Tegarlah Kalian para Pengais Berlian Kuning di Surga Indonesia

Gunung Ijen adalah sebuah Gunung Berapi aktif yang terletak di daerah Kabupaten Banyuwangi, Jawa timur. Gunung ini mempunyai ketinggian 2.443 m dan telah empat kali meletus (1796, 1817, 1913, dan 1936).

Sedangkan Kawah Ijen sendiri adalah sebuah Danau kawah yang bersifat asam, yang berada di puncak Gunung Ijen dengan tinggi 2368 meter di atas permukaan laut dengan kedalaman danau 200 meter dan luas kawah mencapai 5466 Hektar. Kawah Ijen berada dalam wilayah Cagar Alam Taman Wisata Ijen, Kabupaten Banyuwangi, Jawa timur.

Sumber artikel: wikipedia indonesia

Api seperti yang diketahui warnanya pasti merah, lantas bagaimana jika Anda ingin melihat sebuah api yang warnanya berbeda, tidak merah melainkan berwarna biru dan keluar dari sebuah kawah gunung. Dapatkah dibayangkan Anda berdiri dan menyaksikan fenomena itu dengan kepala Anda sendiri, momen keajaiban alam yang tiada taranya. Teramat spesial untuk dilewatkan karena di dunia hanya ada dua fenomena yang terjadi seperti ini dan salah satunya ada di Indonesia.

Salah satu Surga Indonesia itu Adalah kawah biru atau blue fire, fenomena alam yang unik dan hanya dapat dilihat di Kawah Ijen – Banyuwangi saja. Saking indahnya fenomena ini bahkan mengalahkan popularitas matahari terbit di Banyuwangi yang disebut sebagai matahari pertama di Jawa. Tak hanya itu, banyak wisatawan dari berbagai negara rela datang jauh-jauh sekedar untuk melihat penampakan si Api Biru di kawah Ijen.

 

 

_DSC0052cp2

ttt

1Sumber: http://survival491m.blogspot.com

Sumber: http://alfinbanyuwangi.blogspot.com

P1050419

 

DSC00805

 

 

 

 

DSC00810

 

DSC00813

 

P1050409

P1050407

P1050408

P1050422

P1050425

DSC_3981 DSC_3985

 

252018DSC_3938

DSC_3914231924

Kawah Ijen memang sebuah objek wisata yang merupakan tempat untuk melepas lelah, mengaplikasikan bakat fotografi dan untuk bersenang-senang, tapi tak kau tengok orang-orang yang mengenakan pakaian lusuh, dengan senyumnya yang tak pernah redup dan tak hentinya menyapa setiap pengunjung yang sedang mendaki? Dapat kita lihat wajahnya yang memancarkan aroma keletihan yang luar biasa, fisiknya yang kurus karena beban kewajiban yang harus ia kerjakan,berjuta tetesan keringat yang mengiringi langkah kemana ia membawa banyak sekali Mutiara Kuning dari lembah Ijen yang merupakan sebuah “Berlian” agar dapat menyambung hidup keluarga yang tlah menunggunya untuk kembali kerumah.

Kehidupan sosial penambang belerang sangat terjaga dengan baik.

Para penambang berangkat dan pulang bekerja bersama-sama dalam setiap aktivitasnya sebagai penambang.  Rasa sosial yang tinggi ditunjukkan dengan adanya sebuah kepedulian dan rasa kehilangan, jika salah satu teman mereka tidak bekerja. Adanya kebiasaan bercanda bersama saat penambangan membuat mereka terikat pada suatu ikatan emosional yang tinggi.

Menurut saya pribadi, Sebenarnya mereka adalah objek utama wisata, salah satu alasan kuat mengapa ada banyak sekali turis datang mengunjungi daerah wisata ini. Sosok orang yang patut kita perhatikan dan teladani semangat yang mereka miliki seakan tak pernah termakan zaman. Keramahan, kepedulian, serta kegigihan yang patut kita contoh untuk bersama-sama membangun negeri ini agar lebih pantas untuk dikatakan sebagai negara yang Merdeka!

Orang-orang yang sehari-harinya bermandi keringat itu adalah kumpulan penambang belerang tradisional yang dimiliki oleh Bondowoso tercinta. Mereka adalah seseorang yang pantas dikatakan sebagai orang-orang yang kuat dan hebat, tidak semua yang dikatakan hebat adalah orang yang memiliki pengetahuan yang luas, berpendidikan, sarjana dan berprestasi, tetapi orang hebat adalah orang yang tegar dan tetap semangat menjalani hidup yang pahit ini dengan senyuman, dan orang hebat adalah seseorang yang mampu bangkit ditengah keterpurukan yang melanda hidupnya. Mengapa demikian? Bayangkan saja, Beban yang diangkut masing-masing penambang belerang beratnya mencapai 85-100 kg. Beban ini luar biasa berat buat kebanyakan orang, apalagi belerang diangkut melalui dinding kaldera yang curam dan 800 m menuruni gunung sejauh 3 km. Terlebih, Penghasilan yang diterima seorang pemikul rata-rata 25 ribu rupiah per harinya. Seorang pemikul biasanya hanya mampu membawa turun satu kali setiap harinya, karena beratnya pekerjaan.

Bukan hanya itu, mereka dengan beraninya mendekati danau untuk menggali belerang dengan peralatan sederhana lalu dipikul dengan keranjang. Para penambang belerang ini mengambil belerang dari dasar kawah. Disana asapnya cukup tebal, namun dengan peralatan penutup hidung sekadarnya seperti sarung, mereka tetap mencari lelehan belerang tanpa kenal lelah. Lelehan belerang didapat dari pipa yang menuju sumber gas vulkanik yang mengandung sulfur. Gas ini dialirkan melalui pipa lalu keluar dalam bentuk lelehan belerang berwarna merah. Setelah membeku belerang berwarna kuning. Setelah belerang dipotong, para penambang akan memikulnya melalui jalan setapak.

Selain harus melewati jalan-jalan yang curam, kandungan asap yang dikeluarkan dari belerang nyaris membahayakan, dapat mengakibatkan rasa mual, pusing juga dapat menyebabkan kerusakan pada paru-paru karena asap yang dikeluarkan dari kawah dimana tempat bebatuan  belerang berada dan karena terlalu sering menghirup asap tersebut tanpa menggunakan masker.

Menurut informasi yang saya dapatkan, Senyawa organik yang terkandung dalam belerang sangat penting. Yaitu meliputi, Kalsium sulfur, ammonium sulfat, karbon disulfida, belerang dioksida dan asam sulfida.

Begitu berat bukan? Pekerjaan yang mereka tekuni selama ini sesungguhnya adalah salah satu jenis pekerjaan maut.

 

 

21 17

Pekerjaan melelahkan dan berbahaya ini juga dilakukan sejak jam 3 pagi sampai jam 3 sore dengan harga perkilo ± 600 rupiah. Sehingga apabila mereka sanggup membawa beban rata – rata 70 kg perpikulan dengan 3 pikul yang artinya 3 kali pulang pergi maka mereka hanya mendapat 126 ribu per-hari. Namun, hari kerja mereka rata – rata adalah 2 hari kerja dan 1 hari libur. Sebagai tambahan pendapatan mereka seringkali menjual souvenir patung cetakan dari belerang murni mereka dengan harga 5ribu perbiji. Juga seringkali mereka bertindak materilistis dengan meminta bayaran 10 ribu per-pose apabila mereka dipotret utuh ketika bekerja. Memang mungkin bila dihitung kasar pekerjaan marabahaya ini begitu menggiurkan namun,berdasarkan pengamatan, memang pendapatan mereka cukup besar, akan tetapi mengapa rata-rata para penambang belerang hidup secara sederhana dan mengalami kesulitan ekonomi?

Secara logika, mereka tergolong masyarakat “bagian bawah” mungkin karena beberapa faktor. Salah satunya disebabkan oleh SDM yang rendah. Karena, mayoritas masyarakat yang tinggal di daerah-daerah terpencil masih belum mampu berpikir secara kritis. Misalnya, mereka sebagai penambang belerang masih belum mampu mengolah pendapatan yang mereka terima dengan sebaik mungkin. Dan mereka tergolong masyarakat yang “konsumtif”. Mungkin beberapa dari mereka tak memiliki pemikiran untuk menyimpan sebagian pendapatan yang mereka terima sebagai tabungan. Hal ini dikarenakan masyarakat disana memiliki pola pemikiran yang sederhana. Dengan pola pemikiranan yang demikian, kehidupan seseorang tak akan pernah maju meskipun pendapatan yang mereka peroleh besar sekalipun.

Faktor lainnya yaitu, Pendidikan yang rendah (masih terkait dengan pola pemikiran yang sederhana). Contohnya, Di kawasan Kawah Ijen, terutama mereka yang bertempat tinggal di lereng Gunung Ijen, lebih memilih untuk bekerja sebagai penambang belerang. Pilihan ini diambil karena untuk menjadi penambang belerang tidak membutuhkan pendidikan yang tinggi, melainkan hanya kerja keras dan kekuatan fisik.

Faktor yang mempengaruhi berikutnya, yaitu dengan di naikkannya harga belerang menjadi 600 rupiah perkilogramnya, keputusan ini tidak banyak membantu para penambang dalam mencukupi kebutuhan hidupnya, apalagi bagi mereka yang  memiliki anak dalam jumlah yang banyak serta para penambang yang memang sudah berusia lanjut dan tidak kuat lagi mengangkat beban yang terlalu berat, akhirnya para penambang yang tergolong manula ini mengangkut belerang semampunya tanpa adanya target hasil. Keadaan ini juga yang membuat kehidupan ekonomi para penambang menjadi sangat minim.

Kondisi penambang belerang memang semakin memprihatinkan, yang mana ekonomi mereka semakin sulit dikarenakan semakin mahalnya barang-barang kebutuhan pokok yang harus dibeli semakin mahal. Sehingga masyarakat yang berpenghasilan rendah termasuk penambang belerang akan semakin terpuruk kondisinya. Kenaikan harga kebutuhan hidup dikhawatirkan berdampak kepada kehidupan para penambang belerang khususnya kemampuan dalam memenuhi kebutuhan dasarnya dan jika tidak dirumuskan kebijakan yang memihak rakyat kecil maka akan memunculkan dampak sosial yang sangat besar di masyarakat seperti peningkatan jumlah kemiskinan, meningkatnya jumlah pengangguran dan masalah-masalah sosial lainnya.

Bukan hanya itu, pada tahun 2009, para penampung belerang mereka yaitu perusahaan gula di Banyuwangi mayoritas sudah mulai mengurangi pembelian mereka akan belerang kawah ijen, ini dikarenakan mengimpor belerang dari Singapura lebih murah. Jadi bila hal ini dibiarkan terus menerus maka kemungkinan tahun-tahun berikutnya kita bisa saja tidak melihat aktivitas para penambang Belerang ini. Walau memang aktivitas ini sejatinya kurang beradab.

DSC0081356 IMG-20141019-WA0199IMG-20141019-WA0194DSC_3967

Bahkan ada beberapa masalah yang dialami oleh para penambang belerang di daerah sana, antara lain yaitu Kegiatan penambangan ternyata sempat menimbulkan kontroversi. Akibat keuntungan yang menjanjikan, sempat juga dipaksakan sebuah proyek pembuatan pipa saluran yang dapat langsung menuju tempat olahan di pinggir jalan raya. Namun, karena desakan beberapa LSM lingkungan setempat yang merasa keberatan akan kerusakan lingkungan yang mungkin terjadi dari pembangunan tersebut, akhirnya proyek itu tidak jadi dilaksanakan. Bisa dibayangkan memang bila proyek tersebut benar terjadi, berapa banyak daerah yang akan tergerus, belum lagi dampak hilangnya mata pencaharian para penambang tradisional yang sudah puluhan tahun menambang di Gunung Ijen.

Hal ini yang menjadi beberapa kendala bagi para penambang dan membuat kondisi perekonomian mereka masuk dalam kategori rendah. Belum lagi dampak dalam diri penambang belerang sendiri, yakni kerusakan paru-paru akibat gas yang dikeluarkan oleh kawah dimana tempat bebatuan  belerang berada.

Meski demikian, masih dapat kita lihat bersama senyum keikhlasan yang terpancar dari raut wajah mereka yang sebenarnya menyimpan berbagai masalah kehidupan yang suatu saat nanti mampu membuat mata pencaharian yang sudah mereka tekuni bertahun-tahun perlahan pupus dan hilang. Pekerjaan yang sangat berbahaya dan cukup mematikan ini hanyalah satu-satunya yang membantu mereka untuk tetap bertahan hidup dan menghidupi keluarganya.

Lalu, untuk menambah penghasilan, mereka juga banyak yang menawarkan jasa mengantar hingga ke lokasi pertambangan. Dengan demikian, jangan sebut mereka matrealistis atau pamrih dalam menolong para wisatawan. Karena untuk bisa mencapai Kawah Ijen dan lokasi tambang belerang, dari puncak kita masih harus berjalan sekitar satu kilometer dengan trek yang sangat sulit juga batuan kering yang terjal. Kita harus sangat memperhatikan setiap langkah kaki yang diambil karena sangat berbahaya bagi penambang yang masih di bawah apabila ada batu yang jatuh akibat salah langkah.Jadi,kita sudah tau bukan alasannya? Menjadi seorang guide tidaklah mudah, apalagi dengan lokasi yang sangat membahayakan seperti itu, belum lagi para penambang harus extra hati-hati dalam memandu dan membawa para wisatawan, karena itu sudah menyangkut nyawa seseorang, salah satu langkah saja  sudah fatal akibatnya.

Mereka bagaikan budak ekonomi di era Globalisasi seperti saat ini, tenaga yang mereka keluarkan tak sebanding dengan apa yang mereka terima. Setiap keringat yang mengucur dari tubuhnya, tak sebanding dengan nikmatnya setiap makanan yang ia telan. Sungguh miris kehidupan para penambang belerang seperti mereka ini. Saya akhirnya mengerti mengapa para penambang tersebut selalu meminta sebatang rokok kepada beberapa pengunjung, karena ternyata satu kilogram belerang yang mereka bawa saja tidaklah cukup untuk membeli sebatang rokok yang mereka hisap tersebut. Bahkan, dari setiap kilogram yang mereka bawa, dengan keringat deras yang mengucur, dari setiap kilogram yang melukai punggung kecil mereka ada perjuangan untuk bisa bertahan hidup, dari setiap kilogram yang meremukkan tulang mereka yang ringkih ada seuntas senyum dan harapan bahwa mereka akan pulang dengan membawa uang untuk membeli beras kepada istri yang menunggu di rumah.

Maka dari itu, ayo kita jangan sampai lupa untuk bersyukur atas apa yang sudah kita miliki saat ini,

Mereka yang sudah tua saja masih semangat, kenapa kita tidak??

 

*Satu hal lagi yang Harus dan Wajib saya Informasikan kepada kalian yang telah membaca tulisan saya ini..

Tetap Jaga Kelestarian tempat anda berwisata, jagalah Kebersihannya dan hindari segala bentuk Vandalisme..

Jangan pernah ambil atau merusak apapun di tempat ini..

Biarkan semua tetap pada tempatnya, dan mati termakan usianya sendiri.

Jaga Indonesia dan Semesta ini untuk cucu kita nanti, agar kelak mereka juga bisa menikmati apa yang namanya Paradise of Indonesia itu..

IMG_20150215_102341

Photos by : Anton Gamaliel & Fajar Achmadi #G4D4Adventure

#SalamLestari

#‎CeritaUntukIndonesia

-FA-

Advertisements

Rinduku Tertinggal di Shelter Akhir

Ini adalah perjalanan saya yang ke sekian kalinya ke Semeru, atap tertinggi pulau Jawa. Rencana pendakian berawal dari kemauan dan desakan salah satu teman. Dia sangat tertarik untuk kesana, setelah sebelumnya melihat foto-foto saya via social media dan blog pribadi saya.. Kita yang berasal dari berbagai daerah, mulai dari saya sendiri (Malang), Suryadi (Balikpapan), Bejo (Bontang), Pak Ruslan (Makassar), Mbak Yanti (Surabaya), Maulana (Balikpapan), Hamid (Bogor) langsung berdiskusi, dan diputuskan tanggal 15 Agustus 2015 kami akan jalan. Kami juga mencoba mengajak teman-teman lain yang mau ikut. Hasilnya sekitar 7 orang yang mau jalan dan mereka semua baru pertama kalinya ke Semeru. Saya dipercayakan untuk mengatur semua persiapan dan perlengkapan dengan dalil sebagai orang yang sudah sering menginjakan kaki disana..

15 Agustus 2015

MALANG

7 orang dari kami, memulai perjalanan hari itu dari Stasiun Kota Malang. Tepat pukul 08.00 WIB. kami bergerak menuju Tumpang, suatu desa kecil di kab. Malang. Dari sana, kami berganti kendaraan menggunakan Jeep berpenggerak 4×4 untuk menuju pos perizinan, yaitu pos Ranupani. Untuk menuju Ranupani,
Hari itu kami bertemu 2 orang teman baru, yaitu bule dari Prancis! Haha . Mereka berdua bernama Clo & Marie. Rupanya mereka kebingungan karena tidak ada satupun orang yang mereka jumpai dapat berbahasa Inggris. Kalo kami, yah lumayan lah, buktinya kami bisa bercakap-cakap dengan mereka. Haha 

 

RANUPANI

Perjalanan menuju Ranupani, kita akan melewati perkebunan penduduk. Kita juga akan melewati hutan, tetapi ada jalan aspal di dalamnya. Di tengah-tengah perjalanan, kita juga akan melihat savana Bromo dari atas. Semua pemandangan ini indah sekali, yang disayangkan hari itu, langit menggantung banyak sekali awan, sehingga cuaca menjadi sedikit mendung.

Sekitar pk 14.00 WIB, kami sampai di pos perijinan Ranupani. Kabut sangat tebal menyelimuti kami & beberapa kali hujan turun rintik-rintik. Pelajaran pertama yang saya dapatkan adalah “Jangan pernah sekalipun meremehkan cuaca di gunung”. Meskipun saat itu bulan Agustus, yang seharusnya matahari bersinar terik, tetapi di ketinggian 2.162 mdpl, hal tersebut tidak berlaku.

IMG_3236

img_0119

Di sekitar pos Ranupani, terdapat beberapa warung kecil yang menjual makanan. ada satu warung favorit saya.. namanya warung “Langit” mungkin karena warung itulah yang paling dekat dengan langit.. hihihihihi   

Di sana dijual nasi rawon, soto, pecel & beberapa makanan lainnya. Harganya, tentu saja mengejutkan, karena untuk seporsi nasi rawon, dengan irisan daging, dan kuah lezat yang panas kita hanya harus mengeluarkan kocek sebesar Rp 12.000,-. Menurut saya sih termasuk murah.

Pk 15.00 WIB, kami memulai perjalanan. Harap-harap cemas tanpa tahu medan-nya seperti apa, saya pede2 aja membawa tas carrier 80lt full barang bawaan & logistik. Harapan kawan-kawan saya bisa segera sampai di Ranukumbolo & menyaksikan dengan mata kepala sendiri keindahan danau yang membuat banyak orang terobsesi ke sana. Harapan mereka sepertinya kandas saat melewati & merasakan dahsyatnya trek menuju Ranukumbolo. Pk 17.00 WIB, langit mulai gelap, matahari yang sedari siang terhalang pekatnya kabut, sudah tidak bisa diharapkan untuk memberikan kami penerangan. Dalam waktu yang bersamaan, hujan pun mulai turun.  Di tengah perjalanan, saya sempat kedinginan, suhu yang menurun, disertai tetesan air hujan membuat jaket kami basah. Beruntung kami semua sudah siap dengan raincoat dan flysheet yang bisa dibuka di tengah jalur pendakian tanpa mendirikan tenda…

  • TIPS untuk teman2 pendaki, jika ingin mendaki gunung di atas 3.000 mdpl, saya sarankan gunakanlah sepatu yang nyaman. Bersol karet, sehingga tidak licin. Kalau ada, gunakanlah sepatu gunung. Jangan memakai jaket dengan bahan tebal. Selain ribet, kalau basah, justru membuat badan kita semakin dingin. Cobalah menggunakan jaket tipe windbreaker & waterproof. Cukup pakai 1-2 lapis pakaian, percayalah bahwa perjalananmu akan lebih nyaman, daripada menggunakan jaket tebal, karena seiring pendakian, asalkan kita bergerak terus, suhu tubuh akan naik dengan sendirinya.

Kembali ke perjalanan, beberapa kali kami terpaksa beristirahat untuk menaruh barang bawaan & sekedar melemaskan otot pundak. Saya pribadi sudah biasa merasakan trek menanjak dari pos Landengan Dewo & Waturejeng hingga mencapai Ranukumbolo. Halangan terbesar kawan-kawan saya bukan pada kaki, melainkan tas carrier & nafas yang tersengal-sengal akibat udara tipis gunung di malam hari. Sedangkan Halangan terbesar saya, tas carrier double milik teman wanita yang sebelumnya hampir menyerah ditengah jalur.. memang bukan pertama kalinya saya menjadi porter dadakan..

Untuk kalian para pembaca, pastikan nggak akan mencoba perjalanan Ranupani-Ranukumbolo di malam hari. Mengapa? percayalah hampir semua pemandangan indah di sana hilang, kita berebut oksigen dengan tumbuhan yang ada disana.. (masih inget pelajaran IPA saat SD khan bagaimana cara/proses tumbuhan bernafas?), semua indera mulai, penciuman, perasa, pendengaran kita dipakai dan harus tetap fokus..

Sekitar pk 23.00 WIB, akhirnya kami sampai di Ranukumbolo Terdengar suara “woosh.. woosh….”, yaitu suara angin kencang yang berasal dari arah danau. Nggak pake lama, kami segera mendirikan tenda, begitu satu tenda berdiri, teman-teman saya yang kedinginan langsung masuk & menghangatkan tubuh..

Malam itu, kami bersyukur, akhirnya kami sampai di Ranukumbolo dengan selamat setelah menghabiskan 8 jam perjalanan akibat hujan & jalanan yang licin.

  • Satu lagi TIPS pendakian di trek Ranupani-Ranukumbolo, perhatikan Team-mu, jangan sampai terpisah, terutama jika melakukan pendakian malam hari. Sudah banyak cerita para pendaki yang tersesat di tengah-tengah hutan ini. Seandainya terpaksa harus dibagi menjadi tim yang berbeda, hal ini bisa saja disebabkan kecepatan masing2 orang yang berbeda, usahakan jangan sampai ada tim yang tidak memiliki tour guide/penunjuk jalan.

Puji syukur saya naikkan pada Allah malam itu, karena perlindungan-Nya nyata untuk team kami. Sebelum tidur, kami menikmati susu coklat & makan nasi beserta kornet goreng. Lumayan nikmat lah, meskipun nasi-nya kurang matang. Hehehehe..

 

16 Agustus 2015

RANU KUMBOLO

Hari itu saya terbangun pk 05.00 WIB, sayup-sayup terdengar celoteh dari tenda sebelah. Rupanya beberapa teman saya mulai terbangun satu persatu. 2 orang di antara kami mulai mengisi air di botol-botol yang sudah kosong. Sumber air terdekat tentu saja berasal dari danau. Saran saya, refill-lah sepagi mungkin ketika orang-orang belum terbangun dan beraktifitas. Air masih jernih, belum tercampur limbah dari para pendaki..

Dingin pagi itu terasa sekali. Saya berteriak memanggil teman dan bertanya, “Mataharinya keluar nggak?”  Alhamdulillah Kami berhasil merasakan suhu dibawah 0 derajat celcius dan takjubnya melihat matahari membelah 2 bukit kembar di sana! Bulan agusatus adalah posisi paling pas untuk SUNRISE di Ranukumbolo.. Kalau sulit ngebayangin-nya, bayangin aja gambar standar anak kecil, matahari persis di antara 2 bukit. 

Demi mengusir hawa dingin (yang memang beneran dingin), saya diajak teman mencicipi yang namanya tanjakan cinta. Menurut mitos, kalau kita bisa melewati tanjakan cinta sambil membayangkan orang yang kita cintai tanpa menoleh sedikitpun ke belakang, kita bakal bisa bersatu dengan orang yang kita cintai itu! Jujur, saya sendiri sih nggak percaya, dan yang pasti bakal nyesel banget kalo nggak noleh, karena pemandangan Ranu Kumbolo dari arah tanjakan cinta keren banget!

img_3396

dsc_0765dsc_0770

IMG_7886.JPG

 

dsc_0108

 

dsc_0106

Siang hari, sekitar pk 10.00 WIB, kami segera berkemas untuk melanjutkan perjalanan menuju pos camping berikutnya, yaitu Kalimati. Sekali lagi saya harus melewati tanjakan cinta! Dari bawah, tanjakan cinta terlihat tidak terlalu terjal. Apalagi kalau hanya lihat di foto, tapi jangan berkomentar sebelum merasakan sendiri. Hahaha 😀 Mendaki tanjakan cinta dengan membawa tas carrier sebesar & seberat itu benar-benar sebuah tantangan buat kami. Apalagi setiap ada tanjakan, nafas boleh dibilang hampir habis. Memang benar, untuk mencapai Semeru, dibutuhkan stamina yang sangat kuat..

ORO-ORO OMBO

Setelah berhasil melewati tanjakan cinta, kami berhenti sebentar untuk mengatur nafas. Trek berikutnya adalah Oro-oro Ombo. Sebuah padang hijau yang sangat luas, berada di tengah kerumunan bukit-bukit. Di awal-awal musim pergantian musim penghujan menuju kemarau, seperti misalnya bulan Mei, kita akan disuguhi pemandangan indah dari hamparan tanaman Verbenna Brazilliensis Vell. Tetapi di bulan-bulan tengah, seperti Juli & Agustus, tanaman ini mulai kering. Bagi saya, oro-oro ombo adalah trek bonus di sepanjang perjalanan Ranupani-Semeru. Trek-nya datar & tidak ada tanjakan sama sekali..

img_8066

 

IMG_7897.JPG

CEMORO KANDANG

Setelah melewati padang verbenna, kami memasuki pos berikutnya, yaitu pos Cemoro Kandang. Disebut demikian karena memang trek berikut ini kami benar-benar melewati hutan cemara. Kami menjumpai banyak pohon yang tumbang, sepertinya akibat disambar petir. Jangan pernah meremehkan trek cemoro kandang dan jangan mengharapkan akan menjumpai turunan di pos ini, karena kami benar-benar terus menanjak, menanjak dan menanjak. Hahaha 

Melewati pos cemoro kandang ini, meskipun hari belum sore benar, masih sekitar pk 13.30 WIB, tapi kabut tipis mulai turun, alhasil udara mulai terasa dingin. Kami mengerahkan seluruh tenaga, demi secepatnya mencapai pos Kalimati.

dsc_0795dsc_0796

 

JAMBANGAN

Setelah berpuas ria dengan tanjakan demi tanjakan, akhirnya sekitar pk 16.00 WIB kami sampai di pos Jambangan. Sebuah dataran dan di sana kami bisa melihat gunung Semeru dengan jelas!!! (Di oro-oro ombo seharusnya bisa, tetapi saat itu tertutup kabut).

IMG_3419.JPG

IMG_3473

dsc_0803

 

KALIMATI

Pk 17.30 WIB, kami akhirnya sampai di pos Kalimati. Trek perjalanan dari pos Jambangan ke Kalimati relatif mudah, hanya setengah jam saja, kami sudah sampai. Sumber air terdekat yang ada di sana ada di tempat bernama Sumber Mani. 45 menit perjalanan PP untuk mencapai tempat ini. Beberapa di antara kami berangkat dan segera memenuhi botol kami yang kosong untuk perbekalan summit attack nanti malam dan tentu saja untuk memasak.

Beruntung bahwa hari itu kami mendapat shelter, yaitu semacam pos pondokan untuk para porter. Di sana kami terlindung dari angin dan tidak perlu repot-repot mendirikan tenda terlalu banyak.

Malam itu kami segera makan lalu beristirahat, kami masuk ke sleeping bag kami masing-masing sekitar pk 19.30 WIB. Berbicara tentang kenyamanan tidur selama pendakian, saya tidak mengalami kendala. Sleeping bag dan matras yang saya pakai tebal dan hangat. Teman saya menyarankan supaya memakai bantal angin, sehingga kualitas tidur pun lebih baik. Saya sendiri cukup menggunakan tas carrier sebagai sandaran kepala.

img_3333img_3340img_20161121_100811_hdrimg_20161121_101219_hdrimg_20161121_101401_hdr

 

Pk 23.00 WIB, saya dan team segera bangun dan mempersiapkan diri untuk perjalanan yang kami nanti-nantikan.
Briefing saya berikan tepat Pk 23.30 WIB. Cuaca malam itu cerah dan tidak ada angin. Teman saya berkata bahwa ini adalah kondisi yang sangat menguntungkan bagi kami. Tepat pk 00.05, kami semua berangkat. Tak lupa saya pimpin mereka untuk berdoa terlebih dahulu, menyerahkan setiap langkah kaki kami kepada Tuhan. Satu kalimat yg selalu saya katakan kepada tamu ataupun teman-teman sebelum menuju Puncak Abadi Para Dewa, “Untuk sampai ke atas dibutuhkan tekad yang kuat, kerjasama, dan kepedulian.. buang jauh-jauh ego kalian jika ingin menginjakkan kaki diatas tanah tertinggi pulau Jawa”.

17 Agustus 2015

ARCOPODO

Mendaki puncak Mahameru, kita akan selalu melewati suatu daerah yang bernama Arcopodo. Di tempat ini, trek yang dilalui cukup sulit dan menantang. Tidak terhitung berapa kali kami melewati tanjakan maut, disertai jurang di sebelah kanan-kiri kami. Jangan bercanda ketika dalam pendakian, karena nyawa taruhannya. Saling menolong dan solidaritas yang tinggi, itu yang kita perlukan. Bagi beberapa pendaki, ada 2 pilihan tempat camping. Yang pertama yaitu di Kalimati, dan yang ke-2 adalah di Arcopodo. Waktu itu ada salah stu kawan saya yang bertanya kepada ke saya, “Mengapa kita tidak menginap saja di Arcopodo? Bukankah itu lebih dekat?”

Ada 2 alasan yang saya berikan, yang pertama, tidak ada sumber air di Arcopodo, jadi dengan demikian, bila kami kehausan, kami tidak bisa mengambil air. Dan itu berarti mencobai diri sendiri. Alasan yang ke-2, trek menuju Arcapada lumayan berat, apalagi jika dilewati dengan membawa beban yang ada didalam tas carrier. Bagi saya itulah hal yang sangat masuk akal, mengingat perjalanan sebelumnya halangan terbesar kami adalah beratnya tas carrier. Jadi, silahkan memilih 🙂

DSC_0960.JPG

dsc_0287

BATAS VEGETASI / KELIK

Setelah sekitar 3 jam kami berjalan dari Kalimati, akhirnya kami melewati batas vegetasi, yaitu batas antara daerah hijau dan abu-abu di gunung Semeru ini. Dapat dilihat di google earth bahwa perbedaan warna perbatasan tersebut sangatlah mencolok.

“Gunung kalo masih warna hijau, itu berarti bukan gunung yang tinggi”. salah satu kalimat andalanku.. Selepas dari batas vegetasi, kita akan berjumpa dengan hamparan pasir dan batu. Selangkah demi selangkah kami berusaha mendaki, mendaki dan mendaki. Berikut ini beberapa tips yang ingin saya bagikan buat para pendaki,

  • Seperti yang saya bilang di catatan perjalanan hari pertama, pakailah jaket yang nyaman. Jangan terlalu tebal, lama-kelamaan itu hanya menghambat gerak tubuh kita.
  • Masing-masing orang harus membawa minum & camilan-nya masing-masing. Di perjalanan kami kemarin, sempat6 melihat pemandangan lain dari pendaki yang lainnya..  semua botol minum hanya dibawa oleh 1 orang. Hasilnya, untuk minum saja mereka harus saling tunggu.
  • Lebih mudah jika menggunakan tongkat. Kami membuat tongkat menggunakan kayu bakar yang ada di Kalimati. atau jika anda memiliki uang lebih belilah alat yg namanya Trekking Pole”
  • Atur langkah kaki baik-baik. Cerita bahwa pasir di Semeru membuat orang mundur 3 langkah ketika mereka maju 5 langkah itu bukan mitos ataupun cerita yang dibuat-buat. Jangan terburu nafsu ingin cepat sampai, tapi aturlah langkah dengan baik, demikian pula dengan nafas. Karena berdasar pengalaman saya, terburu-buru justru membuat stamina cepat hilang. Padahal perjalanan mendaki lumayan jauh (Khusus pemula :P).
  • berjalan zigzag itulah kunci kesuksesan yang sebenarnya.. memang melelahkan dan jarak tempuhnya lebih panjang, tapi percayalah hanya cara ini yang mampu menghemat stamina dan tenaga kalian..
  • Pakailah kaos kaki yang panjang melebihi mata kaki, atau Gaiter / Penutup celana untuk menutupi celah antara sepatu dengan celana, supaya kerikil tidak masuk. Pendakian akan sangat terganggu dengan kerikil yang masuk ke mata kaki.

20150721_055004

20150721_055010

dsc_0284

 

Beberapa orang dapat menyelesaikan pendakian dalam waktu yang relatif singkat, yaitu 3 jam. Tetapi bagi kami yang beberapa orang masih dibilang pemula, hal itu sebuah mimpi di awan-awan. Selangkah demi selangkah kami pertahankan tekad untuk mencapai puncak Semeru. Sekitar pk 04.00, warna langit sudah mulai berubah menjadi semburan warna oranye. Pertanda fajar segera menyingsing. Sejenak saya melayangkan pandangan ke atas, puncak tampak sangat dekat. Ternyata semua itu hanyalah tipuan mata belaka. Pk 04.30, langit sudah hampir menjadi terang, namun puncak tak kunjung tiba.. Dan disinilah cerita yang aku sebut dengan Amazinc Journey..

DCIM102MEDIAdsc_1020dsc_1021

 

“Massssssss Fajarrrrrrr..” teriak salah satu rekan saya asal Balikpapan..

sontak aku kaget dengan panggilan itu, sempat berpikir ada sesuatu hal negatif yg terjadi diatasku, tepat 10meter diatasku..

sedikit berlari kuhampiri hendra “Ada apa di??” balasku sambil berlari zigzag..
“Pak ruslan tumbang, beliau sesak nafas mas.. buruan mas.. pak rus udah kejang-kejang” teriak Suryadi.

Jantungku hampir berhenti saat melihat pak Ruslan yg sudah tergolek lemah diatas pasir bercampur batu atau jalur summit attack, tepat 400meter dibawah puncak Mahameru.

Hanya oksigen portable dan air hangat inilah penolongku,,

hampir 15 semprotan oksigen dari tabung keluar untuk menolong nyawa seniorku ini, dan air hangat dalam botol yang aku tarih di atas perutnya agar tidak terjadi kram perut nantinya..

hampir 20menit suasana tegang di jalur pendakian, beberapa pendaki yg lewat hanya menonton tanpa bisa berbuat banyak..

pak Ruslan perlahan bangkit, perlahan beranjak dari tanah, mencoba bangkit dibantu oleh Bejo..  Alhamdulillah pertolonganku tidak terlambat..

Terima kasih Ya Rabb.. Kau selamatkan nyawa senior saya, kau selamatkan nyawa guru saya..

tak kau coret catatan pendakianku dengan tinta merahmu..

Antara batas kesadaran, otak ingin sekali mencapai puncak, tetapi badan seperti berkata sudah. Tekad saya bulat harus mencapai puncak! sedangkan Semakin ke atas, trek yang dilalui semakin sulit. Kemiringan gunung bisa dibilang mencapai 45 derajat. Berjalan 1 langkah, mundur lagi 3 langkah. Perasaan saya saat itu cuma 1, putus asa. Beberapa teman terlihat beberapa meter di depan saya, mereka tampaknya tidak mau menyerah. hanya satu fokusku saat itu, pak Ruslan, Guruku, Seniorku, bapakku..

Di tengah pendakian, kami beralih haluan menuju ke jalur kanan, tampak lebih berbatu & sepertinya lebih gampang untuk dilalui. Tapi pandangan kami ternyata menipu. Bebatuan yang ada sangat rapuh untuk dijadikan pijakan. Berulang kami saya terpeleset & jatuh. Bahkan saya sempat terkena batu jatuh yang longsor akibat diinjak teman.

20150721_081335

Tanpa Basa basi, tugas sebagai sweeper aku oper ke Suryadi temanku asal banjarmasin, sedangkan aku turun membawa pak Ruslan menuju camp di kalimati..
Saya tidak mau mengambil resiko hanya untuk gengsi, hanya untuk pamer foto selfie yang sering kali dibuat acuan anak-anak kekinian..
Nyawa Pak Ruslan bukan sebuah pertaruhan gambling yg saya buat sebagai leader dan juga sweeper dalam tim ini..
biarlah saya dan pak Ruslan mengikuti upacara 17 Agustus di Kalimati atau biasa aku sebut dengan “Shelter Akhir”

IMG_3821

Kegagalan adalah awal dari sebuah keberhasilan. Meski saya dan pak ruslan gagal, tekad saya nggak luntur. Saya nggak mau jadi pendaki yang ceroboh.

Mereka, kawan-kawanku yang bisa dianggap pemula berhasil menginjakkan kaki di tanah tertinggi pulau Jawa dan melangsungkan upacara 17 Agustus di puncak tertinggi pulau Jawa!
Bangga? Ya, saya bangga. Tapi kebanggaan yang ada di hati bukan tentang gengsi para pendaki terhadap sebuah ketinggian yang katanya puncak abadi para dewa. Masih teringat dengan jelas, pendakian yang lalu-lalu puncak selalu menjadi rumah singgahku. Persiapan yang saya lakukan luntur gara2 accident yg menimpa kawan dan juga senior saya asal makassar! sesak nafas, perut kram & beberapa kali hampir muntah, tapi yang saya ingat, kalian harus terus, kalian harus berhasil, sudah sampai sini, jangan menyerah.

Kalau kalian bisa mencapai puncak, bersyukurlah karena kalian diberi kekuatan! Kalau belum mencapai puncak, berbanggalah karena kamu sudah pernah merasakan yang namanya bersatu dengan alam dan berjuang dengan sahabat-sahabatmu! inilah sesungguhnya yg disebut perjalanan bukanlah ambisi untuk sebuah gundukan tanah kering hanya untuk mengambil sebuah foto selfie.. 

Terima kasih buat keluarga & teman-teman yang mendukung & berdoa buat keselamatan saya & tim. Mohon maaf, beberapa hari ke depan izinkan saya sharing banyak pengalaman yang saya dapatkan di pendakian kali ini. Pendakian ke Semeru kemarin jelas nggak akan pernah saya lupakan seumur hidup. Berharga. Ya, sangat berharga. Beberapa teman meledek, ngapain naik gunung terus, hidup aja di gunung.  Ya, saya bangga karena saya mendaki sambil membawa tekad untuk mewujudkan mimpi teman-teman dan tamu saya, saya bangga bahwa saya mengusahakan banyak hal demi mencapai mimpi mereka! Meski hanya mimpi tentang gunung, tapi insha Allah dari sana justru saya maupun mereka akan belajar banyak hal tentang kehidupan..

IMG_1946IMG_2011IMG_3407IMG_3410IMG_3453

dsc_0263_2

img_9743

img_9749

Teruntuk putraku “Byan”

Rindu Ayah masih tertinggal di Shelter Akhir, Biarkan suatu saat nanti aku bisa membawa kembali Senandung padamu dan untuk para sahabat..

Senandung yang masih terngiang di telingaku.. Syahdu, mengundang rindu, yang sempat tertahan dalam kalbu..

Nampak di sana, Purnama menghangatkan malam..

Benderang dalam kelam..

Muncul layaknya bayangan yang mengisi setiap jengkal kehidupan..

Begitu berarti..

Walau tak pernah pasti,

Itu kan termiliki..

Asa itu selalu tersimpan dan membara di lubuk hati..

Suatu Malam di bawah bintang2 di jalur terlarang..
Teruntuk putraku yang sangat kusayangi, senandung itu tak kan selamanya berlagu bila kau selalu diam mengharapkannya, percayalah, untuk terus maju dan membuang semua peluh, yakin pada setiap apa yang kau impikan, hingga nanti senandungmulah yang akan berlagu untuk menyambut perwujudan mimpi-mimpimu..
Ayah akan selalu disini nak, menemani langkahmu, mengusap peluhmu, membelaimu dengan doa, menyambutmu dengan senyu terindah, memberikan bahu untukmu bersandar ketika kau lelah berlari untuk mengejar mimpi-mimpimu..

Ayah akan selalu terjaga untukmu, tertawa saat kau bercanda, menangis haru saat kau dapatkan kesempatanmu, sembari memelukmu erat..

IMG_1394IMG_1391

Ayahlah seseorang tidak akan pernah meninggalkanmu sendiri..

Karena inilah cintaku.. Engkaulah kasihku “Byan”..

Saat ini bulan tak nampak, tapi bintang disini nampak memenuhi pandangan Ayah nak.. Kalo Byan ada disini pasti Byan bakal suka.. Ayah percaya bahwa Byan akan banyak berdoa & berharap pada bintang2 yg jatuh saat ini..

Ini Gunung favorit ayah, Gunung tempat ayah bekerja nak.. Bahkan Gunung ini mungkin bisa jadi tempat favorit kamu suatu saat nanti nak..
Inilah sebuah pengharapan yang tertuang ketika dingin memeluk malam, dalam hati kecilku di bukit ini.

Ditengah gelapnya jalur ini, Memoriku memutar kembali semua rentetan potret indah yang aku alami dengan “Pelangiku” Binar matanya, celotehannya, cemburunya, bawelnya, bahkan umpatan-umpatannya..

Meski memang ayah harus bekerja lebih keras lagi, tapi ayah akan selalu yakin untuk lepas dari ketidaktahuan.. karena semangatku ada disini, selalu membara dalam hati..

Terima kasih untuk pijar yang pernah kau cahayakan di perjalananku “Pelangi”..

“Everytime we fall down to the ground, we look up to the blue sky above
We wake to its blueness, as for the first time
Though the road is long and lonely and the end far away, out of sight
I can with these two arms, embrace the light
Somewhere a voice calls, in the depths of my heart
Keep dreaming your dream and dont ever let them aparts
The whispering voice we never want to forget, in each passing memory
Always there to guide you” –spirited away-
-FA-

IMG_2319

***

Jangan pernah meninggalkan Sampah Kalian di Jalur pendakian atau tempat anda bertualang..

Jaga Semesta ini untuk cucu kita nanti, biarkan mereka juga menikmati  seperti yang kita lakukan.. Pastikan pula mereka menikmati keindahan Indonesia..

IMG_20150215_102341

Photos by : #G4D4Adventure

#SalamLestari

-FA-

 

Tabah Hingga Akhir

Sepasang tongkat kini tak pernah jauh dari Irfan Ramdhani sejak kakinya lumpuh. Irfan sempat membayangkan tak lagi bisa mendaki gunung, arung jeram, susur goa, hingga panjat tebing yang menjadi kegemarannya selama ini.

www.belantaraindonesia.org
Irfan Ramdhani di Ranu Kumbolo dalam perjalanan menuju Gunung Semeru. | DOK IRFAN RAMDHANI

Pada waktu bersamaan ia juga diputus cinta oleh sang kekasih. Namun pria ceria ini tak mau berlama-lama larut dalam kesedihan. Irfan kembali menjadi petualang alam meski di tengah keterbatasannya.

Sepasang tongkat itu akhirnya menemani Irfan mendaki Gunung Semeru, Jawa Timur dan Gunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat. Tak hanya bagi Irfan, dua gunung itu memang diidamkan para pendaki. Gunung Semeru merupakan gunung berapi tertinggi di Pulau Jawa dan Gunung Rinjani adalah gunung tertinggi kedua di Indonesia. Tak ada yang menyangkal, kedua gunung itu menyuguhkan karya indah Sang Maha Pencipta.

Dalam benak sempat terlintas, apa bisa saya naik gunung lagi saat bertemankan setia dengan tongkat ini? Ah, sebenarnya itu tidak baik dibicarakan karena perkataan adalah doa. Jadi saya hanya yakin dan yakin agar bisa menggapainya,” ujar Irfan.

www.belantaraindonesia.org
Irfan Ramdhani latihan diving sekaligus terapi untuk kakinya di laut Nusa Penida, Bali bersama Bali International Diving Professional ( BIDP ). ( Dok Irfan Ramdhani )

Kerinduan Irfan bercengkrama dengan alam membuatnya bertekad kuat untuk mendaki lagi. Untuk pertama kalinya ia mendaki Semeru dan Rinjani, sekaligus dalam keadaan lumpuh. Meski harus pakai sepasang tongkat, mengapa tidak?

Jalan seperti kepiting hingga digendong
Menjajal medan pegunungan dengan tongkat untuk menopang kaki yang berjalan tentunya berbeda. Gunung Semeru berketinggian 3.676 Mdpl adalah gunung pertama yang ia daki dengan tongkat itu. Tiba di kaki Gunung Semeru, Irfan terdiam sejenak mengumpulkan kembali tekadnya. Mahameru yang menjulang tinggi seakan terus memanggilnya dan menambah energi semangat itu.

Berada di kaki Gunung Semeru sudah membuatnya tertegun. Irfan tak menyangka bisa berada di sana yang sebelumnya hanya ada dalam lamunan dan mimpi dalam tidurnya. Sembari membayangkan Mahameru dan indahnya danau Ranu Kumbolo, Irfan terus meyakinkan diri dalam hati. Kedua tongkat itu dijepit kencang pada ketiaknya.

Saat pertama kali menginjakkan kaki serta melangkahkannya di gunung itu saya terdiam sejenak dan mendongakkan kepala ke atas agar bisa menghirup udara segar yang merasuk kedalam otak saya. Dalam hati saya berdoa,” ucap pria kelahiran 26 April 1990 itu.

www.belantaraindonesia.org
Saat jalur curam atau terjal, Irfan harus mengesot. ( Dok Irfan Ramdhani )

Tak selalu mengapit tongkatnya, Irfan juga harus mengesot ketika mendapati medan yang menanjak atau curam. Ketika jalan menurun, Irfan harus meluncur dengan hati – hati. Bahkan ia harus berjalan miring seperti kepiting ketika melewati jalur yang sempit dan di sisi kiri atau kanannya terdapat jurang.

Kalau dulu sebelum saya memakai tongkat, saya bisa berlari – lari saat mendaki gunung. Tapi ketika dengan kedua tongkat, saya harus ekstra hati – hati,” katanya.

Di sana, Mahasiswa Pencinta Alam ( Mapala ) Universitas Gunadarma itu ditemani sahabatnya Fernando Halim serta teman – teman sesama Mapala setempat. Sepanjang jalan ia bersyukur karena banyak bertemu pendaki lain yang ikut membantu. Irfan menceritakan, hampir setiap pendaki berjabat tangan padanya dan menepuk bahunya untuk memberikan semangat untuk bisa sampai atas.

Cerita Irfan pada pendakian di Rinjani yang baru saja dilakukannya bulan Mei 2013 ini juga tak kalah menarik. Pada gunung yang memiliki ketinggian 3.726 Mdpl itu, Irfan mencapai Danau Segara Anak melalui rute Torean.

Jalur yang cukup ekstrem baginya membuat pendakian Irfan yang ditemani Salmon dan Sevis dari Grahapala Rinjani memakan waktu 12 hari untuk naik dan turun gunung Rinjani. Waktu tempuh itu lebih dari biasanya.

Saya melewati sungai, menyisir tebing dengan tali webing yang dijadikan harnest full body, ditambah carabiner untuk pengaitnya. Saya full ngesot melewati suatu punggungan di atas sungai,” paparnya.

Irfan harus dibopong ketika melewati punggungan, juga digendong meniti jalur sungai dengan bebatuan tak beraturan. Hal terberat bagi Irfan, saat kaki kirinya tidak bisa digerakkan dan membengkak. Saat itu, Irfan harus mengesot dalam perjalanan pulang dari Danau Segara Anak melalui rute Sembalun.

Keterbatasan bukan hambatan
Irfan lumpuh karena terjatuh dari dinding panjat pada ketinggian 10 meter, Maret 2010. Dia jatuh menyentuh aspal dalam posisi duduk yang menyebabkan bagian pinggang hingga kaki tak bisa digerakkan.

Sebelum memakai tongkat, pria yang kerap disapa Pancong itu sempat hanya duduk di kursi roda. Beruntung, Irfan terus mendapat dukungan dari sang ibunda, Ilis dan orang sekitarnya. Bahkan dari orang yang digemarinya yaitu Riyanni Djangkaru, seorang diver yang pernah membawakan acara petualangan di stasiun televisi swasta.

Melalui Riyanni, Irfan kini menjalani terapi untuk kakinya dengan diving di Bali International Diving Professional ( BDIP ).  Di sana ia bertemu para penyelam dari Yayasan Senang Hati yang juga memiliki keterbatasan sepertinya.

www.belantaraindonesia.org
Irfan ( tengah ) dibantu Nando dan Boby melewati jalur di Gunung Semeru. ( Dok Irfan Ramdhani )

Petualangan demi petualangan baru terus dijajakinya. Kini, ia pun telah mengantongi sertifikat diving. Irfan juga tak pernah absen menceritakan pengalamannya yang rencananya akan dibukukan dengan judul “Tabah Sampai Akhir“.

Irfan berharap dapat kembali berjalan normal meski saat itu ada dokter yang menyatakan ia akan lumpuh selamanya. Mimpinya menjelajahi alam Indonesia tak pernah padam. Ia ingin mendaki gunung es hingga menyelam di surga bawah laut, Raja Ampat, Papua.

Jika pikiran saya bisa membayangkannya, hati saya bisa meyakininya. Saya tahu akan menggapainya jadi berpikirlah positif dan bermimpilah kawula muda, para petualang. Jagalah mimpi – mimpi itu agar bisa menjadi nyata. Keterbatasanku tidak membatasiku untuk menembus batas, karena keterbatasan bukan suatu hambatan dan bahwa tabah bukan di awal, tabah juga bukan di pertengahan, tapi tabah sampai akhir,” papar Irfan.

#‎CeritaUntukIndonesia

 

Jadilah Pemuda Bermutu Ala Soe Hok Gie

Sebagai anak muda Indonesia pada masa sekarang sudah terlalu banyak di cekoki hal – hal yang terlalu naif bagi perkembangan jiwa. Mulai dari tayangan kekerasan dan aneka kerusakan moral di televisi, berita korupsi di berbagai media dan lain – lain. Masih adakah pemuda bermutu di negeri Indonesia ini yang masih bisa diteladani?

www.belantaraindonesia.org

Kita pernah punya anak muda berkualitas yang layak dijadikan role model. Dia adalah pria keturunan Cina pribumi, bernama Soe Hok Gie. Walau sudah kembali ke pangkuan Tuhan pada tahun 1969, semua yang pernah dia lakukan masih sangat relevan untuk kita contoh hari ini. Dari Gie kamu bisa belajar tentang hidup yang sebenarnya. Dia punya otak, nyali, idealisme juga kisah cinta yang tak kalah manis.

1. Gie Mengambil Jurusan Yang Sesuai Rencana Dan Tidak Mainstream
Kamu baru mau kuliah? Mau ambil jurusan apa? Apakah kamu termasuk anak muda yang percaya jika jurusan yang bisa memberikan kehidupan yang baik itu hanya ada 3 di muka Bumi: Kedokteran, Teknik, dan Hukum? Gie akan memberikan kamu pandangan baru: kamu bisa berhasil jika mengikuti panggilan hati untuk menentukan jurusan.

Gie adalah mahasiswa Universitas Indonesia, Fakultas Sastra, Jurusan Sejarah. Bahkan sampai saat ini mahasiswa Jurusan Sastra masih sering dicemooh karena dianggap akan sulit mencari pekerjaan, bukan? Kecintaan Gie pada sastra tidak bisa dipisahkan dari kehidupan keluarganya. Ayahnya, Soe Li Pit adalah seorang novelis. Ia dan kakaknya ( budayawan, filsuf, dan dosen Australian National University Arief Budiman ) banyak menghabiskan waktu untuk membaca di perpustakaan umum sejak mereka masih kecil.

www.belantaraindonesia.org

Semasa SMP, Gie sudah membaca buku langka karangan Pramoedya Ananta Toer yang berjudul “Cerita Dari Blora”. Masuk ke SMA, Gie memilih untuk konsisten menekuni jalur sastra. Ia masuk ke SMA Kolese Kanisius dengan mengambil Jurusan Sastra. Tidak peduli kakaknya masuk ke Jurusan Ilmu Alam yang lebih bergengsi.

Keberhasilan Gie menyuarakan opininya lewat berbagai esai kritis jadi bukti pentingnya menuruti panggilan hatimu. Tidak usah dengarkan apa kata orang kalau mereka bilang pilihan jurusanmu tidak akan bisa menghidupimu kelak. Mutiara akan tetap jadi mutiara kok, dimanapun dia diletakkan.

2. Selalu Menyatakan Keberpihakan
Gie tidak pernah memilih hidup di arena abu – abu. Ia selalu menyatakan keberpihakannya dalam setiap isu. Bahkan waktu SMP dia pernah tidak naik kelas karena berani mengungkapkan pendapatnya pada guru. Dihadapkan pada otoritas, Gie tidak menyerah. Karena merasa benar, ia memilih untuk pindah sekolah.

www.belantaraindonesia.org
74be21262324d9cded288e70f8ab6cf3 Soe Hok Gie

Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan”

Kutipan kata – kata Gie diatas memang benar – benar jadi pedomannya selama hidup. Semasa kuliah Gie jadi aktivis yang sangat vokal untuk menentang upaya hegemoni Orde Lama. Dia menggalakkan forum diskusi dan klub film di UI. Gie pun memilih untuk menulis bagi surat kabar yang beraliran kiri.

Keberanian Gie membuatnya jadi salah satu aktivis paling dicari pada masa pemerintahan Soekarno. Gie dianggap terlalu berani melawan penguasa. Bahkan ibu dan kakaknya tidak bisa memahami mengapa Gie harus segetol itu menunjukkan sikapnya yang berseberangan. Beberapa rekannya juga menjauh, karena enggan dianggap sama vokalnya. Gie tidak gentar menghadapi semua itu.

Soe Hok Gie dengan gagah menunjukkan keberaniannya. Tidak peduli apapun yang harus dihadapi, ia hanya enggan apatis. Baginya menyatakan keberpihakan adalah bentuk kebebasan hakiki dari penjajahan. Dalam hidup, seseorang memang harus memilih. Atau tidak akan menjadi apa – apa.

“Hanya ada 2 pilihan, menjadi apatis atau mengikuti arus. Tetapi aku memilih untuk jadi manusia merdeka.

3. Mencintai Indonesia Dengan Mengakrabi Setiap Jengkal Tanahnya
Gie jadi salah satu pendiri Mahasiswa Pencinta Alam ( Mapala ) Universitas Indonesia. Salah satu kegiatan utama Mapala UI adalah naik gunung. Berbeda dari yang biasa dilakukan anak – anak muda sekarang, naik gunung buat foto – foto karena demam Film 5 cm – naik gunung di jaman Gie itu ibarat perang.

www.belantaraindonesia.org
Gie (kanan), Herman Lantang dan Idhan Lubis

Belum ada trek yang jelas bagi pendaki. Tim pendakian harus memotong semak belukar untuk membuka jalur. Tidak ada keril yang ringan seperti sekarang. Mereka harus membawa ransel rangka alumunium bekas pengangkut barang tentara yang kasar dan berat. Alat – alat keselamatan seperti kantung tidur, webbing dan pakaian berlapis polar juga belum ditemukan.

Dalam catatan hariannya yang kemudian dibukukan dan kita kenal sebagai “Catatan Harian Seorang Demonstran” — Gie mengutip perkataan penyair Amerika Walt Whitman untuk menjelaskan mengapa ia dan kawan – kawannya perlu naik gunung:

Now I see the secret of the making of the best person. It is to grow in the open air and to eat and sleep with the earth”

Gie memang sangat mencintai alam. Dia bahkan khusus menulis sajak bagi Lembah Mandalawangi di Gunung Pangrango. Bagi Gie, tidak akan ada kecintaan yang timbul tanpa pernah menginjakkan kaki di atasnya. Slogan – slogan manis tentang cinta tanah air adalah omong kosong baginya. Kata Gie,

“Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan – slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.”

Kamu yang udah traveling keliling Eropa tapi belum pernah menginjakkan kaki di Mahameru, malu gak kalau menilik apa yang sudah dilakukan Gie?

4. Menghadapi Patah Hati Dengan Elegan
Walau terkesan gahar sebagai aktivis yang keras menyuarakan kepentingan rakyat, ternyata Gie punya sisi manis yang tetap dekat dengan sastra. Tidak hanya pandai menulis esai opini, ia pun pandai menyusun rima dalam kata – kata. Yup, siapa sangka pria se – lakik Gie ternyata adalah seorang penyair?

www.belantaraindonesia.org
Illustrasi Kisah Cinta Gie

Puisinya, “Sebuah Tanya” barangkali jadi salah satu potongan sajak yang paling dikenal oleh anak muda masa kini:

“apakah kau masih akan berkata kudengar derap jantungmu kita begitu berbeda dalam semua kecuali dalam cinta”

Masih kurang romantis? Ayo kita baca puisi Gie yang ditulis pada tahun 1969:

“Tapi aku ingin mati di sisimu, manisku
Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya – tanya
Tentang tujuan hidup yang tak satupun setan yang tahu

…… kita tak pernah menanamkan apa – apa, kita tak ‘kan pernah kehilangan apa – apa”
Puisi tersebut konon ditulis Gie pasca galau karena bingung bagaimana harus mengungkapkan perasaan pada Ker ( Kartini Sjahrir ). Kisah cinta Gie memang agak misterius. Dia dikenal banyak memiliki teman dekat wanita, namun hanya Ker lah yang membuat Gie bimbang. Pada akhirnya Gie tidak pernah mengungkapkan perasaannya pada Ker. Teman dekat Gie, Ciil ( Sjahrir ) yang justru menikah dengan Ker.

www.belantaraindonesia.org
Ker, Cinta Lama Gie

Gie menunjukkan bahwa tidak semua perasaan harus diungkapkan ke publik. Ia memilih menyimpan rasa yang paling privat itu untuk diri sendiri dengan menuangkannya lewat sajak.

“Yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan adalah dapat mencintai, dapat iba hati, dapat merasai kedukaan”

Pernah merasakan cinta yang dalam dan tulus sudah cukup bagi Gie. Tidak bisa mendapatkan balasan yang diharapkan juga dihadapinya dengan gagah dan tidak menye – menye. Kalau Gie masih hidup sampai era Twitter, kamu tidak akan mendapati tweet galau dari akunnya. Alih – alih nge-tweet galau, patah hati justru bisa diraciknya jadi kata – kata puitis nan manis. 

5. Mati Terhormat 
Entah ada hubungannya atau tidak dengan kematian dramatisnya di Gunung Semeru, semasa hidup Gie memang dikenal ingin mati muda. Dalam “Catatan Seorang Demonstran” Gie menunjukkan bahwa ia sepakat dengan perkataan seorang filsuf Yunani:

P1100344
Puncak Mahameru

nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan tersial adalah umur tua”

Gie meninggal saat mendaki puncak Mahameru, puncak tertinggi Pulau Jawa tepat sehari sebelum ulang tahunnya yang ke 27 tahun. Kematian Gie hingga saat ini belum bisa ditentukan secara pasti penyebabnya.

Ada yang mengatakan bahwa Gie meninggal karena menghirup gas beracun dari kawah Jonggring Saloka, Semeru. Ada pula yang berpendapat bahwa kematian Gie memang telah direncanakan. Agar ia tak lagi merecoki pemerintahan Soekarno dengan kritik pedasnya.

IMG_0291 MAKAM GIE
Makam Gie

Gie memang sudah pergi. Namun semangat dan perjuangannya akan terus terkenang di hati. Gie adalah bukti bahwa Indonesia pernah punya anak muda yang gigih memperjuangkan keyakinan dan mimpi. Dibalik carut marut negeri, ibu pertiwi pernah melahirkan pria sebaik Soe Hok Gie. Bukan tak mungkin Gie – Gie lain akan segera lahir kembali, dari kita. 

“Selamat jalan, Gie. Cita – citamu untuk mati muda telah tercapai. Berbahagialah, dalam ketiadaanmu”

???????????????????????????????

#‎CeritaUntukIndonesia
#G4D4Adventure

-FA-