengan tangisanku.

Begitupun saat aku tahu atau mendengar tetanggaku akan piknik atau rekreasi ke pantai, kumenangis keras di dalam kamar.. merengek kepada kedua orang tuaku agar aku juga diajak piknik seperti mereka..

Padahal saat itu aku belum tahu apa itu arti piknik, hanya saja saat tetanggaku bilang akan ‘piknik’ dengan muka senang aku pikir itu pasti sesuatu hal yang menyenangkan yang tak pernah kurasakan sebelumnya..

Saat itu ayah & emakku hanya terdiam sembari menatapku, hingga aku tertidur karena telah lelah menangis..

Pelajaran pertama

Saat itu, Aku baru Kelas 3 SD, di Minggu pagi tiba-tiba Emak mengajakku piknik ke kebun binatang kota.

Aku hanya pergi berdua bersama Emak.
Sedikit cerita tentang Ayah, Ayahku adalah seorang wiraswasta, beliau tak pernah mengenal hari libur.

“Perjalanan” paling berkesan yang kuingat bersama ayah adalah saat aku digendongnya ke taman kota disore hari untuk menyaksikan pertunjukan topeng monyet keliling. Kami naik mobil Apel – begitu saya menyebut angkutan umum berwarna hijau di kota kami dulu, sebelum berjalan kaki cukup jauh karena jalan tak dapat dilalui mobil.

Di kebun binatang, aku baru tahu jika gajah itu tak berwarna pink dan benar-benar sangat besar, setinggi pohon yang sering  kupanjat di depan rumah- bahkan mungkin lebih tinggi. Sebelumnya aku berpikir gajah berwarna pink dan setinggi manusia biasa karena pada majalah anak-anak yang sering saya baca dia nampak menggemaskan. Aku juga baru tahu jika ada burung dengan ekor yang sangat besar dan tak bisa terbang, yaitu burung merak. Aku benar-benar ingat. Saat itu aku menangis kencang, dan disaat yang hampir bersamaan Burung-burung itu tiba-tiba mengembangkan ekornya..

Pelajaran kedua

Pada ulang tahunku yang ke-8, Emak mengajak aku mengunjungi saudara di Kerinci – Jambi. Suasana disana sangat berbeda dengan kampung halamanku. Banyak pohon-pohon besar setinggi rumah di pinggir jalan. Jalanannyapun tak seramai di kampungku.

Beberapa kali kami melewati wilayah hutan.  Banyak Tebing dan Bukit besar nampak  menjulang cantik dikejauhan – dimana setelah aku beranjak dewasa ini, aku baru tahu bahwa bongkahan tanah yg besar itu adalah Gunung Kerinci.
Gunung Berapi tertinggi di Indonesia.

Disana cara berpakaian dan bahasa orang-orang yang kutemui sangat berbeda. Ini pertama kali aku bertemu orang dengan latar belakang budaya berbeda.

Dan pengalaman yang paling kuingat adalah, Emak membentakku karena menertawakan cara bicara atau logat mereka.

Sosok Emak yang kutahu sangat kalem dan jarang marah sebelumnya, tiba-tiba membentak membuatku kaget, hingga aku akhirnya aku ketakutan dan kembali menangis.

Emak menasehatiku.. Bahwa hal tersebut sangat tidak sopan.

Hal yang tidak pantas untuk dilakukan dengan menertawakan pembicaraan atau logat orang lain yang kita jumpai..

Pelajaran ketiga

Pada liburan sekolah SD, setelah masa ujian nasional, Emak mengajakku ke Pantai BaleKambang sebagai hadiah karena saya berhasil masuk peringkat 5 besar di sekolah.

Bukan keindahan gulungan ombak atau pasir puti nan halusnya yang berkesan, namun pengalaman dikejar anjing coklat tua-lah yang paling membekas.

Iyah, anjing Coklat Tua.. Anjing itu milik salah satu warga/nelayan lokal di pesisir pantai tersebut. Sebenarnya sih saat itu aku hanya melemparnya dengan pasir, tapi tiba-tiba anjing itu berlari sambil menyalak ke arahku seakan mau menerkamku hidup-hidup..

Pahlawanku datang.

Tanpa rasa takut Emak perlahan mendekati si anjing itu, sembari mengeluarkan bunyi-bunyian dari mulutnya. Ajaibnya si anjing berhenti menjadi beringas setelah kepalanya dielus manja oleh Emak. Anjing itu terus menggosokan kepalanya ke kaki Emak.

Tak lama setelahnya, pemilik anjing datang dan meminta maaf pada kami.

 

Seorang “Guru Petualang”

Enam tahun setelah itu, pertama kalinya aku melakukan perjalanan seorang diri tanpa ditemani Emak. Aku pergi ke Gunung Lawu bersama seorang teman. Aku berkenalan dengan banyak orang diperjalanan, mengobrol banyak hal bersama warga lokal di Basecamp, bertemu musang liar berwarna biji kopi di tengah jalur pendakian, serta membuat api unggun bersama rombongan “ORAD” (Olah raga Arus Deras) salah satu universitas di jogja.

Sebenarnya aku sendiri tak memikirkannya dengan sengaja. Saat kumerenung, aku sadar bahwa sebenarnya,

“Sejak kecil ternyata aku telah diajari “dasar-dasar menjadi seorang petualang” oleh Emak. Cara menggali informasi baru, cara menikmati sebuah perjalanan, cara menghormati orang dengan budayanya yang  berbeda, bahkan cara memperlakukan hewan yang kita temui diperjalanan.. Sesuatu yang sangat membekas di ingatan,

Emak telah melatih aku untuk menjadi seorang pejalan yang baik, beliau yang pertama kali memperkenalkan dunia padaku..”

Aku paham, piknik adalah hal mewah bagi keluarga kami saat itu. Dengan penghasilan yang biasanya, tak mungkin Ayah bisa mengajakku piknik ke berbagai tempat. Setelah dewasa kutahu, Emak menabung hanya untuk mengajakku piknik.

This slideshow requires JavaScript.

Aku tersadar saat kumemandang album foto perjalanan yang kusimpan di folder “Memories” di laptopku. Telah banyak tempat yang aku kunjungi, baik itu solo trip, bersama adik, bahkan bersama ayahku sudah sering kulakukan. Memang telah banyak orang pula kukenal diperjalanan, telah banyak pengalaman menyenangkan kudapatkan.

Namun tak ada satupun foto kubersama Emak. Aku terlalu sibuk dengan duniaku sendiri, hingga tanpa sadar melupakan “Guru Petualang”ku.

Emakpun dulu pasti sangat sibuk. Bedanya, Emak selalu menyempatkan untuk mengajakku bepergian. Meski itu hanya ke pasar untuk berbelanja dan membelikanku pistol air dan balon terbang.

Au yakin Emakpun pasti memiliki tempat-tempat impian yang ingin dikunjunginya.
Pulau dewata, Tanah Suci Mekah & Madinah contohnya..

This slideshow requires JavaScript.

Suatu waktu, tepat tanggal 11 Desember 2015 aku kembali menginjakkan kaki di tanah dewata, namun kini aku bersama “Guru Petualang”ku.

Iya.. Bersama Emak, bersama Ranger Pink’ku.. Bersama Koki terbaik..

Alhamdulillah aku kini punya Album baru di laptopku.. Folder yang berisi foto-fotoku bersama Seorang “GURU PETUALANG”

This slideshow requires JavaScript.

 

This slideshow requires JavaScript.

 

This slideshow requires JavaScript.

This slideshow requires JavaScript.

Foto-foto dan cerita Inilah bukti nyata yang harus aku simpan dengan rapi, dan suatu saat akan ku beritahu kepada anak dan cucu-cucuku kelak.. Bahwa Buyut atau Nenek mereka benar-benar berjasa dalam perjalanan hidupku.. Beliau adalah orang yang tangguh, Beliaulah Pahlawan dalam hidupku..
Beliau telah banyak memberikanku cinta, dan kasih sayang..
Aku percaya bahwa Cinta Anak terhadap Ibunya sepanjang gala, namun tidak dengan Cinta Ibu kepada kita yang sepanjang Masa..
Terima kasih Tuhan..
Kau beri aku orang tua yang spesial..
Kau beri aku Pembimbing yang mengajariku banyak hal..
Terima kasih Atas Cinta yang Emak beri buatku..

#ilivesafe
#G4D4Adventure

-FA-

Advertisements

Jaga Mereka agar Tetap ABADI

Bunga abadi sebenarnya selama ini identik dengan satu nama yang mungkin asing bagi sebagian orang, yakni Anaphalis Javanica, tetapi bagaimana jika disebut Edelweis? Tentu hampir semua orang, khususnya para penggiat alam bebas pendakian gunung mengenal si bunga abadi Edelweis Anaphalis Javanica atau Edelweis Jawa. Saat pertama kali melihat bunga ini, terasa unik dengan bunga yang kecil – kecil, cantik dan tak pernah layu. Edelweis merupakan keluarga dari sunflower, sedangkan kata Edelweis berasal dari bahasa Jerman, Edel yang berarti Mulia dan Weiss yang berarti Putih.

EDELWEISS

Anaphalis Javanica merupakan tumbuhan endemic zona alpine / Montana di berbagai pegunungan tinggi Nusantara. Tanaman ini dapat tumbuh dengan ketinggian 8 meter, dan memiliki batang sebesar kaki manusia, walaupun pada umumnya tingginya tidak lebih dari 1 meter. Tumbuhan cantik ini sekarang dikategorikan menjadi tumbuhan langka.

Jangan salah, di Eropa pun ternyata ada juga edelweis. Nama latin nya adalah Leontopodium Alpinum. Edelweis jawa termasuk tanaman endemic dan langka, berbentuk semak dengan bunga yang berumpun. Sedangkan Edelweiss Eropa bunganya tidak berumpun. Akan tetapi dua – duanya mempunyai kesamaan yaitu sama – sama cantik.

edelweis rinjani
Edelweis di Rinjani

Leontopodium Alpinum merupakan salah satu tumbuhan gunung eropa yang terkenal. Nama Leontopodium berarti cakar singa yang berasal dari bahasa Yunani “Leon” ( berarti singa ) dan “podion” ( berarti kaki ). Daun dan bunganya ditutupi bulu – bulu putih seperti wool. Tangkai bunga edelweiss dapat tumbuh dari ukuran 3 – 20 cm menjadi 40 cm.

Masing – masing bunga terdiri dari 5 – 6 kepala bunga kuning kecil ( 5 mm ), dikelilingi oleh daun – daun muda menjadi bentuk bintang. Bunga ini akan berkembang antara bulan Juli – September. Tumbuhan ini penyebarannya bervariasi, akan tetapi lebih sering dijumpai di daerah berbatu dengan ketinggian 2000 – 2900 m.

Tumbuhan ini tidak beracun, bahkan sering dipakai dalam pengobatan tradional untuk mengobati perut dan pernafasan. Bulu – bulu tebal yang muncul merupakan adaptasi dari ketinggian tempat, dan melindungi tumbuhan dari dingin, kering, dan dari radiasi UV. Karena tumbuhan ini tumbuh di daerah yang sulit dijangkau, maka di beberapa Negara bagian alpen, tumbuhan ini dihubungkan dengan pendakian gunung.

leontopodium alpinum 1 iedelwe001p4 Leontopodium-alpinum
Leontopodium Alpinum

Ternyata ada juga bunga abadi lainnya, dan itu ada di INDONESIA!

BUNGA ABADI “KERTAS” WAMENA
Jika melakukan travel ke Wamena, Kabupaten Jayawijaya, jangan lupa untuk membeli bunga abadi khas Wamena. Bunga ini diyakini bisa bertahan lama sampai bertahun – tahun seperti bunga edelweis. Bunga ini banyak ditemukan di pasar Jibama atau di toko – toko suvenir, Wamena.

Pengemasannya yang sangat sederhana, hanya dibungkus kertas koran, membuat bunga ini kurang diperhatikan para wisatawan yang berkunjung ke Wamena. Padahal seorang mantan Puteri Indonesia pada saat berkunjung ke Wamena, tahun 2007, cukup hanya membeli setangkai bunga abadi ini sebagai cendera mata khas dari Wamena ke Jakarta.

bunga-abadi-100-tahun-wamena ???????????????????????????????
BUNGA ABADI “KERTAS” WAMENA

Jaga bunga abadi tetap di rumahnya agar tetap cantik dan kita pantas hanya mengaguminya.

Biarkan Edelweis menjadi legenda gunung bagi para pendaki dan pecintanya.

 

* Satu hal lagi yang Harus dan Wajib saya informasikan kepada kalian yang telah membaca tulisan saya ini..

Tetap Jaga Kelestarian tempat anda berwisata, jagalah kebersihannya dan hindari Vandalisme..

petik edelweiss

Jangan pernah ambil atau merusak apapun di tempat ini..

Biarkan semua tetap pada tempatnya, dan mati karena usianya..

Jaga Semesta ini untuk cucu kita nanti, biarkan mereka juga menikmati Paradays in Indonesia kelak..

IMG_20150215_102341

Photos by : Anton Gamaliel & Fajar Achmadi #G4D4Adventure

#SalamLestari

-FA-

 

Sebelas Gunung Tercantik Di Indonesia

Sebelas Gunung Tercantik Di Indonesia

 

Indonesia, banyak orang bilang adalah sepotong Paradays (surga) yang tertinggal di Bumi. Semua keindahan ada di Bumi Zamrud Khatulistiwa ini. Salah satu keindahan Indonesia ada pada gunung – gunungnya. Indonesia kaya akan gunung yang berderet hampir dari sepanjang ujung timur hingga barat. Apa saja gunung – gunung tercantik di Indonesia?

1. Gunung Semeru, Jawa Timur
Banyak sekali spot – spot yang terkenal indahnya. Contohnya Oro – oro Ombo, Danau Ranu Kumbolo dan Kalimati. Oro – oro Ombo merupakan padang bunga yang sangat cantik. Kalau Danau Ranu Kumbolo terkenal dengan keindahan sunrise di pagi hari. Sedangkan kawasan Kalimati terkenal indah sekaligus unik karena pasir hitamnya.

P1050346
IMG-20140908-WA0015

Belum cukup? Naiklah ke Puncak Mahameru, disana seolah dataran tanah Jawa terlihat dalam satu frame. Segala yang indah dari aspek vulkanologi maupun aspek biologisnya.

 

2. Gunung Kerinci, Sumatera
Gunung Kerinci merupakan gunung tertinggi di Sumatra sekaligus gunung berapi tertinggi di Indonesia. Gunung ini terletak di Provinsi Sumatera Barat dan Jambi, di Pegunungan Bukit Barisan atau sekitar 130 km sebelah selatan Padang. Puncaknya berada pada ketinggian 3.805 Mdpl, dari sana pengunjung dapat melihat indahnya pemandangan Kota Jambi, Padang, dan Bengkulu. Samudera Hindia pun bahkan bisa terlihat dengan jelas.

www.belantaraindonesia.org

Gunung Kerinci memiliki kawah berisi air berwarna hijau dan terdapat danau Bento disebelah timurnya. Gunung ini dikelilingi hutan lebat Taman Nasional Kerinci Seblat dan merupakan habitat Harimau Sumatra dan Badak Sumatra. Fauna Gunung Kerincipun juga beragam, ada mahoni, cemara, Bunga Raflesia Arnoldi dan Suweg Raksasa.

3. Gunung Bromo, Jawa Timur
Gunung Bromo merupakan gunung berapi yang masih berstatus aktif. Gunung ini terkenal sebagai obyek wisata di Jawa Timur. Gunung Bromo berada dalam empat wilayah, yakni Kabupaten Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, dan Kabupaten Malang. Bromo memiliki ketinggian 2.392 Mdpl.

www.belantaraindonesia.org
IMG_20140928_115805 IMG_20140930_092519

Yang paling terkenal indahnya adalah pasir laut seluas 5.250 hektar di ketinggian 2392 Mdpl. Disana pengunjung bisa naik kuda atau mendaki Gunung Bromo dengan tangga. Gunung Bromo mempunyai sebuah kawah yang cantik, Sabana yg Luas, serta Pasir Berbisik.. Sedangkan daerah bahayanya berupa lingkaran dengan jari – jari 4 km dari pusat kawah Bromo.

4. Gunung Merbabu, Jawa Tengah
Gunung Merbabu berada di Magelang dan Boyolali Jawa Tengah. Konon arti “merbabu” berasal dari gabungan kata “meru” ( gunung ) dan “abu” ( abu ). Puncak Gunung Merbabu berada pada ketinggian 3.145 Mdpl. Gunung Merbabu menjadi pendakian populer karena gunung ini memiliki tingkat kesulitan yang tidak terlalu tinggi, tetapi pemandangannya sangatlah indah.

6793026547_f076e40dc6_m

Merbabu di kenal memiliki 7 buah puncak dengan 2 puncak tertinggi yaitu puncak Syarif ( 3.119 Mdpl)  dan Puncak Trianggulasi ( 3.142 Mdpl ). Gunung ini memiliki 5 buah kawah yaitu kawah Condrodimuko, kawah Kombang, Kendang, Rebab, dan kawah Sambernyowo. Gunung Merbabu juga mempunyai kawasan Hutan Dipterokarp Bukit, Hutan Dipterokarp Atas, Hutan Montane, dan hutan Ericaceous atau hutan gunung.

5. Gunung Tambora, Nusa Tenggara Barat
Gunung Tambora atau Tomboro terletak di pulau Sumbawa tepatnya terletak di dua kabupaten, yaitu Kabupaten Dompu dan Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Keindahan alam Gunung Tambora sangat unik. Lebar kawah Gunung Tambora 7 km, keliling kawahnya sekitar 16 km, dan kedalaman kawah dari puncak sampai dasar kawah kedalaman 800m, sehingga kawah Gunung Tambora terkenal dengan The Greatest Crater in Indonesia ( Kawah Terbesar di Indonesia ). Kawah besar ini merupakan akibat dari adanya letusan terdahsyat di dunia terkenal dengan The Largest Volcanic Eruption in History.

www.belantaraindonesia.org

Selain itu keindahan Gunung Tambora lainnya adalah padang pasir luas di sepanjang bibir kawah yang ditumbuhi bunga Edelweiss kerdil sekitar 0,5 – 1,5 meter. Juga adanya keindahan batuan – batuan berlapis dan pada bagian atasnya datar seperti meja menjadikan fenomena alam yang menakjubkan. Ada pula lapisan batuan sepanjang tebing kawah yang berlapis – lapis.

6. Gunung Papandayan, Jawa Barat
Gunung Papandayan terletak di Cisurupan, Garut, Jawa Barat. Gunung ini mempunyai ketinggian 2.665 Mdpl. Gunung Papandayan mempunyai kawah yang masih aktif jadi bisa menghamburkan belerang kapan saja. Saat mendaki, Anda bisa menikmati pemandangan Padang Edelweiss yang luar biasa cantik.

www.belantaraindonesia.org
IMG_20141019_170143

Efek letusan dan pepohonan yang mengering juga akan membuat pendakian jadi lebih menarik. Karena keindahan Gunung Papandayan juga digunakan sebagai tempat foto pre wedding.

7. Gunung Rinjani, Lombok Nusa Tenggara Barat
Gunung Rinjani berada di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Gunung ini merupakan gunung tertinggi kedua di Indonesia dengan ketinggian 3.726 M dpl. Selain puncak, tempat yang sering dikunjungi adalah Segara Anakan, sebuah danau terletak di ketinggian 2.000m dpl. Penduduk Lombok mempunyai tradisi berkunjung ke segara anakan utk berendam di kolam air panas dan mancing.
rinjaniview

Pemandangan puncak sangat indah bahkan kita akan merasa berada di surga (Paradays) saat berdiri diatas tanah hitamnya. Jika cuaca bagus Gunung Agung di Bali, Gunung Ijen – Merapi di Banyuwangi dan Gunung Tambora di Sumbawa bisa terlihat jelas dari sana. Disana terdapat sumber mata  air panas dan ada pula air terjun Sendang Gile di Senaru.
sempurna bukan??
Jika ada yang Menyebut Rinjani adalah Paradays in Indonesia itu sangat tepat.

8. Gunung Argopuro, Jawa Timur
Gunung Argopuro terletak di Jember, Jawa Timur. Gunung ini merupakan gunung yang memiliki trek terpanjang di Pulau Jawa. Pemandangan disana beragam dan tidak kalah eksotis dengan gunung lainnya. Kamu bisa menemui banyak sabana yang indah – indah. Sungainya pun juga jernih. Terdapat danau namanya Danau Taman Hidup.

www.belantaraindonesia.org

Satwa disana juga sangat beragam seperti rusa, babi hutan, lutung, monyet dan lainnya. Argopuro juga punya hutan lumut yang memukau. Hutan lumut merupakan pepohonan yang diselimuti lumut.

9. Gunung Kelimutu, Nusa Tenggara Timur

www.belantaraindonesia.org

Gunung Kelimutu merupakan gunung berapi yang terletak di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, tepatnya di Desa Pemo, Kelimutu. Salah satu penyebab gunung ini indah karena tiga buah danau kawah di puncaknya. Danau ini terkenal karena tiga warna yang berbeda makanya disebut Danau Tiga Warna.

10. Gunung Ijen, Jawa Timur

www.belantaraindonesia.org

Gunung Ijen adalah sebuah gunung berapi aktif yang terletak di perbatasan Kabupaten Banyuwangi dan Bondowoso, Jawa Timur. Gunung ini mempunyai ketinggian 2.443 Mdpl. Yang paling terkenal keindahnya adalah Kawah Ijen. Perpaduan cantik antara air kawah yang hijau dan bebatuan yang berwarna putih. Cantik!

11. Puncak Jaya, Papua

PUNCAK JAYA Jayawijaya_javatour-visitindonesia.blogspot


Puncak Jaya ialah sebuah puncak yang menjadi bagian dari Barisan Sudirman yang terdapat di provinsi Papua, Indonesia. Puncak Jaya mempunyai ketinggian 4884 Mdpl dan di sekitarnya terdapat gletser Carstenzs, satu – satunya gletser tropika di Indonesia. Puncak ini pernah dinamai Poentjak Soekarno dan merupakan gunung yang tertinggi di Oceania.

Benar-benar Indah bukan Negara ini??

Masihkah anda memandang sebelah mata, negara yang Cantik ini??
dengan segala keindahan bak. Surga yang ada dibumi..
memang layak jika Indonesia disebut sebagai Paradays para pendaki..

*Satu hal lagi yang Harus dan Wajib saya Informasikan kepada kalian yang telah membaca tulisan saya ini..

Tetap Jaga Kelestarian tempat anda berwisata, jagalah Kebersihannya dan hindari segala bentuk Vandalisme..

Jangan pernah ambil atau merusak apapun di tempat ini..

Biarkan semua tetap pada tempatnya, dan mati termakan usianya sendiri.

Jaga Indonesia dan Semesta ini untuk cucu kita nanti, agar kelak mereka juga bisa menikmati apa yang namanya Paradays of Indonesia itu..

IMG_20150215_102341

#SalamLestari

#Paradays4Blog

#G4D4Adventure

-FA-

Rinjaninya Sumatera Utara

1gg

Berikut penjelasan umum tentang salah satu surga para pendaki yang satu ini..

Gunung Sorik Marapi adalah sebuah gunung yang masuk dalam kawasan Taman Nasional Batang Gadis secara administratif berada di Desa Sibanggor Julu, Kecamatan Puncak Sorik Marapi, kabupaten Mandailing Natal – Sumatera Utara.

Sorik Marapi merupakan gunung berapi aktif yang berketinggian 2.145 meter. Koordinat puncak gunung adalah 0°41′ 11″ LS and 99° 32′ 13″ BT.

Di puncaknya terdapat sebuah Kawah/danau vulkanik. Gunung ini tercatat pernah meletus sebanyak tujuh kali.

Masing-masing pada tahun 1830, 1879, 1892, 1893, 1917, 1970, 1986 dan terakhir pada tahun 1987. Pada letusan terakhir, Sorik Marapi memuntahkan debu dan lahar panas yang mengalir sampai ke Kabupaten Pasaman di Sumatera Barat.

Gunung Sorik Marapi adalah salah satu gunung yang masuk dalam kategori aktif normal, Kategori A.. sedangkan Gunung Sinabung yang Saat ini telah beberapa kali Erupsi hanya dikategorikan B.

“Artinya tipe B, gunung api yang sejak tahun 1600 tidak dikenali letusannya. Bahwa di situ ada manifestasi sulfatara (belerang) dan fumarol (asap/uap air), karena gunung api tersebut aktif, dengan tipe B. Artinya gunung api itu dikategorikan tidak berbahaya,” ujar Surono.

Sedangkan gunung berapi tipe A, adalah gunung berapi yang pernah meletus sekurang-kurangnya satu kali sesudah tahun 1600..

Hiking  menuju puncak Sorik Marapi adalah bagaikan perjalanan menemukan Paradays (surga) di bumi dengan segala keindahannya.

Akan lebih beruntung lagi saat anda menjumpai Bunga Padma (Rafflesia Padma) disana..

Iya memang benar bunga ini sangat langka untuk dijumpai, bunga yang jika sedang mekar bisa mencapai diameter 1meter ini haya bisa ditemukan disepanjang lereng Gunung Sorik Marapi..

CIMG0301Bunga Raflesia Patma saat mekar dengan diameter 38 cm lingkar badan 70 cm

Gumpalan Awan putih yang pekat seperti menyatu dengan puncak Sorik Marapi. Awan – awan itu seolah menjadi penghalang bagi siapa saja yang ingin melihat puncaknya. Hanya jika matahari bersinar terik, barulah puncak terlihat dari kaki gunung. Itupun selalu ditingkahi kabut tipis. Untuk mengetahui bentuk puncak secara utuh, hanya dengan satu cara: ” BERDIRI DIATAS PUNCAKNYA.

Rasa sedikit penasaran saya pun timbul di tempat ini, Banyak fofo yang kami ambil di tempat ini hampir semuanya di selimuti dengan kabut yang tebal. Dan berbanding terbalik, kalau kami sedang tidak mengambil foto atau gambar , seketika tempat ini cerah begitu saja. Biarlah ini menjadi rahasianya sendiri.. Menyimpan Segala Rahasia SEMESTA
ekspedisi-sorik-marapi
Puncak, kabut dan gumpalan awan itu menjadi pesona sendiri bagi Gunung Sorik Marapi. Uniknya, Sebagai sebuah objek wisata, keberadaan Gunung Sorik  Marapi, terbilang tidak begitu populer. Bisa dihitung dengan jari berapa banyak pendaki yang datang setiap bulannya.
mungkin karena jarak dari Kota Medan yang jauh, merupakan salah satu penyebabnya.

Butuh waktu hingga 12 jam perjalanan dengan angkutan darat untuk menempuh jarak sepanjang 480 kilometer jarak dari Medan – Panyabungan, ibukota Kabupaten Mandailing Natal. Dari Panyabungan, harus menyambung dengan angkutan pedesaan menuju Desa Sibanggor Julu. Waktu tempuhnya sekitar 30 menit.

Desa Sibanggor Julu berada di lereng timur Gunung Sorik Marapi. Di desa inilah tempat terakhir bisa membeli perbekalan, mulai air mineral hingga biskuit. Titik awal pendakian dapat ditemui setelah melewati perumahan penduduk. Rumah – rumah panggung ini kental dengan tradisi lokal. Beratap ijuk dengan material dinding dan lantai dari kayu. Beberapa bagian rumah bahkan tidak menggunakan paku. Hanya belitan tali rotan sebagai perekat.

Seterusnya, setelah melewati barisan rumah tradisional itu, akan terlihat jalan setapak. Jalur itu melewati perkebunan coklat, karet, kopi dan tanaman keras lainnya milik penduduk. Titik awal pendakian itu adalah sebuah tanjakan ekstrim sekitar 75 derajat. Dengan stamina prima, setidaknya perlu 15 menit untuk melewati tanjakan ini. Tanjakan yang berada di ketinggian 1.100 meter dari permukaan laut ( mdpl ) ini merupakan tantangan pertama. Namun usai itu akan didapatkan shelter, tempat peristirahatan pertama. Posisinya persis di dinding bukit paling ujung. Jadinya, pandangan luas ke arah timur. Rumah – rumah penduduk tampak mengecil.

Tahapan perjalanan berikutnya relatif mudah. Walau jalanan terus menanjak, tetapi tidak terlalu menguras tenaga. Lantas akan terlihat perbukitan tandus. Awalnya tempat ini merupakan bukit belerang yang aktif. Beberapa penduduk mengatakan, sekitar tahun 1990 – an percikan api mengakibatkan terbakarnya kawasan ini. Maklum saja, belerang memang mudah terbakar. Ratusan hektar kawasan di sekitar bukit belerang ini berubah jadi tumpukan arang.

Setelah belasan tahun, kini tumbuhan baru mulai hadir. Namun entah mengapa sumber belerang yang ada di bukit ini justru berhenti berproduksi. Sisa – sisa semburannya yang sudah membatu seperti naik – turun gelombang air laut.

Bukit belerang ini, merupakan tempat peristirahatan kedua. Jika berangkat sangat pagi, sekitar jam enam atau jam setengah tujuh, maka di tempat ini sarapan sangat nikmat. Teh manis panas di dalam termos akan sangat membantu. Setiap teguk yang mengalir di tenggorokan, akan mengusir dingin di sekujur tubuh. Suhu yang mencapai 20 derajat celcius bisa jadi akan sangat menyiksa jika tubuh tidak terbiasa dengan suhu dingin menyengat.

TANAH LEMBAB
Dari bukit belerang tadi, pendakian akan terasa menguras tenaga. Pemandangan pun monoton, hanya dominasi pohon – pohon besar. Sesekali tanaman berduri menyabet wajah sebab berada persis di tengah lintasan pendakian. Karena relatif jarang dilewati, maka jalur pendakian seringkali harus ditebas ulang. Terkadang lintasan itu berbentuk terowongan dari pepohonan liar.

Tetapi, kemungkinan untuk tersesat sangat kecil. Ada kabel yang mengikuti alur pendakian. Kabel ini mengalirkan listrik untuk sebuah tonggak pemancar di puncak gunung. Memegang kabel ini tentu saja sangat tidak dianjurkan. Walau menurut warga belum memakan korban, namun harap diingat: selalu ada yang pertama untuk semuanya, termasuk tersengat listrik di lereng gunung.

Lintasan di sini umumnya tanah lembab. Hujan yang turun pada malam sebelumnya menyebabkan tanah berubah jadi lumpur saat diinjak. Kicauan burung murai batu ( Copsycus malabaricus ) yang biasa disebut piccala di sana, atau jejak binatang liar dapat ditemukan di sepanjang lintasan. Kawasan Gunung Sorik Marapi yang merupakan bagian dari Taman Nasional Batang Gadis, memang tempat habitat kambing hutan ( Naemorhedus sumatraensis ), tapir ( Tapirus indicus ), kucing hutan ( Catopumatem minckii ), kancil ( Tragulus javanicus ), binturong ( Arctitis binturong ), beruang madu ( Helarctos malayanus ), rusa ( Cervus unicolor ) dan kijang ( Muntiacus muntjac ) atau landak ( Hystix brachyura ). Kebanyakan pemburu yang berasal dari warga desa, hanya berhasil menembak burung. Sementara binatang buas lainnya, sudah jarang ditemukan.

Setelah melewati sekitar lima tempat peristirahatan, dengan waktu tempuh sekitar tiga jam lebih dari awal titik pendakian, kawasan puncak gunung mulai terlihat. Pohon – pohon perdu khas ketinggian berjejer di kiri dan kanan. Struktur tanah pun sudah berubah. Dari tanah lembab, berubah menjadi pasir. Kaki pun melangkah lebih ringan. Hingga akhirnya tiba di puncak pertama.

Jika telah sampai di sini, ada baiknya mengikuti tradisi masyarakat sekitar yang masih terjaga. Pendaki disarankan untuk melakukan adzan. Selain untuk memuji keagungan Sang Maha Pencipta, adzan ini merupakan upaya spritual agar dapat selamat hingga waktu turun nanti.

KAWAH SORIK MARAPI
Puncak pertama itu adalah hamparan tanah kering, tanpa kehidupan.. Dengan luas sekitar setengah lapangan bola. Kebanyakan pendaki berhenti sampai di sini karena di sinilah sajian utama Gunung Sorik Marapi berada, sebuah danau vulkanik dengan air Hijau – kebiruan. Inilah danau tertinggi di Sumatera Utara.

Danau ini menjadi pelepas lelah. Memandangnya dari tepian, seakan ada yang mengundang untuk terjun. Danau ini tidak ada namanya. Hanya disebut Danau Sorik Marapi. Airnya asam. Di sini semburan belerang masih kuat. Untuk turun ke danau, lumayan berbahaya. Jalurnya terjal, dan pijakan juga tanah pasir yang gampang runtuh. Bila tak awas, bisa terjun ke dasar danau yang dalamnya kira – kira 100 meter dari puncak pertama.

Tetapi dari atas saja, bisa dinikmati panoramanya. Dinding – dinding kawah danau terlihat menghitam, mencirikan kekokohannya. Membentuk Guratan2 yang pasti Saya Kagumi.. Sementara di beberapa sudut dinding, semburan asap solfatara perdengarkan suara menderu. Seringkali suaranya tidak terdengar karena tertimbun desau angin berkecepatan sekitar 40 kilometer per jam. Kadang angin seolah ingin membawa serta semua yang ada di puncak gunung untuk melayang bersamanya.

Berdiri berlama – lama di sini, akan membuat tubuh menggigil. Setidaknya butuh dua lapis jaket. Namun jika ingin mengambil visual danau dengan handycam maupun kamera, tantangan suhu dingin ini harus dihadapi. Kabut sering kali tidak bersahabat. Menutupi permukaan bahkan hingga keseluruhan danau. Makanya hampir tidak ada yang berhasil mengabadikan danau ini dengan utuh, tanpa sapuan kabut.

PUNCAK “SEJATI” SORIK MARAPI
Dari lokasi danau ini puncak kedua yang merupakan puncak sebenarnya bisa didapati dengan berjalan sekitar setengah jam lagi. Jalurnya sempit. Di kiri danau, di kanan jurang. Berjalan beriringan akan sangat berbahaya. Harus antri.

Sebuah tanjakan ekstrim berupa jalur batu podas yang hanya muat satu pijakan kaki, harus dilewati. Membawa barang akan berpengaruh pada kelenturan tubuh. Sebab itu, ada baiknya menitipkan ransel atau bawaan kepada teman, agar bisa melangkah dengan tenang.

Sementara puncak itu sendiri hanyalah sebuah tonggak batu putih setinggi satu meter. Di sana tertulis angka 2.100. Kemungkinan maksud awalnya untuk menjelaskan tinggi gunung, namun angka ini salah. Ketinggian Gunung Sorik Marapi sebenarnya 2.145 meter dari permukaan laut (mdpl).

Berdiri di atas tonggak batu putih itu, pandangan hanya lepas ke arah utara dan selatan. Pohon – pohon perdu menghalangi pandangan ke arah lain. Tapi tidak mengapa dari kedua arah tadi, gugusan Bukit Barisan akan menjadi kenangan untuk dibawa pulang. Tapi jangan terlalu lama di puncak, selain dingin menusuk tulang, kabut juga akan menjadi masalah jika pulang lebih dari jam lima sore. Perlu waktu sekitar tiga jam untuk mendaki, serta satu jam lebih untuk turun. Lewat dari jam lima, headlamp dan senter akan sangat dibutuhkan agar tidak terjerembab waktu turun..

Paradays of marapi
Kicauan burung terdengar di dalam Hutan
Menandakan adanya hari yang baru akan datang
Indahnya alam ini membuat kami Terpaku 
Perjalanan kami ini pun terasa Haru. 
 
Kupejamkan Mata Sejenak Saat Tiba di Puncak 
Ku rentangkan Tanganku Sejenak dan Berteriak Sekuat Tenaga
Sejuk, Tenang, Senang kurasakan saat tiba di puncak ini 
Membuat ku seperti melayang kegirangan.
 
Wahai engkau pencipta Alam ini
Kekagumanku sulit untuk dipendam 
Dari siang hari hinga malam tiba 
Pesona mu tidak pernah Padam
 
Hembusan angin yg berirama di puncak Pegunungan 
Membuat tumbuh~tumbuhan seperti menari-nari 
Begitu indah melihatnya. 
Seperti berada di taman surga. 
 
 Sorik Merapi, keindahanmu terasa sempurna
 Kawah vulkanik berwarna hijaumu 
 Membuat semua orang terpana… 
 Membuat semua orang terkesima… 
Terima Kasih Tuhan..
Terima Kasih Semesta..
Terima Kasih Paradays Indonesia..
Terima Kasih  Medan, Terima Kasih Sumatera Utara..
Terima Kasih Sorik Marapi, Kau suguhkan perjalanan menikmati surga Indonesia..
Tetaplah Diam dalam Tenang dan Sunyimu yang Agung, yang membuatku selalu rindu Puncak dan Kabut Mistismu..

*Satu hal lagi yang Harus dan Wajib saya Informasikan kepada kalian yang telah membaca tulisan saya ini..

Tetap Jaga Kelestarian tempat anda berwisata, jagalah Kebersihannya dan hindari segala bentuk Vandalisme..

Jangan pernah ambil atau merusak apapun di tempat ini..

Biarkan semua tetap pada tempatnya, dan mati termakan usianya sendiri.

Jaga Indonesia dan Semesta ini untuk cucu kita nanti, agar kelak mereka juga bisa menikmati apa yang namanya Paradays of Indonesia itu..

<span data-sociabuzz-verification=”6438ad85″ style=”display: none;”></span>

IMG_20150215_102341

#SalamLestari

#Paradays4Blog

#G4D4Adventure

-FA-

 

Tips Memilih Carrier untuk Mendaki

Bismillahirrahmanirrahim…

<span data-sociabuzz-verification=”7aac3690″ style=”display: none;”></span>

 

IMG-20140908-WA0012 Dalam sebuah kegiatan perjalanan petualangan, ransel merupakan salah satu unsur yang penting untuk diperhatikan, karena dengan ransel tersebut seluruh perlengkapan yang akan anda pergunakan akan anda bawa. Oleh karenanya sebuah ransel haruslah nyaman untuk anda pakai, dan dapat secara efisien menampung segala kebutuhan atau perlengkapan yang anda butuhkan selama berkegiatan.

Kapasitas Ransel
Pilih ukuran ransel sesuai kebutuhan anda. Ransel untuk perjalanan sehari tentu berbeda ukurannya ketika anda akan melakukan perjalanan panjang yang memakan waktu hingga beberapa hari. Lokasi dimana kegiatan akan dilakukan juga sangat mempengaruhi pertimbangan dalam hal memilih jenis ransel yang akan anda pergunakan.
Untuk perjalanan singkat satu hari ke hutan atau gunung, ransel berukuran 30-40 liter cukup memadai sebagai tempat untuk membawa perlengkapan anda yang terbatas seperti kamera, tabir surya, makanan dan perlengkapan lainnya.
Untuk pendakian atau perjalanan yang mengharuskan anda menginap satu malam, ukuran 50-55 liter akan lebih baik, karena anda harus membawa perlengkapan yang lebih banyak.
Sedang untuk perjalanan panjang yang memakan waktu berhari-hari ukuran 65-70 liter merupakan ukuran yang cocok agar perlengkapan yang akan anda bawa seperti tenda, alat masak, makanan, dan pakaian dapat masuk ke dalamnya.
Kenyamanan merupakan urutan terpenting dibanding kekuatan, kualitas, dan harga. Pilih bahan yang tahan air, kalau perlu lengkapi dengan penutup ransel. Jangan lupa membungkus perlengkapan/pakaian dengan bahan yang tidak tembus air. Perhatikan pula detil-detil di bawah ini ketika anda memilih dan mencari ransel yang nyaman dan cocok dengan selera serta kebutuhan anda:

Tali Pinggang
Tali pinggang merupakan komponen penting yang akan menentukan tingkat kenyamanan anda saat menggendong ransel, karena sebagian besar berat ransel tersebut akan ditopang oleh tali pinggang yang jatuh tepat pada posisi tonjolan tulang pinggang. Pilih ransel yang mempunyai tali pinggang dengan bantalan empuk dan tidak gampang turun dari pinggang, karena pingganglah yang akan menahan beban lebih banyak dibanding bahu.

Tali Penyeimbang Samping
Tali penyeimbang samping berfungsi untuk mengatur tegangan antara tali pinggang dan punggung ransel saat anda menggendongnya. Fungsi lain adalah untuk mengatur kestabilannya saat anda berjalan.

Tali Bahu
Bantalan bahu harus empuk dan terdapat webbing pengatur yang dihubungkan dengan bagian atas ransel. Bantalan bahu tersebut juga idealnya berbentuk kurva melengkung agar kenyamanan dan posisi jatuh di bahu juga enak, terutama untuk wanita. Bahan bantalan bahu juga harus lembut di kulit maupun pakaian anda.

Tali Pengatur Atas
Kecenderungan alami sebuah ransel yang berisi adalah akan menggelantung ke belakang, sehingga anda akan selalu melawan kecenderungan itu dengan membungkukkan badan anda ke depan. Untuk membuat nyaman sebuah ransel, maka harus mempunyai ikatan pengatur tambahan di antara badan ransel dan puncak bantalan bahu yang berfungsi untuk mendekatkan ransel itu dengan punggung pembawa sehingga ransel akan tetap tegak di punggung pembawa. Penggunaan pengatur atas ini juga bermanfaat untuk membantu menyebarkan titik beban antara puncak bahu dan tulang leher.

Tali Dada
Tali dada selian berfungsi untuk menahan bantalan bahu agar tetap di tempatnya, dan juga membantu sebagai penyeimbang ransel.

Pengatur Panjang Punggung
Pada umumnya hampir semua ransel dapat diatur panjang punggung ransel sesuai dengan panjang punggung pemakai, dengan cara menaikturunkan pengatur yang terbuat dari aluminum, plastik atau webbing.

Bantalan Punggung
Bantalan pungung adalah titik utama sentuhan antara ransel dan punggung anda, oleh karenanya harus nyaman dan mudah untuk diatur. Pilih yang mempunyai mempunyai bantalan di lumbar dan scapula. Bantalan punggung ini juga harus mempunyai rongga udara di bagian punggung. Bahan bantalan punggung ini juga harus cepat kering dan memberi ruang untuk sirkulasi udara.
Ruang Utama
Ruang utama ini merupakan tempat anda menaruh tenda, pakaian, dan bahan makanan anda. Aturlah agar benda terberat yang anda bawa dekat dengan punggung. Beberapa ransel menggunakan bahan anti air.
Ruang Dasar
Ketika ransel anda dibagi menjadi dua ruang, pemisah ruang tersebut bisa saja tetap atau dapat di buka. Namun yang jelas masing-masing akan mempunyai pintu tersendiri. Ruang bawah itu biasanya untuk menempatkan barang yang ringan tetapi mempunyai volume yang besar misalnya kantong tidur.

Kantung Samping
Tidak setiap ransel dilengkapi dengan kantong samping. Adapula yang kantong sampingnya merupakan tambahan dan dapat dibongkar pasang. Untuk kegiatan panjat tebing atau naik gunung yang berlereng terjal, ransel tanpa kantong samping merupakan pilihan yang terbaik. Namun saat anda pergi trekking di gunung atau hutan dan membutuhkan tempat untuk pernak-pernik anda seperti botol air minum, atau botol bahan bakar, kantong samping akan sangat bermanfaat.

Lid
Sebagian besar ransel juga dilengkapi dengan penutup ruang utama yang dapat berfungsi pula sebagai penambah ruang isi ransel, di mana di bagian atasnya dilengkapi pula dengan tali pengikat yang dihubungkan dengan gesper di bagian belakang ransel.

Kantong Atas
Kantong atas merupakan tempat terbaik untuk menyimpan beberapa perlengkapan yang paling sering digunakan, seperti kaos tangan, makanan kecil, topi dan lain-lain.

Rangka Dalam
Tidak seperti rangka luar, rangka dalam sebuah ransel mempunyai fungsi yang lebih baik karena lebih ramping dan makin mendekatkan ransel tersebut dengan punggung pemakai sehingga memperbaiki kestabilan dan kenyamanan. Pada umumnya rangka dalam ini dibuat dengan alumunium ataupun lembaran plastik yang ringan.

Fitur Lain
Dengan punggungan yang dapat diatur, tak hanya anda yang dapat menggunakan ransel tersebut, tetapi juga anggota keluarga atau teman-teman anda. Di samping itu, anda tetap dapat memendekkan punggungan itu tanpa merubah kapasitas ransel. Hanya saja pada punggungan yang bisa disetel biasanya mempunyai berat yang lebih dibanding ransel-ransel yang mempunyai punggungan yang tetap. Pengikat tambahan yang menempel di luar ransel, dapat berfungsi untuk berbagai keperluan, seperti untuk menaruh matras atau perlengkapan lainnya yang dibutuhkan.

Saat ini saya akan berbagi review tentang Tas Carrier Consina Alpinist 70+5 yang saya beli di CONSINA Jl. Kawi 39 – A1 Malang. Untuk kantong yang pas-pasan Carrier ini menjadi pilihan yg cocok dikarenakan harganya cukup bersahabat, apalagi untuk saya yang hanya tour guide. Dengan budget sebesar Rp 575.000 anda sudah bisa membawa Carrier 70+5 L yang harganya sangat terjangkau.

Saya sempat bingung waktu membeli Carrier apakah merk Consina, Avt**h, atau Ei**r atau bahkan R*i karena harganya tidak beda jauh dan sama-sama produk lokal. Meski juga merk Asing TheNorthF**e, D**ter sempat menghantui Dan akhirnya sayapun jatuh hati ke Carrier Consina Alpinist 70+5 ini dikarenakan memiliki,
– Sistem Bagian Belakang yang dapat disesuaikan dan nyaman pada tulang punggung
– 2 buah kompartemen utama
– 2 Buah kantong samping bertautan
– 2 buah tali pengikat yang dapat disesuaikan
– Bagian atas tas dapat disesuaikan sehingga nyaman untuk pergerakan kepala
– Lapisan cincin penutup bagian atas
– Kantong dalam pada bagian atas tas
– Dua buah bunga Rantai
– Tali kompartemen berkompresi rendah
– Tempat untuk menggantungkan Trekking Pool
– Gear putar pada tali Pinggang
– Loops gigi pada Hipbelt

Setelah membahas Keril, mari sekarang kita bahas apa saja isi (paling gede) di dalamnya..

Tenda Consina Magnum 4

IMG_20140808_060729

Tenda dengan model Geodesic Dome ini terbilang cukup nyaman, di bagi menjadi dua bagian, outer dan inner. Bagian luar tenda terbuat dari bahan polyster yang cukup untuk menahan tetesan air hujan apabila pasak di pasang secara benar, memiliki lubang ventilasi dengan penutup di bagian atasnya. Pintu yang dapat digulung dan menyisakan vestibule dengan panjang sekitar 80 cm cukup untuk masak masak ketika cuaca sedang tidak memungkinkan, frame fiber juga di kaitkan pada bagian ini. Inner tenda terbuat dari polyster breathtable dengan dua kantung di setiap sisi kanan dan kiri dekat pintu, ventilasi pada pintu dan pintu yang dapat di gulung ke samping, pada bagian atasnya juga terdapat tali pendek untuk menggantungkan lighting dalam tenda. Floor atau bagian bawah tenda terbuat dari terpal cukup untuk menahan rembesan air tetapi hari dilapisi alas agar tidak dingin. Bagian inner ini dipasang dengan cara menyangkutkan berberapa kaitan dengan outter tenda bagian dalam.

IMG_20140810_102031Sistem ini sangat berguna ketika pemasangan dikala hari hujan, karena kita dapat memasang bagian luar terlebih dahulu kemudian bagian dalam ketika sudah terlindung dari guyuran air hujan. Sehingga bagian dalam tidak basah dan tetep nyaman untuk disinggahi.

Tenda ini sangat nyaman dipakai ke medan dingin dan berangin karena rapat dan tidak terlalu pengap jika didalamnya, tetapi akan sangat panas jika dipakai di medan panas seperti pantai karena hanya ada satu jendela di atasnya..

Namun dari segi berat sekitar 3 kg, lumayan pas untuk tenda dengan frame fiber, harga yang terjangkau dan fitur yang memadahi juga menjadi daya tarik tenda keluaran consina yang satu ini.

DSC_3547

Tentang daya tahan dari hujan ataupun badai, pada dasarnya tenda yang punya dua bagian (inner dan outter) akan aman dari basah hujan maupun embun atau kondensasi. Jadi tenda jenis ini tidak terlalu memerlukan flysheet tambahan diatasnya. Prinsipnya jangan sampai bagian luar (outter) tenda menempel pada bagian dalamnya (inner). Beri jarak yang cukup misalnya lima jari atau sejengkal, agar kondensasi bagian luar yang pasti akan basah, tidak mengenai bagian dalam. Caranya? Cukup dengan bagian tengah sisi tenda luar di pasak sehingga sisi tenda tersebut tegang dan tidak mengenai inner tenda. Untuk memperkuat struktur dan daya tahan dari badai, tali pada sudut tenda bagian tengah dan ujung bagian bawah di pasak juga. Hal ini dapat menahan tenda dari hempasan angin dan juga memperkuat frame tenda sehingga tidak mudah patah di hempas badai.

Tali dibawah pada pintu bagian luar tenda berguna agar jarak bukaan pintu tetep terjaga. Tetapi terkadang membuat ribet. Kadang kadang tali ini nyerimpetin kaki, apalagi kondisi gelap dan orangnya tidak hati-hati. sebenarnya mudah mengatasi ini dengan lebih hati-hati ketika keluar masuk. Atau, tali webbing ini sedikit di benamkan ke tanah atau di pasak ketanah agar rata dan tidak mudah nyirempetin.

P1100233

Entah sudah berapa puluh kali Carrier Consina Alpinist 70+5 ini menemaniku mendaki, entah sudah berapa ratus orang yg sempat berbaring dan meninggalkan liurnya di Matras dan Tenda Consina Magnum 4 milikku..

Masih banyak Produk yang Kami percayakan pada Consina..
IMG_20150209_162025P1050514IMG_20141013_083031
Karen sesungguhnya hal ini kembali ke pilihan dan selera, tak ada paksaan untuk memilih produk dalam dan produk luar. dan juga jangan dipahami bahwa tulisan ini tak condong ke produk luar sama sekali. Saya percaya bahwa produk indonesia mampu bersaing dengan produk luar, namun di beberapa segi produk luar memang memiliki keunggulan dan itu memang harus benar-benar kita akui. Selamat memilih produk, jangan terpaku merk, terpakulah pada kualitas dan kenyamanan. Dan satu point lagi kawan-kawan Kami sudah membuktikannya. Bahkan bukan tidak mungkin kalian akan merubah kiblat peralatan outdoor kalian setelah membaca beberapa review dari kami #G4D4Adventure
Hehehehehe… 😀
#SalamLestari

<span data-sociabuzz-verification=”6438ad85″ style=”display: none;”></span>

Cara Mengantisipasi dan Menghadapi Dingin di Gunung

Banyak teman yang bilang, saya ini tipe pendaki belagu. Naik gunung selalu hanya menggunakan pakaian seperlunya, dan tak pernah menggunakan sleeping bag pula ketika waktu istirahat tiba, padahal dinginnya naudzubillah.

Kalau boleh jujur, seharusnya bukan belagu, sih. Lebih tepatnya memang gak punya, masak mau maksa bawa juga.

Kenapa gak pinjam teman?

Boleh sih, tapi… “Tuker pinjem sama keril luh, ya,” katanya.

Lah! Terus saya pake apa? Karung?

Meminjam suatu barang kepada teman itu bisa dibilang susah-susah gampang. Contohnya, ya itu tadi. Karena itulah, saya putuskan untuk membeli sleeping bag juga pada akhirnya.

Sleeping bag merek ” AR****** “sudah di tangan. Yang bisa dilakukan berikutnya tentu saja, Packing. Karena keril telah siap. Masukkan sleeping bag yang baru dibeli ke kompartemen bawah. Kamera dan kroni-kroninya di kompartemen atas. Rapikan resleting. Selesai.

Lalu, pakaian, jaket, peralatan hiking, logistik, dan lain-lain, ditaruh di mana?

Oh, iya ya…

Masalah baru, muncul. Saya tidak memperhitungkan ukuran sleeping bag yang begitu banyak memakan tempat. Akhirnya, terpaksalah bongkar kembali kompartemen bawah, karena kompartemen atas sudah tidak mungkin diutak-atik lagi. Penuh terisi peralatan dokumentasi.

Bertahun sudah, saya menganut paham light hiking, karenanya ukuran keril saya pun relatif kecil—34 liter. Karenanya pula, saat musim pendakian tiba, saya harus pandai-pandai memilih antara barang-barang mana saja yang harus dibawa, dan barang-barang mana pula yang bisa dititipkan ke teman-teman lain. #eaa

Sleeping bag saya keluarkan dari kompartemen bawah. Satu per satu pakaian dan aksesoris seperlunya saya masukkan ke dalam keril, hingga kompartemen bawah terpadati. Rapikan resleting, dan packing pun selesai (lagi).

Tapi sekarang, masalah berganti. Sleeping bag saya tidak bisa dimasukkan.

Akhirnya, daripada bongkar-bongkar lagi, saya putuskan sleeping bag ini disimpan di lemari saja. Masalah selesai. Sebagai alternatifnya, saya pinjam kembali sleeping bag milik seorang teman—yang berukuran lebih kecil. Untungnya boleh, “Tapi, tuker pinjem sama keril luh, ya?”

Lah! Dia lagi.

***

Dari intro di atas, kelihatan ya, saya punya sleeping bag dan jaket gunung, yang, walaupun gak sophisticated- sophisticated amat, tapi cukup hangat. Masalah saya hanya terletak pada kemalasan membawa peralatan mendaki gunung yang memakan banyak ruang keril—dalam kasus saya, sleeping bag.

Sejak pertama kali dibeli, hingga saat ini, sang sleeping bag tak pernah terpakai sama sekali. Setelah bertahun-tahun, mungkin sekarang ia telah berubah menjadi sebuah benda pusaka yang terlalu keramat untuk sekedar dibawa ke mana-mana. Ia hanya boleh keluar pada saat terpaksa. Dalam artian, abang butuh uang, barang melayang.

Pertanyaannya: Kenapa sejauh ini, hanya sleeping bag saja yang saya titik beratkan?

Karena, sejauh dan selama apapun kita mendaki, sleeping bag jelas memegang peranan yang amat vital saat kita istirahat menutup hari—selain tenda dan pakaian hangat lain tentunya.

Saat ritual mendaki gunung, “Hope for the best, plan for the worst,” adalah salah satu prinsip yang selalu saya pegang. Berkaitan dengan suhu dingin, “Plan for the worst” saya adalah dengan mempersiapkan diri, menanam mindset ‘Tarzan’—mampu bertahan hidup di dinginnya hutan walau hampir telanjang—bahkan jauh hari sebelum ritual pendakian dilaksanakan.

Tujuannya, agar otak dan tubuh saya dapat menerima kondisi dingin gunung, seperti halnya saat saya berada di rumah. Di gunung, tapi feels like home. Dan mindset Tarzan inilah yang nantinya akan saya jadikan sleeping bag pengganti.

Lalu, bagaimanakah cara saya mencapai target tersebut? Ini dia langkah-langkahnya:

 

Memulai sejak dari rumah

Kata orang, “Pendidikan dimulai dari rumah.” Karenanya, saya pun memulai ‘pendidikan’ ini dari rumah. Alat-alat yang dibutuhkan cukup sederhana, dan selalu tersedia di rumah, jadi tak perlu lagi keluar uang. Cuma butuh sedikit kreatif. Dan, alat-alat itu adalah:

  • Kipas angin. Untuk simulasi angin gunung, sekaligus sedikit menurunkan suhu ruangan (kamar tidur). Kipas angin diatur pada putaran tertinggi.
  • Tikar. Untuk alas tidur, dari pinggang ke atas. Pinggang ke bawah, biarkan saja menyentuh lantai.
  • Ubin (kosakata klasik untuk lantai). Pada malam hari, lantai rumah akan menjadi dingin, sehingga cocok untuk mensimulasikan suhu dingin gunung, yang biasanya merambat dari telapak kaki.

Bagaimana cara menggunakannya? Ya, tidur saja menggunakan ketiganya setiap malam menjelang. Gampang kan? Lebih bagus lagi, kalau ada exhaust fan, atau pendingin ruangan (AC), sehingga simulasi aklimatisasi yang kita lakukan menjadi lebih optimal.

Di sini, saya sengaja tidak menyalakan pendingin ruangan. Karena apa? Karena saya gak punya. Sebagai solusi alternatifnya, saya biasa ‘memanfaatkan’ AC kantor, mall, teman, tetangga, dan lain sebagainya. Jadi, di manapun ada kesempatan (AC), di situlah waktunya latihan.

Pada titik ini hingga selesai masa pendakian nanti, sejatinya saya sedang merekayasa otak agar bisa menerima ‘standar’ baru, yaitu suhu dingin. Karena itulah, sensasi dinginnya harus dinikmati dan tidak boleh dilawan. Sebab kalau tidak, hasil akhirnya akan sama saja seperti tidak melakukan latihan ini.

Mindset, saya kondisikan untuk bisa menerima hawa dingin ini sebagai suatu hal yang biasa, sebagaimana saya terbiasa dengan suhu kota.

Kombinasi lain yang bisa dilakukan adalah mandi pada waktu-waktu, di mana suhu air bak mandi telah menjadi lebih dingin—biasanya antara pukul 01.00-04.00 pagi. Kadang saya tambahkan dengan tidur bertelanjang dada. Sebenarnya, sekalian ronda, lumayan juga, selain keamanan kampung terjaga, saya juga bisa dapat pahala. Tapi tidak saya lakukan, kampung saya agak seram, bekas gusuran kuburan, takut jumpa mbak kunti atau mas genderuwo.

 

Dalam perjalanan

Perjalanan ke luar kota biasanya membutuhkan waktu selama berjam-jam. Lamanya waktu tempuh ini, seringkali saya manfaatkan untuk mensimulasi aklimatisasi—dengan memanfaatkan sumber dingin yang banyak tersedia, entah itu dari alam (Angin Cuek), maupun buatan (Air Conditioner). Tentu saja, biaya yang dikeluarkan untuk menikmati masing-masing tipe ini berbeda-beda. Di mana tipe pertama lebih murah, sementara tipe kedua lebih mahal.

Agar hasilnya lebih optimal, bila memungkinkan, saya akan memilih kendaraan yang memiliki jenis AC kedua—Air Conditioner. Karena, selain besar-kecil debit udara dinginnya bisa kita atur sendiri (kecuali kendaraan dengan AC sentral), kendaraan umum berfasilitas AC, normalnya akan melarang siapa saja merokok di dalam kabin kendaraan tersebut – walaupun tidak selalu begitu pada kenyataannya. Pelanggarnya biasanya hanya orang-orang bodoh ignorance yang kampungan, yang senangnya mengambil hak orang lain secara dzalim. #CurhatColongan

Supaya rekayasa aklimatisasi ini berjalan dengan mulus, saya mengatur debit dingin AC secara gradual, hingga ke titik yang sedikit lebih dingin (tidak nyaman) ketimbang yang bisa diterima tubuh saya.

Maksudnya bagaimana?

Begini, diasumsikan, batas nyaman temperatur yang bisa diterima tubuh saya adalah pada suhu 21 derajat celcius. Maka, berkaitan dengan kasus ini, saya akan menurunkan temperatur AC-nya ke level 20 atau 19 derajat celcius. Pada kondisi di mana, tubuh saya menjadi sedikit tidak nyaman.

Pada transportasi umum, tentu sulit untuk mengetahui derajat celciusnya, apalagi kalau jenis AC-nya adalah AC sentral, di mana semua pengaturan dilakukan dari kontrol panel pengemudi. Kalau kasusnya seperti ini, cara mengakalinya, ya, tinggal bermain ‘rasa’ saja, dengan pakai-lepas jaket sebagai alternatif pengontrol suhunya.

 

Saat pendakian

Tidak semua kaki gunung bersuhu dingin, contohnya seperti Gunung Tujuh, di Jambi, dan Gunung Rinjani, di Lombok. Namun demikian, tak sedikit juga yang suhu dinginnya sudah terasa sejak kita berada di kaki-kaki mereka, seperti misalnya Gunung Semeru, di Malang – Lumajang dan Gunung Gede di Bogor.

???????????????????????????????

IMG_20140910_005509

IMG_20140910_005324

Dari yang saya perhatikan, beberapa orang akan langsung menggunakan pakaian hangat (jaket, sweater, kupluk, dan lain sebagainya), begitu mereka tiba di lokasi pertama (pos registrasi) pendakian. Alasan terbesarnya, tentu karena dingin.

Apa yang mereka lakukan tidak salah, itu sudah menjadi naluri alamiah, saya pun kadang melakukannya. Tapi, khusus untuk perjalanan mendaki gunung, naluri tersebut sering saya kesampingkan, terutama untuk gunung-gunung yang memang terkenal dingin.

Kebiasaan saya adalah menghindari langsung menggunakan pakaian hangat. Tujuannya untuk mengeskalasi tahap simulasi aklimatisasi yang sebelumnya telah saya lakukan, ke level aklimatisasi sesungguhnya. Dengan peralihan bertahap dan halus seperti ini, hasil akhir yang diharapkan tentu saja peningkatan daya tahan tubuh saya terhadap suhu dingin gunung yang akan didaki.

Alasan lain menghindari penggunaan jaket selama proses pendakian—menuju basecamp/camp site—adalah, mengurangi pembakaran kalori secara berlebih, yang karenanya pula dapat menghemat tenaga. Beban (keril dan seisinya) yang dibawa saat mendaki gunung, ditambah jarak tempuh yang relatif jauh, saya anggap cukup untuk menghangatkan tubuh. Dan tak lupa, banyak minum untuk menjaga agar tubuh tidak dehidrasi.

 

Di basecamp/camp site

Aktifitas gerak di basecamp/camp site/ camping ground—setelah mendirikan tenda—biasanya tidak terlalu banyak. Paling banter, mengambil air ke sumber air. Itu pun, kalau sumber airnya terletak cukup jauh.

Tidak banyak gerak sama artinya dengan penghematan kalori. Sayangnya, penghematan kalori ini juga berdampak pada suhu tubuh yang semakin menurun. Bila sudah begini, sumber ‘penghangat’ tubuh internal satu-satunya yang tersisa hanyalah mindset Tarzan seorang.

Namun untuk bisa memanfaatkannya dengan kekuatan penuh, tubuh saya haruslah fit 100 persen. Karena, berdasarkan pengalaman, tubuh yang tidak fit membuat pikiran saya sulit untuk berkonsentrasi, sehingga mengakibatkan fokus otak terbagi-bagi, antara ‘memperhatikan’ bagian tubuh yang sakit, atau pencapaian mindset Tarzan tadi.

Dalam takaran ringan, tubuh yang tidak fit bisa mencaplok porsi konsentrasi yang cukup besar—antara 25-50 persen. Bila kondisinya seperti ini, saya pilih untuk segera menggunakan pakaian hangat, dan berlama-lama di tenda, karena olah mindset yang saya lakukan, seberapapun kerasnya, hanya akan berujung pada sia-sia.

Apalagi, bila kondisi tidak fit (kondisi yang mengindikasikan gejala akan jatuh sakit) ini diperparah dengan datangnya sakit betulan, seperti meriang, flu, sakit kepala, dan lain-lain. Maka, dijamin 100 persen, mindset Tarzan tidak lagi bisa saya gunakan. Dengan kata lain, olahraga pikiran ini akan gagal bila salah satu dari ketiga penyebab di bawah ini terjadi:

  • Kondisi tubuh yang tidak fit/drop atau sakit
  • Terlalu lelah, sehingga kesadaran berangsur menurun
  • Kegiatan fisik sama dengan nol, atau tidak ada sama sekali. Seperti pada saat mengantuk atau istirahat tidur malam sampai dengan 1 jam setelah bangun pagi di keesokan hari.

 

Tips

Sedikit tips dari saya berkaitan dengan pakaian hangat, khususnya kaus kaki dan sarung tangan. Usahakan tidak berlebihan memakai keduanya, terutama saat tidur di malam hari. Karena, lapisan kaus kaki dan sarung tangan yang terlalu tebal dapat mengganggu peredaran darah.

Selain dapat menyebabkan kram, aliran darah yang terganggu dapat membuat bagian telapak kaki dan tangan lebih cepat merasa dingin, karena suhu hangat dari bagian tubuh lain, yang seharusnya mengalir melalui darah, tidak terdistribusikan dengan baik ke bagian-bagian tersebut.

***

Bila kalian memperhatikan artikel ini sejak awal, tentu kalian tahu, kan, di mana letak ‘kekuatan’ saya dalam menghadapi dingin saat mendaki gunung? Ya. Pengaturan mindset adalah senjata utama saya. Saya lebih senang menitik beratkan pada optimalisasi kemampuan internal, ketimbang bergantung pada faktor eksternal. “If you can dream it, you can achieve it,” kata Criss Angel.

Yang terakhir dan tak kalah penting—selama proses persiapan sampai dengan kegiatan pendakian selesai—adalah, mengutamakan istirahat yang berkualitas dan cukup. Mana enak mendaki gunung dalam keadaan sakit, ya kan?

 

CATATAN:

  • Persiapan mengatasi dingin ini, biasa saya lakukan mulai H-30, H-7, atau H-3. Semakin jauh rentang waktunya, tentu akan semakin baik hasil akhirnya.
  • Semua proses ini lebih mudah dilakukan dalam keadaan fit. Sebab kalau tidak, tubuh akan mudah terpapar sakit, seperti masuk angin, gangguan pencernaan, pusing, dan lain sebagainya.
  • Cara saya menghadapi dingin saat mendaki gunung ini adalah berdasarkan pengalaman pribadi dan hanya berlaku sebagai hiburan dan informasi. Saya sangat tidak menyarankan kalian untuk mencobanya. Karena apa? Ya, capek aja. Hehe. Salam.

Kelemahan Para Pendaki

Kelemahan pendaki gunung ini yang terjadi bagi kebanyakan pendaki gunung, dan memang tidak semua pendaki gunung. Ada juga yang kuat berprinsip mendaki gunung selain hobby juga karena demi alam yang disambanginya. Tentang kelemahan ini adalah yang terjadi di gunung sejauh ini. Jadi kami tidak memvonis semata tanpa bukti dan kenyataan, tetapi memang inilah yang terjadi, masih lemahnya para pendaki gunung dalam berwawasan alam dan lingkungan.

Siapa yang punya andil besar mencemarkan sejumlah gunung? Jawabannya jelas pendaki sendiri. Bukankah yang biasa melakukan kegiatan mendaki gunung itu pendaki. Jadi rasanya tak etis menuding pihak lain atau mengarahkan jari telunjuk ke wajah lain. Kebiasaan mencemarkan gunung itu adalah satu dari kekurangan yang diperbuat pendaki gunung.

P1110636

 P1100266

Pencemaran sejumlah gunung populer bukan hanya terjadi di Tanah Air. Sejumlah gunung di mancanegara dengan tingkat pendakian tinggi, termasuk Everest pun tak luput dari sampah. Bahkan atap dunia itu pernah mendapat julukan sebagai tempat sampah tertinggi di bumi. Mulai dari sampah bekas tabung gas, peralatan pendakian dan kemah, kotoran pendaki sampai mayat pendaki yang tewas. Tapi tidak semua gunung populer yang tercemar. Buktinya ada beberapa gunung di negara lain yang setiap tahun didaki oleh ribuan pendaki, ternyata tetap bersih dan asri, bebas sampah.

Ini membuktikan bahwa gunung bisa terbebas sampah meski jalurnya gemuk ( padat ) pendaki asal setiap pendakinya mengindahkan nilai – nilai konservasi yakni mematuhi aturan bahwa gunung bukanlah tempat sampah. Caranya dengan menurunkan kembali sampah sendiri yang dibawa selama pendakian. Bila ternyata dilanggar, rasanya dia termasuk dalam barisan pendaki yang tercela.

Kelemahan yang dibuat oleh pendaki – pendaki gunung tak bertanggungjawab:

1. ANDIL MENCEMARI LINGKUNGAN GUNUNG

Melakukan berbagai bentuk pencemaran di gunung selama pendakian seperti membuang sampah ( tidak membawa turun sampah yang dibawanya ), mengotori sumber mata air, dan atau membawa barang / zat yang mencemarkan bumi, air, dan udara dalam jangka lama.

2. IKUT MERUSAK KEASRIAN GUNUNG

IMG_0485 aW1hZ2VzL3Nma19waG90b3Mvc2ZrX3Bob3Rvc18xMzYwNjU1MjM5X25YZnBNczlHLmpwZw== masyarakat_dan_hutan_1_-_herman_g._anugrah

Melakukan bermacam pengrusakan seperti mencorat – coret batu, batang pohon, pos shelter ( vandalisme ), menebang pohon tanpa batas, mengambil flora dan fauna langka dan khas gunung setempat, bertindak sembrono hingga mengakibatkan kebakaran hutan, savana dll seperti membuang puntung rokok yang masih menyala sembarangan, dan lalai mematikan dengan seksama bekas api unggun atau memasak.

3. MEMBAWA ‘SAMPAH’ PRIBADI

sampah

Mengikut sertakan perilaku negatif dari tempat asal / kota ke gunung seperti membawa minuman keras dan meminumnya hingga lupa diri, mengenakan pakaian yang kurang sopan hingga jadi pusat perhatian dan omongan, bergaya ke kota – kotaan, angkuh, individualitis, dan sok pamer hingga secara tidak langsung mencemari dan merusak budaya penduduk di kaki gunung setempat.

4. EKSPEDISI TIDAK RAMAH LINGKUNGAN

Melakukan ekspedisi seperti membuat jalur pendakian baru tanpa mengindahkan nilai – nilai konservasi. Semata hanya mencari sensasi, prestasi, dan atau keuntungan pribadi. Seenaknya membabat hutan, kemudian mengajak pendaki – pendaki baru untuk menggunakan jalur tersebut lalu mengkomersialkannya.

5. MENGADAKAN PENDAKIAN MASSAL NON KONSERVATIF

Membuat pendakian dengan peserta dalam jumlah besar tanpa berkonsep konservatif. Justru hanya memindahkan sampah pribadi dan kelompok ke gunung hingga kian memparah pencemaran dan pengrusakan gunung.

6. MEMBERIKAN DATA YANG KELIRU

Memberikan informasi yang salah mengenai sejarah, karakter gunung, dan hasil pencatatan perubahan terbaru baik ketinggian puncak gunung dan lainnya.

7. BERSIKAP MASA BODOH

Tidak menghargai adat istiadat maupun kearifan lokal, aturan tidak tertulis atau tabu penduduk setempat dalam menjaga keasrian alam gunung. Masa bodoh melihat pendaki melakukan pencemaran dan mendiamkannya.

8. PASIF

Berdiam diri, tidak peduli soal pencemaran dan pengrusakan yang dilakukan oleh pendaki. Menganggap masalah tersebut adalah urusan LSM lingkungan, penjaga taman nasional, porter, dan lainnya. Padahal pendaki yang punya andil besar terjadinya persoalan tersebut.

???????????????????????????????

9. MENCARI KEUNTUNGAN SEMATA

Hanya mencari keuntungan dari kegiatan mengorganisir pendakian atau hanya sekadar mendapatkan kenikmatan mendaki ( mountain climbing just for fun ), tanpa melakukan dan atau berperan aktif mensosialisasikan pendakian bernilai konservasi.

10. TIDAK MEWARISI PENGETAHUAN TENTANG PENDAKIAN KONSERVATIF

???????????????????????????????
hutan-wehea-kutim1

???????????????????????????????

P1100243
P1100239
P1100276


Hanya mewarisi semangat mengajak mendaki gunung kepada orang – orang baru dengan berbagi cara, tanpa dibarengi semangat melakukan dan mensosialisasikan pendakian konservatif. Akibatnya lahir generasi pendaki yang antipati lingkungan. Dengan kata lain hanya membentuk mental pendaki senang – senang bukan pendaki konservatif .

Kelemahan – kelemahan pendaki di atas mungkin pernah dilakukan oleh kita saat mendaki, baik disengaja ataupun tidak. Untuk menebusnya cukup mudah. Tidak melakukan pencemaran dan pengrusakan lagi dan ikut aktif menyuarakan semangat pendakian konservatif di gunung manapun dan kapanpun. Jadi, sepagi mungkin kita hindari perbuatan tercela tersebut di atas.