Tegarlah Kalian para Pengais Berlian Kuning di Surga Indonesia

Gunung Ijen adalah sebuah Gunung Berapi aktif yang terletak di daerah Kabupaten Banyuwangi, Jawa timur. Gunung ini mempunyai ketinggian 2.443 m dan telah empat kali meletus (1796, 1817, 1913, dan 1936).

Sedangkan Kawah Ijen sendiri adalah sebuah Danau kawah yang bersifat asam, yang berada di puncak Gunung Ijen dengan tinggi 2368 meter di atas permukaan laut dengan kedalaman danau 200 meter dan luas kawah mencapai 5466 Hektar. Kawah Ijen berada dalam wilayah Cagar Alam Taman Wisata Ijen, Kabupaten Banyuwangi, Jawa timur.

Sumber artikel: wikipedia indonesia

Api seperti yang diketahui warnanya pasti merah, lantas bagaimana jika Anda ingin melihat sebuah api yang warnanya berbeda, tidak merah melainkan berwarna biru dan keluar dari sebuah kawah gunung. Dapatkah dibayangkan Anda berdiri dan menyaksikan fenomena itu dengan kepala Anda sendiri, momen keajaiban alam yang tiada taranya. Teramat spesial untuk dilewatkan karena di dunia hanya ada dua fenomena yang terjadi seperti ini dan salah satunya ada di Indonesia.

Salah satu Surga Indonesia itu Adalah kawah biru atau blue fire, fenomena alam yang unik dan hanya dapat dilihat di Kawah Ijen – Banyuwangi saja. Saking indahnya fenomena ini bahkan mengalahkan popularitas matahari terbit di Banyuwangi yang disebut sebagai matahari pertama di Jawa. Tak hanya itu, banyak wisatawan dari berbagai negara rela datang jauh-jauh sekedar untuk melihat penampakan si Api Biru di kawah Ijen.

 

 

_DSC0052cp2

ttt

1Sumber: http://survival491m.blogspot.com

Sumber: http://alfinbanyuwangi.blogspot.com

P1050419

 

DSC00805

 

 

 

 

DSC00810

 

DSC00813

 

P1050409

P1050407

P1050408

P1050422

P1050425

DSC_3981 DSC_3985

 

252018DSC_3938

DSC_3914231924

Kawah Ijen memang sebuah objek wisata yang merupakan tempat untuk melepas lelah, mengaplikasikan bakat fotografi dan untuk bersenang-senang, tapi tak kau tengok orang-orang yang mengenakan pakaian lusuh, dengan senyumnya yang tak pernah redup dan tak hentinya menyapa setiap pengunjung yang sedang mendaki? Dapat kita lihat wajahnya yang memancarkan aroma keletihan yang luar biasa, fisiknya yang kurus karena beban kewajiban yang harus ia kerjakan,berjuta tetesan keringat yang mengiringi langkah kemana ia membawa banyak sekali Mutiara Kuning dari lembah Ijen yang merupakan sebuah “Berlian” agar dapat menyambung hidup keluarga yang tlah menunggunya untuk kembali kerumah.

Kehidupan sosial penambang belerang sangat terjaga dengan baik.

Para penambang berangkat dan pulang bekerja bersama-sama dalam setiap aktivitasnya sebagai penambang.  Rasa sosial yang tinggi ditunjukkan dengan adanya sebuah kepedulian dan rasa kehilangan, jika salah satu teman mereka tidak bekerja. Adanya kebiasaan bercanda bersama saat penambangan membuat mereka terikat pada suatu ikatan emosional yang tinggi.

Menurut saya pribadi, Sebenarnya mereka adalah objek utama wisata, salah satu alasan kuat mengapa ada banyak sekali turis datang mengunjungi daerah wisata ini. Sosok orang yang patut kita perhatikan dan teladani semangat yang mereka miliki seakan tak pernah termakan zaman. Keramahan, kepedulian, serta kegigihan yang patut kita contoh untuk bersama-sama membangun negeri ini agar lebih pantas untuk dikatakan sebagai negara yang Merdeka!

Orang-orang yang sehari-harinya bermandi keringat itu adalah kumpulan penambang belerang tradisional yang dimiliki oleh Bondowoso tercinta. Mereka adalah seseorang yang pantas dikatakan sebagai orang-orang yang kuat dan hebat, tidak semua yang dikatakan hebat adalah orang yang memiliki pengetahuan yang luas, berpendidikan, sarjana dan berprestasi, tetapi orang hebat adalah orang yang tegar dan tetap semangat menjalani hidup yang pahit ini dengan senyuman, dan orang hebat adalah seseorang yang mampu bangkit ditengah keterpurukan yang melanda hidupnya. Mengapa demikian? Bayangkan saja, Beban yang diangkut masing-masing penambang belerang beratnya mencapai 85-100 kg. Beban ini luar biasa berat buat kebanyakan orang, apalagi belerang diangkut melalui dinding kaldera yang curam dan 800 m menuruni gunung sejauh 3 km. Terlebih, Penghasilan yang diterima seorang pemikul rata-rata 25 ribu rupiah per harinya. Seorang pemikul biasanya hanya mampu membawa turun satu kali setiap harinya, karena beratnya pekerjaan.

Bukan hanya itu, mereka dengan beraninya mendekati danau untuk menggali belerang dengan peralatan sederhana lalu dipikul dengan keranjang. Para penambang belerang ini mengambil belerang dari dasar kawah. Disana asapnya cukup tebal, namun dengan peralatan penutup hidung sekadarnya seperti sarung, mereka tetap mencari lelehan belerang tanpa kenal lelah. Lelehan belerang didapat dari pipa yang menuju sumber gas vulkanik yang mengandung sulfur. Gas ini dialirkan melalui pipa lalu keluar dalam bentuk lelehan belerang berwarna merah. Setelah membeku belerang berwarna kuning. Setelah belerang dipotong, para penambang akan memikulnya melalui jalan setapak.

Selain harus melewati jalan-jalan yang curam, kandungan asap yang dikeluarkan dari belerang nyaris membahayakan, dapat mengakibatkan rasa mual, pusing juga dapat menyebabkan kerusakan pada paru-paru karena asap yang dikeluarkan dari kawah dimana tempat bebatuan  belerang berada dan karena terlalu sering menghirup asap tersebut tanpa menggunakan masker.

Menurut informasi yang saya dapatkan, Senyawa organik yang terkandung dalam belerang sangat penting. Yaitu meliputi, Kalsium sulfur, ammonium sulfat, karbon disulfida, belerang dioksida dan asam sulfida.

Begitu berat bukan? Pekerjaan yang mereka tekuni selama ini sesungguhnya adalah salah satu jenis pekerjaan maut.

 

 

21 17

Pekerjaan melelahkan dan berbahaya ini juga dilakukan sejak jam 3 pagi sampai jam 3 sore dengan harga perkilo ± 600 rupiah. Sehingga apabila mereka sanggup membawa beban rata – rata 70 kg perpikulan dengan 3 pikul yang artinya 3 kali pulang pergi maka mereka hanya mendapat 126 ribu per-hari. Namun, hari kerja mereka rata – rata adalah 2 hari kerja dan 1 hari libur. Sebagai tambahan pendapatan mereka seringkali menjual souvenir patung cetakan dari belerang murni mereka dengan harga 5ribu perbiji. Juga seringkali mereka bertindak materilistis dengan meminta bayaran 10 ribu per-pose apabila mereka dipotret utuh ketika bekerja. Memang mungkin bila dihitung kasar pekerjaan marabahaya ini begitu menggiurkan namun,berdasarkan pengamatan, memang pendapatan mereka cukup besar, akan tetapi mengapa rata-rata para penambang belerang hidup secara sederhana dan mengalami kesulitan ekonomi?

Secara logika, mereka tergolong masyarakat “bagian bawah” mungkin karena beberapa faktor. Salah satunya disebabkan oleh SDM yang rendah. Karena, mayoritas masyarakat yang tinggal di daerah-daerah terpencil masih belum mampu berpikir secara kritis. Misalnya, mereka sebagai penambang belerang masih belum mampu mengolah pendapatan yang mereka terima dengan sebaik mungkin. Dan mereka tergolong masyarakat yang “konsumtif”. Mungkin beberapa dari mereka tak memiliki pemikiran untuk menyimpan sebagian pendapatan yang mereka terima sebagai tabungan. Hal ini dikarenakan masyarakat disana memiliki pola pemikiran yang sederhana. Dengan pola pemikiranan yang demikian, kehidupan seseorang tak akan pernah maju meskipun pendapatan yang mereka peroleh besar sekalipun.

Faktor lainnya yaitu, Pendidikan yang rendah (masih terkait dengan pola pemikiran yang sederhana). Contohnya, Di kawasan Kawah Ijen, terutama mereka yang bertempat tinggal di lereng Gunung Ijen, lebih memilih untuk bekerja sebagai penambang belerang. Pilihan ini diambil karena untuk menjadi penambang belerang tidak membutuhkan pendidikan yang tinggi, melainkan hanya kerja keras dan kekuatan fisik.

Faktor yang mempengaruhi berikutnya, yaitu dengan di naikkannya harga belerang menjadi 600 rupiah perkilogramnya, keputusan ini tidak banyak membantu para penambang dalam mencukupi kebutuhan hidupnya, apalagi bagi mereka yang  memiliki anak dalam jumlah yang banyak serta para penambang yang memang sudah berusia lanjut dan tidak kuat lagi mengangkat beban yang terlalu berat, akhirnya para penambang yang tergolong manula ini mengangkut belerang semampunya tanpa adanya target hasil. Keadaan ini juga yang membuat kehidupan ekonomi para penambang menjadi sangat minim.

Kondisi penambang belerang memang semakin memprihatinkan, yang mana ekonomi mereka semakin sulit dikarenakan semakin mahalnya barang-barang kebutuhan pokok yang harus dibeli semakin mahal. Sehingga masyarakat yang berpenghasilan rendah termasuk penambang belerang akan semakin terpuruk kondisinya. Kenaikan harga kebutuhan hidup dikhawatirkan berdampak kepada kehidupan para penambang belerang khususnya kemampuan dalam memenuhi kebutuhan dasarnya dan jika tidak dirumuskan kebijakan yang memihak rakyat kecil maka akan memunculkan dampak sosial yang sangat besar di masyarakat seperti peningkatan jumlah kemiskinan, meningkatnya jumlah pengangguran dan masalah-masalah sosial lainnya.

Bukan hanya itu, pada tahun 2009, para penampung belerang mereka yaitu perusahaan gula di Banyuwangi mayoritas sudah mulai mengurangi pembelian mereka akan belerang kawah ijen, ini dikarenakan mengimpor belerang dari Singapura lebih murah. Jadi bila hal ini dibiarkan terus menerus maka kemungkinan tahun-tahun berikutnya kita bisa saja tidak melihat aktivitas para penambang Belerang ini. Walau memang aktivitas ini sejatinya kurang beradab.

DSC0081356 IMG-20141019-WA0199IMG-20141019-WA0194DSC_3967

Bahkan ada beberapa masalah yang dialami oleh para penambang belerang di daerah sana, antara lain yaitu Kegiatan penambangan ternyata sempat menimbulkan kontroversi. Akibat keuntungan yang menjanjikan, sempat juga dipaksakan sebuah proyek pembuatan pipa saluran yang dapat langsung menuju tempat olahan di pinggir jalan raya. Namun, karena desakan beberapa LSM lingkungan setempat yang merasa keberatan akan kerusakan lingkungan yang mungkin terjadi dari pembangunan tersebut, akhirnya proyek itu tidak jadi dilaksanakan. Bisa dibayangkan memang bila proyek tersebut benar terjadi, berapa banyak daerah yang akan tergerus, belum lagi dampak hilangnya mata pencaharian para penambang tradisional yang sudah puluhan tahun menambang di Gunung Ijen.

Hal ini yang menjadi beberapa kendala bagi para penambang dan membuat kondisi perekonomian mereka masuk dalam kategori rendah. Belum lagi dampak dalam diri penambang belerang sendiri, yakni kerusakan paru-paru akibat gas yang dikeluarkan oleh kawah dimana tempat bebatuan  belerang berada.

Meski demikian, masih dapat kita lihat bersama senyum keikhlasan yang terpancar dari raut wajah mereka yang sebenarnya menyimpan berbagai masalah kehidupan yang suatu saat nanti mampu membuat mata pencaharian yang sudah mereka tekuni bertahun-tahun perlahan pupus dan hilang. Pekerjaan yang sangat berbahaya dan cukup mematikan ini hanyalah satu-satunya yang membantu mereka untuk tetap bertahan hidup dan menghidupi keluarganya.

Lalu, untuk menambah penghasilan, mereka juga banyak yang menawarkan jasa mengantar hingga ke lokasi pertambangan. Dengan demikian, jangan sebut mereka matrealistis atau pamrih dalam menolong para wisatawan. Karena untuk bisa mencapai Kawah Ijen dan lokasi tambang belerang, dari puncak kita masih harus berjalan sekitar satu kilometer dengan trek yang sangat sulit juga batuan kering yang terjal. Kita harus sangat memperhatikan setiap langkah kaki yang diambil karena sangat berbahaya bagi penambang yang masih di bawah apabila ada batu yang jatuh akibat salah langkah.Jadi,kita sudah tau bukan alasannya? Menjadi seorang guide tidaklah mudah, apalagi dengan lokasi yang sangat membahayakan seperti itu, belum lagi para penambang harus extra hati-hati dalam memandu dan membawa para wisatawan, karena itu sudah menyangkut nyawa seseorang, salah satu langkah saja  sudah fatal akibatnya.

Mereka bagaikan budak ekonomi di era Globalisasi seperti saat ini, tenaga yang mereka keluarkan tak sebanding dengan apa yang mereka terima. Setiap keringat yang mengucur dari tubuhnya, tak sebanding dengan nikmatnya setiap makanan yang ia telan. Sungguh miris kehidupan para penambang belerang seperti mereka ini. Saya akhirnya mengerti mengapa para penambang tersebut selalu meminta sebatang rokok kepada beberapa pengunjung, karena ternyata satu kilogram belerang yang mereka bawa saja tidaklah cukup untuk membeli sebatang rokok yang mereka hisap tersebut. Bahkan, dari setiap kilogram yang mereka bawa, dengan keringat deras yang mengucur, dari setiap kilogram yang melukai punggung kecil mereka ada perjuangan untuk bisa bertahan hidup, dari setiap kilogram yang meremukkan tulang mereka yang ringkih ada seuntas senyum dan harapan bahwa mereka akan pulang dengan membawa uang untuk membeli beras kepada istri yang menunggu di rumah.

Maka dari itu, ayo kita jangan sampai lupa untuk bersyukur atas apa yang sudah kita miliki saat ini,

Mereka yang sudah tua saja masih semangat, kenapa kita tidak??

 

*Satu hal lagi yang Harus dan Wajib saya Informasikan kepada kalian yang telah membaca tulisan saya ini..

Tetap Jaga Kelestarian tempat anda berwisata, jagalah Kebersihannya dan hindari segala bentuk Vandalisme..

Jangan pernah ambil atau merusak apapun di tempat ini..

Biarkan semua tetap pada tempatnya, dan mati termakan usianya sendiri.

Jaga Indonesia dan Semesta ini untuk cucu kita nanti, agar kelak mereka juga bisa menikmati apa yang namanya Paradise of Indonesia itu..

IMG_20150215_102341

Photos by : Anton Gamaliel & Fajar Achmadi #G4D4Adventure

#SalamLestari

#‎CeritaUntukIndonesia

-FA-

Advertisements

Rinduku Tertinggal di Shelter Akhir

Ini adalah perjalanan saya yang ke sekian kalinya ke Semeru, atap tertinggi pulau Jawa. Rencana pendakian berawal dari kemauan dan desakan salah satu teman. Dia sangat tertarik untuk kesana, setelah sebelumnya melihat foto-foto saya via social media dan blog pribadi saya.. Kita yang berasal dari berbagai daerah, mulai dari saya sendiri (Malang), Suryadi (Balikpapan), Bejo (Bontang), Pak Ruslan (Makassar), Mbak Yanti (Surabaya), Maulana (Balikpapan), Hamid (Bogor) langsung berdiskusi, dan diputuskan tanggal 15 Agustus 2015 kami akan jalan. Kami juga mencoba mengajak teman-teman lain yang mau ikut. Hasilnya sekitar 7 orang yang mau jalan dan mereka semua baru pertama kalinya ke Semeru. Saya dipercayakan untuk mengatur semua persiapan dan perlengkapan dengan dalil sebagai orang yang sudah sering menginjakan kaki disana..

15 Agustus 2015

MALANG

7 orang dari kami, memulai perjalanan hari itu dari Stasiun Kota Malang. Tepat pukul 08.00 WIB. kami bergerak menuju Tumpang, suatu desa kecil di kab. Malang. Dari sana, kami berganti kendaraan menggunakan Jeep berpenggerak 4×4 untuk menuju pos perizinan, yaitu pos Ranupani. Untuk menuju Ranupani,
Hari itu kami bertemu 2 orang teman baru, yaitu bule dari Prancis! Haha . Mereka berdua bernama Clo & Marie. Rupanya mereka kebingungan karena tidak ada satupun orang yang mereka jumpai dapat berbahasa Inggris. Kalo kami, yah lumayan lah, buktinya kami bisa bercakap-cakap dengan mereka. Haha 

 

RANUPANI

Perjalanan menuju Ranupani, kita akan melewati perkebunan penduduk. Kita juga akan melewati hutan, tetapi ada jalan aspal di dalamnya. Di tengah-tengah perjalanan, kita juga akan melihat savana Bromo dari atas. Semua pemandangan ini indah sekali, yang disayangkan hari itu, langit menggantung banyak sekali awan, sehingga cuaca menjadi sedikit mendung.

Sekitar pk 14.00 WIB, kami sampai di pos perijinan Ranupani. Kabut sangat tebal menyelimuti kami & beberapa kali hujan turun rintik-rintik. Pelajaran pertama yang saya dapatkan adalah “Jangan pernah sekalipun meremehkan cuaca di gunung”. Meskipun saat itu bulan Agustus, yang seharusnya matahari bersinar terik, tetapi di ketinggian 2.162 mdpl, hal tersebut tidak berlaku.

IMG_3236

img_0119

Di sekitar pos Ranupani, terdapat beberapa warung kecil yang menjual makanan. ada satu warung favorit saya.. namanya warung “Langit” mungkin karena warung itulah yang paling dekat dengan langit.. hihihihihi   

Di sana dijual nasi rawon, soto, pecel & beberapa makanan lainnya. Harganya, tentu saja mengejutkan, karena untuk seporsi nasi rawon, dengan irisan daging, dan kuah lezat yang panas kita hanya harus mengeluarkan kocek sebesar Rp 12.000,-. Menurut saya sih termasuk murah.

Pk 15.00 WIB, kami memulai perjalanan. Harap-harap cemas tanpa tahu medan-nya seperti apa, saya pede2 aja membawa tas carrier 80lt full barang bawaan & logistik. Harapan kawan-kawan saya bisa segera sampai di Ranukumbolo & menyaksikan dengan mata kepala sendiri keindahan danau yang membuat banyak orang terobsesi ke sana. Harapan mereka sepertinya kandas saat melewati & merasakan dahsyatnya trek menuju Ranukumbolo. Pk 17.00 WIB, langit mulai gelap, matahari yang sedari siang terhalang pekatnya kabut, sudah tidak bisa diharapkan untuk memberikan kami penerangan. Dalam waktu yang bersamaan, hujan pun mulai turun.  Di tengah perjalanan, saya sempat kedinginan, suhu yang menurun, disertai tetesan air hujan membuat jaket kami basah. Beruntung kami semua sudah siap dengan raincoat dan flysheet yang bisa dibuka di tengah jalur pendakian tanpa mendirikan tenda…

  • TIPS untuk teman2 pendaki, jika ingin mendaki gunung di atas 3.000 mdpl, saya sarankan gunakanlah sepatu yang nyaman. Bersol karet, sehingga tidak licin. Kalau ada, gunakanlah sepatu gunung. Jangan memakai jaket dengan bahan tebal. Selain ribet, kalau basah, justru membuat badan kita semakin dingin. Cobalah menggunakan jaket tipe windbreaker & waterproof. Cukup pakai 1-2 lapis pakaian, percayalah bahwa perjalananmu akan lebih nyaman, daripada menggunakan jaket tebal, karena seiring pendakian, asalkan kita bergerak terus, suhu tubuh akan naik dengan sendirinya.

Kembali ke perjalanan, beberapa kali kami terpaksa beristirahat untuk menaruh barang bawaan & sekedar melemaskan otot pundak. Saya pribadi sudah biasa merasakan trek menanjak dari pos Landengan Dewo & Waturejeng hingga mencapai Ranukumbolo. Halangan terbesar kawan-kawan saya bukan pada kaki, melainkan tas carrier & nafas yang tersengal-sengal akibat udara tipis gunung di malam hari. Sedangkan Halangan terbesar saya, tas carrier double milik teman wanita yang sebelumnya hampir menyerah ditengah jalur.. memang bukan pertama kalinya saya menjadi porter dadakan..

Untuk kalian para pembaca, pastikan nggak akan mencoba perjalanan Ranupani-Ranukumbolo di malam hari. Mengapa? percayalah hampir semua pemandangan indah di sana hilang, kita berebut oksigen dengan tumbuhan yang ada disana.. (masih inget pelajaran IPA saat SD khan bagaimana cara/proses tumbuhan bernafas?), semua indera mulai, penciuman, perasa, pendengaran kita dipakai dan harus tetap fokus..

Sekitar pk 23.00 WIB, akhirnya kami sampai di Ranukumbolo Terdengar suara “woosh.. woosh….”, yaitu suara angin kencang yang berasal dari arah danau. Nggak pake lama, kami segera mendirikan tenda, begitu satu tenda berdiri, teman-teman saya yang kedinginan langsung masuk & menghangatkan tubuh..

Malam itu, kami bersyukur, akhirnya kami sampai di Ranukumbolo dengan selamat setelah menghabiskan 8 jam perjalanan akibat hujan & jalanan yang licin.

  • Satu lagi TIPS pendakian di trek Ranupani-Ranukumbolo, perhatikan Team-mu, jangan sampai terpisah, terutama jika melakukan pendakian malam hari. Sudah banyak cerita para pendaki yang tersesat di tengah-tengah hutan ini. Seandainya terpaksa harus dibagi menjadi tim yang berbeda, hal ini bisa saja disebabkan kecepatan masing2 orang yang berbeda, usahakan jangan sampai ada tim yang tidak memiliki tour guide/penunjuk jalan.

Puji syukur saya naikkan pada Allah malam itu, karena perlindungan-Nya nyata untuk team kami. Sebelum tidur, kami menikmati susu coklat & makan nasi beserta kornet goreng. Lumayan nikmat lah, meskipun nasi-nya kurang matang. Hehehehe..

 

16 Agustus 2015

RANU KUMBOLO

Hari itu saya terbangun pk 05.00 WIB, sayup-sayup terdengar celoteh dari tenda sebelah. Rupanya beberapa teman saya mulai terbangun satu persatu. 2 orang di antara kami mulai mengisi air di botol-botol yang sudah kosong. Sumber air terdekat tentu saja berasal dari danau. Saran saya, refill-lah sepagi mungkin ketika orang-orang belum terbangun dan beraktifitas. Air masih jernih, belum tercampur limbah dari para pendaki..

Dingin pagi itu terasa sekali. Saya berteriak memanggil teman dan bertanya, “Mataharinya keluar nggak?”  Alhamdulillah Kami berhasil merasakan suhu dibawah 0 derajat celcius dan takjubnya melihat matahari membelah 2 bukit kembar di sana! Bulan agusatus adalah posisi paling pas untuk SUNRISE di Ranukumbolo.. Kalau sulit ngebayangin-nya, bayangin aja gambar standar anak kecil, matahari persis di antara 2 bukit. 

Demi mengusir hawa dingin (yang memang beneran dingin), saya diajak teman mencicipi yang namanya tanjakan cinta. Menurut mitos, kalau kita bisa melewati tanjakan cinta sambil membayangkan orang yang kita cintai tanpa menoleh sedikitpun ke belakang, kita bakal bisa bersatu dengan orang yang kita cintai itu! Jujur, saya sendiri sih nggak percaya, dan yang pasti bakal nyesel banget kalo nggak noleh, karena pemandangan Ranu Kumbolo dari arah tanjakan cinta keren banget!

img_3396

dsc_0765dsc_0770

IMG_7886.JPG

 

dsc_0108

 

dsc_0106

Siang hari, sekitar pk 10.00 WIB, kami segera berkemas untuk melanjutkan perjalanan menuju pos camping berikutnya, yaitu Kalimati. Sekali lagi saya harus melewati tanjakan cinta! Dari bawah, tanjakan cinta terlihat tidak terlalu terjal. Apalagi kalau hanya lihat di foto, tapi jangan berkomentar sebelum merasakan sendiri. Hahaha 😀 Mendaki tanjakan cinta dengan membawa tas carrier sebesar & seberat itu benar-benar sebuah tantangan buat kami. Apalagi setiap ada tanjakan, nafas boleh dibilang hampir habis. Memang benar, untuk mencapai Semeru, dibutuhkan stamina yang sangat kuat..

ORO-ORO OMBO

Setelah berhasil melewati tanjakan cinta, kami berhenti sebentar untuk mengatur nafas. Trek berikutnya adalah Oro-oro Ombo. Sebuah padang hijau yang sangat luas, berada di tengah kerumunan bukit-bukit. Di awal-awal musim pergantian musim penghujan menuju kemarau, seperti misalnya bulan Mei, kita akan disuguhi pemandangan indah dari hamparan tanaman Verbenna Brazilliensis Vell. Tetapi di bulan-bulan tengah, seperti Juli & Agustus, tanaman ini mulai kering. Bagi saya, oro-oro ombo adalah trek bonus di sepanjang perjalanan Ranupani-Semeru. Trek-nya datar & tidak ada tanjakan sama sekali..

img_8066

 

IMG_7897.JPG

CEMORO KANDANG

Setelah melewati padang verbenna, kami memasuki pos berikutnya, yaitu pos Cemoro Kandang. Disebut demikian karena memang trek berikut ini kami benar-benar melewati hutan cemara. Kami menjumpai banyak pohon yang tumbang, sepertinya akibat disambar petir. Jangan pernah meremehkan trek cemoro kandang dan jangan mengharapkan akan menjumpai turunan di pos ini, karena kami benar-benar terus menanjak, menanjak dan menanjak. Hahaha 

Melewati pos cemoro kandang ini, meskipun hari belum sore benar, masih sekitar pk 13.30 WIB, tapi kabut tipis mulai turun, alhasil udara mulai terasa dingin. Kami mengerahkan seluruh tenaga, demi secepatnya mencapai pos Kalimati.

dsc_0795dsc_0796

 

JAMBANGAN

Setelah berpuas ria dengan tanjakan demi tanjakan, akhirnya sekitar pk 16.00 WIB kami sampai di pos Jambangan. Sebuah dataran dan di sana kami bisa melihat gunung Semeru dengan jelas!!! (Di oro-oro ombo seharusnya bisa, tetapi saat itu tertutup kabut).

IMG_3419.JPG

IMG_3473

dsc_0803

 

KALIMATI

Pk 17.30 WIB, kami akhirnya sampai di pos Kalimati. Trek perjalanan dari pos Jambangan ke Kalimati relatif mudah, hanya setengah jam saja, kami sudah sampai. Sumber air terdekat yang ada di sana ada di tempat bernama Sumber Mani. 45 menit perjalanan PP untuk mencapai tempat ini. Beberapa di antara kami berangkat dan segera memenuhi botol kami yang kosong untuk perbekalan summit attack nanti malam dan tentu saja untuk memasak.

Beruntung bahwa hari itu kami mendapat shelter, yaitu semacam pos pondokan untuk para porter. Di sana kami terlindung dari angin dan tidak perlu repot-repot mendirikan tenda terlalu banyak.

Malam itu kami segera makan lalu beristirahat, kami masuk ke sleeping bag kami masing-masing sekitar pk 19.30 WIB. Berbicara tentang kenyamanan tidur selama pendakian, saya tidak mengalami kendala. Sleeping bag dan matras yang saya pakai tebal dan hangat. Teman saya menyarankan supaya memakai bantal angin, sehingga kualitas tidur pun lebih baik. Saya sendiri cukup menggunakan tas carrier sebagai sandaran kepala.

img_3333img_3340img_20161121_100811_hdrimg_20161121_101219_hdrimg_20161121_101401_hdr

 

Pk 23.00 WIB, saya dan team segera bangun dan mempersiapkan diri untuk perjalanan yang kami nanti-nantikan.
Briefing saya berikan tepat Pk 23.30 WIB. Cuaca malam itu cerah dan tidak ada angin. Teman saya berkata bahwa ini adalah kondisi yang sangat menguntungkan bagi kami. Tepat pk 00.05, kami semua berangkat. Tak lupa saya pimpin mereka untuk berdoa terlebih dahulu, menyerahkan setiap langkah kaki kami kepada Tuhan. Satu kalimat yg selalu saya katakan kepada tamu ataupun teman-teman sebelum menuju Puncak Abadi Para Dewa, “Untuk sampai ke atas dibutuhkan tekad yang kuat, kerjasama, dan kepedulian.. buang jauh-jauh ego kalian jika ingin menginjakkan kaki diatas tanah tertinggi pulau Jawa”.

17 Agustus 2015

ARCOPODO

Mendaki puncak Mahameru, kita akan selalu melewati suatu daerah yang bernama Arcopodo. Di tempat ini, trek yang dilalui cukup sulit dan menantang. Tidak terhitung berapa kali kami melewati tanjakan maut, disertai jurang di sebelah kanan-kiri kami. Jangan bercanda ketika dalam pendakian, karena nyawa taruhannya. Saling menolong dan solidaritas yang tinggi, itu yang kita perlukan. Bagi beberapa pendaki, ada 2 pilihan tempat camping. Yang pertama yaitu di Kalimati, dan yang ke-2 adalah di Arcopodo. Waktu itu ada salah stu kawan saya yang bertanya kepada ke saya, “Mengapa kita tidak menginap saja di Arcopodo? Bukankah itu lebih dekat?”

Ada 2 alasan yang saya berikan, yang pertama, tidak ada sumber air di Arcopodo, jadi dengan demikian, bila kami kehausan, kami tidak bisa mengambil air. Dan itu berarti mencobai diri sendiri. Alasan yang ke-2, trek menuju Arcapada lumayan berat, apalagi jika dilewati dengan membawa beban yang ada didalam tas carrier. Bagi saya itulah hal yang sangat masuk akal, mengingat perjalanan sebelumnya halangan terbesar kami adalah beratnya tas carrier. Jadi, silahkan memilih 🙂

DSC_0960.JPG

dsc_0287

BATAS VEGETASI / KELIK

Setelah sekitar 3 jam kami berjalan dari Kalimati, akhirnya kami melewati batas vegetasi, yaitu batas antara daerah hijau dan abu-abu di gunung Semeru ini. Dapat dilihat di google earth bahwa perbedaan warna perbatasan tersebut sangatlah mencolok.

“Gunung kalo masih warna hijau, itu berarti bukan gunung yang tinggi”. salah satu kalimat andalanku.. Selepas dari batas vegetasi, kita akan berjumpa dengan hamparan pasir dan batu. Selangkah demi selangkah kami berusaha mendaki, mendaki dan mendaki. Berikut ini beberapa tips yang ingin saya bagikan buat para pendaki,

  • Seperti yang saya bilang di catatan perjalanan hari pertama, pakailah jaket yang nyaman. Jangan terlalu tebal, lama-kelamaan itu hanya menghambat gerak tubuh kita.
  • Masing-masing orang harus membawa minum & camilan-nya masing-masing. Di perjalanan kami kemarin, sempat6 melihat pemandangan lain dari pendaki yang lainnya..  semua botol minum hanya dibawa oleh 1 orang. Hasilnya, untuk minum saja mereka harus saling tunggu.
  • Lebih mudah jika menggunakan tongkat. Kami membuat tongkat menggunakan kayu bakar yang ada di Kalimati. atau jika anda memiliki uang lebih belilah alat yg namanya Trekking Pole”
  • Atur langkah kaki baik-baik. Cerita bahwa pasir di Semeru membuat orang mundur 3 langkah ketika mereka maju 5 langkah itu bukan mitos ataupun cerita yang dibuat-buat. Jangan terburu nafsu ingin cepat sampai, tapi aturlah langkah dengan baik, demikian pula dengan nafas. Karena berdasar pengalaman saya, terburu-buru justru membuat stamina cepat hilang. Padahal perjalanan mendaki lumayan jauh (Khusus pemula :P).
  • berjalan zigzag itulah kunci kesuksesan yang sebenarnya.. memang melelahkan dan jarak tempuhnya lebih panjang, tapi percayalah hanya cara ini yang mampu menghemat stamina dan tenaga kalian..
  • Pakailah kaos kaki yang panjang melebihi mata kaki, atau Gaiter / Penutup celana untuk menutupi celah antara sepatu dengan celana, supaya kerikil tidak masuk. Pendakian akan sangat terganggu dengan kerikil yang masuk ke mata kaki.

20150721_055004

20150721_055010

dsc_0284

 

Beberapa orang dapat menyelesaikan pendakian dalam waktu yang relatif singkat, yaitu 3 jam. Tetapi bagi kami yang beberapa orang masih dibilang pemula, hal itu sebuah mimpi di awan-awan. Selangkah demi selangkah kami pertahankan tekad untuk mencapai puncak Semeru. Sekitar pk 04.00, warna langit sudah mulai berubah menjadi semburan warna oranye. Pertanda fajar segera menyingsing. Sejenak saya melayangkan pandangan ke atas, puncak tampak sangat dekat. Ternyata semua itu hanyalah tipuan mata belaka. Pk 04.30, langit sudah hampir menjadi terang, namun puncak tak kunjung tiba.. Dan disinilah cerita yang aku sebut dengan Amazinc Journey..

DCIM102MEDIAdsc_1020dsc_1021

 

“Massssssss Fajarrrrrrr..” teriak salah satu rekan saya asal Balikpapan..

sontak aku kaget dengan panggilan itu, sempat berpikir ada sesuatu hal negatif yg terjadi diatasku, tepat 10meter diatasku..

sedikit berlari kuhampiri hendra “Ada apa di??” balasku sambil berlari zigzag..
“Pak ruslan tumbang, beliau sesak nafas mas.. buruan mas.. pak rus udah kejang-kejang” teriak Suryadi.

Jantungku hampir berhenti saat melihat pak Ruslan yg sudah tergolek lemah diatas pasir bercampur batu atau jalur summit attack, tepat 400meter dibawah puncak Mahameru.

Hanya oksigen portable dan air hangat inilah penolongku,,

hampir 15 semprotan oksigen dari tabung keluar untuk menolong nyawa seniorku ini, dan air hangat dalam botol yang aku tarih di atas perutnya agar tidak terjadi kram perut nantinya..

hampir 20menit suasana tegang di jalur pendakian, beberapa pendaki yg lewat hanya menonton tanpa bisa berbuat banyak..

pak Ruslan perlahan bangkit, perlahan beranjak dari tanah, mencoba bangkit dibantu oleh Bejo..  Alhamdulillah pertolonganku tidak terlambat..

Terima kasih Ya Rabb.. Kau selamatkan nyawa senior saya, kau selamatkan nyawa guru saya..

tak kau coret catatan pendakianku dengan tinta merahmu..

Antara batas kesadaran, otak ingin sekali mencapai puncak, tetapi badan seperti berkata sudah. Tekad saya bulat harus mencapai puncak! sedangkan Semakin ke atas, trek yang dilalui semakin sulit. Kemiringan gunung bisa dibilang mencapai 45 derajat. Berjalan 1 langkah, mundur lagi 3 langkah. Perasaan saya saat itu cuma 1, putus asa. Beberapa teman terlihat beberapa meter di depan saya, mereka tampaknya tidak mau menyerah. hanya satu fokusku saat itu, pak Ruslan, Guruku, Seniorku, bapakku..

Di tengah pendakian, kami beralih haluan menuju ke jalur kanan, tampak lebih berbatu & sepertinya lebih gampang untuk dilalui. Tapi pandangan kami ternyata menipu. Bebatuan yang ada sangat rapuh untuk dijadikan pijakan. Berulang kami saya terpeleset & jatuh. Bahkan saya sempat terkena batu jatuh yang longsor akibat diinjak teman.

20150721_081335

Tanpa Basa basi, tugas sebagai sweeper aku oper ke Suryadi temanku asal banjarmasin, sedangkan aku turun membawa pak Ruslan menuju camp di kalimati..
Saya tidak mau mengambil resiko hanya untuk gengsi, hanya untuk pamer foto selfie yang sering kali dibuat acuan anak-anak kekinian..
Nyawa Pak Ruslan bukan sebuah pertaruhan gambling yg saya buat sebagai leader dan juga sweeper dalam tim ini..
biarlah saya dan pak Ruslan mengikuti upacara 17 Agustus di Kalimati atau biasa aku sebut dengan “Shelter Akhir”

IMG_3821

Kegagalan adalah awal dari sebuah keberhasilan. Meski saya dan pak ruslan gagal, tekad saya nggak luntur. Saya nggak mau jadi pendaki yang ceroboh.

Mereka, kawan-kawanku yang bisa dianggap pemula berhasil menginjakkan kaki di tanah tertinggi pulau Jawa dan melangsungkan upacara 17 Agustus di puncak tertinggi pulau Jawa!
Bangga? Ya, saya bangga. Tapi kebanggaan yang ada di hati bukan tentang gengsi para pendaki terhadap sebuah ketinggian yang katanya puncak abadi para dewa. Masih teringat dengan jelas, pendakian yang lalu-lalu puncak selalu menjadi rumah singgahku. Persiapan yang saya lakukan luntur gara2 accident yg menimpa kawan dan juga senior saya asal makassar! sesak nafas, perut kram & beberapa kali hampir muntah, tapi yang saya ingat, kalian harus terus, kalian harus berhasil, sudah sampai sini, jangan menyerah.

Kalau kalian bisa mencapai puncak, bersyukurlah karena kalian diberi kekuatan! Kalau belum mencapai puncak, berbanggalah karena kamu sudah pernah merasakan yang namanya bersatu dengan alam dan berjuang dengan sahabat-sahabatmu! inilah sesungguhnya yg disebut perjalanan bukanlah ambisi untuk sebuah gundukan tanah kering hanya untuk mengambil sebuah foto selfie.. 

Terima kasih buat keluarga & teman-teman yang mendukung & berdoa buat keselamatan saya & tim. Mohon maaf, beberapa hari ke depan izinkan saya sharing banyak pengalaman yang saya dapatkan di pendakian kali ini. Pendakian ke Semeru kemarin jelas nggak akan pernah saya lupakan seumur hidup. Berharga. Ya, sangat berharga. Beberapa teman meledek, ngapain naik gunung terus, hidup aja di gunung.  Ya, saya bangga karena saya mendaki sambil membawa tekad untuk mewujudkan mimpi teman-teman dan tamu saya, saya bangga bahwa saya mengusahakan banyak hal demi mencapai mimpi mereka! Meski hanya mimpi tentang gunung, tapi insha Allah dari sana justru saya maupun mereka akan belajar banyak hal tentang kehidupan..

IMG_1946IMG_2011IMG_3407IMG_3410IMG_3453

dsc_0263_2

img_9743

img_9749

Teruntuk putraku “Byan”

Rindu Ayah masih tertinggal di Shelter Akhir, Biarkan suatu saat nanti aku bisa membawa kembali Senandung padamu dan untuk para sahabat..

Senandung yang masih terngiang di telingaku.. Syahdu, mengundang rindu, yang sempat tertahan dalam kalbu..

Nampak di sana, Purnama menghangatkan malam..

Benderang dalam kelam..

Muncul layaknya bayangan yang mengisi setiap jengkal kehidupan..

Begitu berarti..

Walau tak pernah pasti,

Itu kan termiliki..

Asa itu selalu tersimpan dan membara di lubuk hati..

Suatu Malam di bawah bintang2 di jalur terlarang..
Teruntuk putraku yang sangat kusayangi, senandung itu tak kan selamanya berlagu bila kau selalu diam mengharapkannya, percayalah, untuk terus maju dan membuang semua peluh, yakin pada setiap apa yang kau impikan, hingga nanti senandungmulah yang akan berlagu untuk menyambut perwujudan mimpi-mimpimu..
Ayah akan selalu disini nak, menemani langkahmu, mengusap peluhmu, membelaimu dengan doa, menyambutmu dengan senyu terindah, memberikan bahu untukmu bersandar ketika kau lelah berlari untuk mengejar mimpi-mimpimu..

Ayah akan selalu terjaga untukmu, tertawa saat kau bercanda, menangis haru saat kau dapatkan kesempatanmu, sembari memelukmu erat..

IMG_1394IMG_1391

Ayahlah seseorang tidak akan pernah meninggalkanmu sendiri..

Karena inilah cintaku.. Engkaulah kasihku “Byan”..

Saat ini bulan tak nampak, tapi bintang disini nampak memenuhi pandangan Ayah nak.. Kalo Byan ada disini pasti Byan bakal suka.. Ayah percaya bahwa Byan akan banyak berdoa & berharap pada bintang2 yg jatuh saat ini..

Ini Gunung favorit ayah, Gunung tempat ayah bekerja nak.. Bahkan Gunung ini mungkin bisa jadi tempat favorit kamu suatu saat nanti nak..
Inilah sebuah pengharapan yang tertuang ketika dingin memeluk malam, dalam hati kecilku di bukit ini.

Ditengah gelapnya jalur ini, Memoriku memutar kembali semua rentetan potret indah yang aku alami dengan “Pelangiku” Binar matanya, celotehannya, cemburunya, bawelnya, bahkan umpatan-umpatannya..

Meski memang ayah harus bekerja lebih keras lagi, tapi ayah akan selalu yakin untuk lepas dari ketidaktahuan.. karena semangatku ada disini, selalu membara dalam hati..

Terima kasih untuk pijar yang pernah kau cahayakan di perjalananku “Pelangi”..

“Everytime we fall down to the ground, we look up to the blue sky above
We wake to its blueness, as for the first time
Though the road is long and lonely and the end far away, out of sight
I can with these two arms, embrace the light
Somewhere a voice calls, in the depths of my heart
Keep dreaming your dream and dont ever let them aparts
The whispering voice we never want to forget, in each passing memory
Always there to guide you” –spirited away-
-FA-

IMG_2319

***

Jangan pernah meninggalkan Sampah Kalian di Jalur pendakian atau tempat anda bertualang..

Jaga Semesta ini untuk cucu kita nanti, biarkan mereka juga menikmati  seperti yang kita lakukan.. Pastikan pula mereka menikmati keindahan Indonesia..

IMG_20150215_102341

Photos by : #G4D4Adventure

#SalamLestari

-FA-

 

Makna Kehilangan

banner-wild-film_1 2015Wild_Press_2_150115.gallery IMG_1902

Kamu merasa dirimu tangguh dan bisa menghadapi berbagai ujian? Nonton dulu film tentang travelling berikut ini..

Film Wild merupakan salah satu film yang dimainkan oleh “Reese Witherspoon” sebagai “Cheryl” si gadis petualang yang putus asa karena ibunya telah meninggal.

Setelah menghadapi berbagai ujian dan tantangan, Cheryl pun kemudian memutuskan untuk melakukan perjalanan yang pada akhirnya, ia pun menemukan sebuah makna.

Wait, ini bukan sebuah review film. Ini hanya cerita. Cerita tentang sebuah luka, Sebuah kehilangan,  Sebuah perjalanan..

 

Sebuah Luka

586MoviesWild3951IMG_0896

Setiap orang tentu pernah mengalami luka hati, dari mulai kehilangan kekasih, pacar, suami, sampai kehilangan hal terkecil sekalipun. Film ini juga bercerita tentang kehilangan, yakni saat Cheryl kehilangan sang Ibu akibat penyakit yang dideritanya. Sepeninggal sang Ibu, Cheryl yang selama ini selalu dekat dengannya dan bergantung pada sang ibu mengalami luka hati yang sangat besar sehingga ia memutuskan untuk melakukan hal-hal buruk seperti menggunakan heroin sampai melakukan seks bebas. Di tengah kekacauan ini, dia pun menemukan sebuah gambar cover buku yang menginspirasinya untuk melakukan perjalanan ke Pacific Crest Trail (PCT) sepanjang 1000 mil.

Wild film stillIMG_1394IMG_2042 IMG_1391

Oh iya, ngomong-ngomong soal kehilangan, bahkan pada saat saya kehilangan Fabian 2011 lalu, saya juga berpikir tentang hal yang sama dengan Cheryl. Saya juga berpikir untuk mengonsumsi obat-obatan (bukan obat nyamuk) hehehehehe 😀 , berpikir untuk menentang Tuhan, serta berpikir untuk melakukan hal imoral, sampai akhirnya saya merasakan kehilangan yang lebih dahsyat lagi.

Dari Hilang Satu, Kamu Temukan Kehilangan Lainnya

0Wild-tent-676x450IMG_0756IMG_1320

Saat kehilangan seseorang yang dicintai, kebanyakan orang melakukan hal terburuk yang pernah mereka lakukan seumur hidupnya. Saat inilah orang itu akan sampai pada tahap kehilangan terbesar dalam hidupnya, yaitu kehilangan Tuhan dan kehilangan diri sendiri. Inilah yang terjadi pada Cheryl, pada saya, mungkin juga pada sebagian dari kita semua.

Sama seperti yang terjadi pada film Wild ini, saya pun mengalami kehilangan serupa. Saya kehilangan Fabian, saya kehilangan pasangan saya (karena menganggap ia tidak bisa membantu apapun selama saya merasa sedih dan tertekan), saya kehilangan Tuhan (karena menganggap Dia tidak adil), dan saya kehilangan diri saya sendiri (karena saya tidak tahu ke mana harus meneruskan perjalanan hidup).

Gugur Satu Tumbuh Seribu

Dalam film ini, Cheryl mengalami perjalanan yang panjang, lucu, menyedihkan, mengecewakan, sampai akhirnya ia menemukan teman-teman baru di dalam perjalanannya. Ia menemukan lingkungan baru yang membuatnya bisa tersenyum, tertawa, dan tetap mengingat sang Ibu.

Hal ini pula yang terjadi pada saya. Setelah kehilangan anak, Tuhan, dan diri saya sendiri, saya kemudian memutuskan untuk melakukan perjalanan ke beberapa tempat di Indonesia. Salah satunya adalah Mahameru. Di sinilah saya duduk sendiri, merenung, menangis, berteriak, marah, dan mempertanyakan keadilan Tuhan.

wildIMG_1932

Setelah itu, saya bergegas untuk mengunjungi tempat-tempat lainnya untuk menghilangkan luka paling mendalam itu. Lalu keajaiban pun datang, saya punya teman-teman baru yang mendukung saya, saya punya ‘rumah’ baru untuk bisa tinggal dan beristirahat dari segala persolan hidup, dan saya seperti kembali menemukan diri saya sendiri.

Pencerahan pun Dimulai

Dalam perjalanan setelah kehilangan ini, kamu akan menemukan sesuatu yang dirasa mampu mencerahkanmu. Mungkin inilah yang dinamakan pencerahan. Dalam film Wild ini, Cheryl menemukan berbagai macam cerita hingga ia sampai pada tahap pencerahan yang mampu membuatnya kembali merindukan Tuhan. Kembali menemukan cinta, kembali menemukan dirinya sendiri.

WildfIMG_1397

Sama seperti saya yang setelah beberapa tahun menempa hidup dari satu tempat ke tempat lainnya, saya menemukan pencerahan. Saya menemukan bahwa Tuhan telah menguatkan saya dengan berbagai kehilangan, Tuhan telah membahagiakan saya dengan berbagai cerita dalam perjalanan, dan Tuhan telah membuat saya menemukan kembali arti cinta pada pasangan yang masih setia menunggu dan menjaga saya selama ini.

Sampai Akhirnya Kamu Temukan: Inilah Hidup!

IMG_0317 IMG_0585

IMG_0473IMG-20141019-WA0194

IMG_1946 IMG_2011

Pada akhirnya, perjalanan mengajarkan bahwa kehilangan adalah bagian dari kehidupan. Tanpa kehilangan, kamu tidak akan pernah menemukan. Tanpa kehilangan, kamu tidak akan pernah merasakan sakit dan bahagia. Tanpa kehilangan, kamu tidak akan pernah tahu bahwa ada banyak tempat yang bisa menjadi rumah singgahmu, ada banyak orang yang bisa menjadi teman hidupmu, dan ada banyak doa yang bisa menjadi kekasih hidupmu.

Inilah akhir perjalanan Cheryl, saya, dan tentu saja kita semua. Sebab hidup untuk dijalani, bukan untuk diratapi dan disesali. Sebab inilah hidup. Mau lihat cuplikan filmnya? Ini:

-FA-

Perjuangan Manusia Melawan Ketinggian dan Segala Konsekuensinya

Fisiologi tubuh di daerah ketinggian diperlukan untuk mengetahuinya khususnya bagi para penggiat petualangan pendakian gunung, karena mendaki gunung adalah sebuah perjuangan, perjuangan manusia melawan ketinggian dan segala konsekwensinya. Kita tahu, dengan berubahnya ketinggian, maka kondisi lingkungan pun akan berubah.

BsUII3lCUAAVULX.jpg large

Anasir lingkungan yang perubahannya tampak jelas bila dikaitkan dengan ketinggian adalah suhu dan kandungan oksigen udara. Semakin bertambah ketinggian maka suhu akan semakin turun dan kandungan oksigen udara juga semakin berkurang.

Fenomena alam seperti ini beserta konsekuensinya terhadap keselamatan jiwa kita, itulah yang teramat penting kita ketahui dalam mempelajari proses fisiologi tubuh di daerah ketinggian. Banyak kecelakaan terjadi di pegunungan akibat kurang pengetahuan, hampa pengalaman dan kurang lengkapnya sarana penyelamat.

1. Konsekuensi Penurunan Suhu

Manusia termasuk organisme berdarah panas ( poikiloterm ), dengan demikian manusia memiliki suatu mekanisme thermoreguler untuk mempertahankan kondisi suhu tubuh terhadap perubahan suhu lingkungannya. Namun suhu yang terlalu ekstrim dapat membahayakan.
Jika tubuh berada dalam kondisi suhu yang rendah, maka tubuh akan terangsang untuk meningkatkan metabolisme untuk mempertahankan suhu tubuh internal ( mis : dengan menggigil ). Untuk mengimbangi peningkatan metabolisme kita perlu banyak makan, karena makanan yang kita makan itulah yang menjadi sumber energi dan tenaga yang dihasilkan lewat oksidasi.
IMG_20140831_055324 IMG_20140910_005509 IMG_20140910_005324

2. Konsekwensi Penurunan Jumlah Oksigen
Oksigen bagi tubuh organisme aerob adalah menjadi suatu konsumsi vital untuk menjamin kelangsungan proses – proses biokimia dalam tubuh, konsumsi dalam tubuh biasanya sangat erat hubungannya dengan jumlah sel darah merah dari konsentrasi haemoglobin dalam darah.

Semakin tinggi jumlah darah merah dan konsentrasi Haemoglobin, maka kapasitas oksigen respirasi akan meningkat. Oleh karena itu untuk mengatasi kekurangan oksigen di ketinggian, kita perlu mengadakan latihan aerobic, karena disamping memperlancar peredaran darah, latihan ini juga merangsang memacu sintesis sel – sel darah merah.

???????????????????????????????

3. Kesegaran Jasmani
Kesegaran jasmani adalah syarat utama dalam pendakian. Komponen terpenting yang ditinjau dari sudut faal olahraga adalah system Kardiovaskulare dan Neuromusculare. Seorang pendaki gunung pada ketinggian tertentu akan mengalami hal – hal yang kurang enak, yang disebabkan oleh Hipoksia ( kekurangan oksigen ), ini disebut penyakit gunung ( Mountain Sickness ).

Kapasitas kerja fisik akan menurun secara mencolok pada ketinggian 2000 meter, sementara kapasitas kerja aerobic akan menurun ( dengan membawa beban 15 Kg ) dan juga derajat aklimasi tubuh akan lambat. Mountain Sickness ditandai dengan timbulnya gejala – gejala :

Merasakan sakit kepala atau pusing – pusing
•Sukar atau tidak dapat tidur
•Kehilangan control emosi atau lekas marah
•Bernafas agak berat / susah
•Sering terjadi penyimpangan interpretasi / keinginannya aneh – aneh, bersikap semaunya dan bisa mengarah kepenyimpangan mental.
•Biasanya terasa mual bahkan kadang – kadang sampai muntah, bila ini terjadi maka orang ini harus segera ditolong dengan memberi makanan / minuman untuk mencegah kekosongan perut.
•Gejala – gejala ini biasanya akan lebih parah di pagi hari, dan akan mencapai puncaknya pada hari kedua.
Apabila diantara peserta pendakian mengalami gejala ini, maka perlu secara dini ditangani / diberi obat penenang atau dicegah untuk naik lebih tinggi.

Bilamana sudah terlanjur parah dengan emosi dan kelakuan yang aneh – aneh serta tidak peduli lagi nasehat ( keras kepala ), maka jalan terbaik adalah membuatnya pingsan.

Pada ketinggian lebih dari 3000 m.dpl, Hipoksea Cerebral dapat menyebabkan kemampuan untuk mengambil keputusan dan penalarannya menurun. Dapat pula timbul rasa percaya diri yang keliru, pengurangan ketajaman penglihatan dan gangguan pada koordinasi gerak lengan dan kaki. Pada ketinggian 5000 m, hipoksea semakin nyata dan pada ketinggian 6000 m kesadarannya dapat hilang sama sekali.

4. Program Aerobik

Program / latihan ini merupakan dasar yang perlu mendapatkan kapasitas fisik yang maksimum pada daerah ketinggian. Kapasitas kerja fisik seseorang berkaitan dengan kelancaran transportasi oksigen dalam tubuh selai respirasi.
Kebiasaan melakukan latihan aerobik secara teratur, dapat menambah kelancaran peredaran darah dalam tubuh, memperbanyak jumlah pembuluh darah yang memasuki jaringan, memperbanyak sintesis darah merah, menambah kandungan jumlah haemoglobin darah dan juga menjaga optimalisasi kerja jantung.
Dengan terpenuhinya hal – hal tersebut di atas, maka mekanisme pengiriman oksigen melalui pembuluh darah ke sel – sel yang membutuhkan lebih terjamin. Untuk persiapan / latihan aerobik ini biasanya harus diintensifkan selama dua bulan sebelumnya.
Latihan yang teratur ternyata juga dapat meningkatkan kekuatan ( endurance ) dan kelenturan ( fleksibility ) otot, peningkatan kepercayaan diri ( mental ), keteguhan hati serta kemauan yang keras. Didalam latihan diusahakan denyut nadi mencapai 80% dari denyut nadi maksimal, biasanya baru tercapai setelah lari selama 20 menit.
Seorang yang dapat dikatakan tinggi kesegaran aerobiknya apabila ia dapat menggunakan minimal oksigen per menit per Kg berat badan. Yang tentunya disesuaikan dengan usia latihan kekuatan juga digunakan untuk menjaga daya tahan yang maksimal, dan gerakan yang luwes. Ini biasanya dengan latihan beban, Untuk baiknya dilakukan aerobik 25 – 50 menit setiap harinya..
#G4D4Adventure

Inilah Tanda bahwa Anda Seorang Pendaki BERBAHAYA!!

Mendaki gunung kini sudah menjadi sebuah tren yang bisa di lakukan oleh siapa saja tanpa batasan. Dengan metode itu, pendakian gunung kini berubah menjadi kegiatan yang sembrono dan asal – asalan. Sayangnya semua itu terjadi dan banyak yang tidak memiliki kemampuan tehnis yang cukup.

IMG-20140529-01381
Summit Attack

Mendaki gunung masuk kategori olahraga berbahaya. Tapi para pendaki pemula dan berbahaya memasabodohkan bahaya. Demi memasang foto – foto di sosial media, mereka pergi ke gunung. Tanpa persiapan, asal – asalan dan seringkali sembrono.

Dan inilah tanda – tanda Anda pendaki berbahaya. Berbahaya bagi diri sendiri juga bagi teman pendaki yang lain.

Sok Jagoan 
Sikap sok jagoan ini nyaris selalu menjadi penyebab utama musibah pada pendaki pemula. Dengan alasan mencari tantangan, para pendaki pemula ini mencari jalur di luar jalur resmi. Parahnya, seringkali mereka melakukannya tanpa kemampuan navigasi yang baik.

Jangankan GPS dan peta topografi, sekadar kompas pun tak bawa. Lalu apa yang diandalkan? Maka petualangan mereka pun biasanya berakhir di dasar jurang, mati kedinginan di lembah atau ditandu Tim SAR ke rumah sakit.

Membuka jalur baru juga berarti merusak konservasi. Mengganggu kehidupan liar dan ekosistem. Para pendaki berpengalaman tak akan melakukannya selain untuk kepentingan penelitian dan ilmu pengetahuan.

P1100335

Packing Yang Buruk
Packing atau mengepak barang dalam ransel adalah seni yang harus dikuasai pendaki gunung. Seluruh barang bawaan harus masuk ke dalam ransel. Karena medan sulit, tak boleh ada yang tergantung di luar ransel selain botol air minum.

Tangan harus bebas karena memegang Tracking Poll atau berpegangan meniti akar – akar pohon jika dibutuhkan.

Maka lihatlah para pendaki berbahaya. Dengan panci digantung ke ransel. Tangan menenteng sleeping bag atau jaket. Ransel mereka tak dilapisi lagi dengan cover bag. Pakaian di dalam ransel tak dilapis plastik. Jika hujan, semua pakaian, jaket dan sleeping basah.

Padahal sangat penting menjaga pakaian ganti tetap kering. Tidur dengan keadaan basah bisa mengakibatkan hipotermia. Inilah penyebab utama kematian seorang pendaki gunung. Suhu tubuh turun karena kedinginan. Jangan pernah anggap enteng mengepak barang. Ini yang sering dimasabodohkan pendaki.

Hipotermia Di Sangka Kesurupan
Pendaki pemula mendaki tanpa ilmu. Berbekal semangat dan tanpa perlengkapan memadai mereka nekat mendaki gunung. Karena tidak tahu ilmu P3K, maka sering terjadi salah kaprah.

Pada penderita hipotermia, korban akan menggigil dan kehilangan kesadaran. Lalu mulai bicara melantur. Karena nyerocos tak karuan dan sukar diajak komunikasi, teman – temannya menyangka si korban kesurupan. Mereka malah membacakan doa untuk mengusir setan.

Seharusnya, segera lakukan pertolongan. Ganti pakaiannya dengan pakaian kering. Masukkan dalam sleeping bag yang sudah dihangatkan. Taruh juga beberapa botol air panas di dalam sleeping bag itu. Jaga kondisi lingkungan tetap hangat. Jika sudah membaik beri makanan hangat sedikit demi sedikit. Hindari memberi kopi atau minuman keras.

Aku Si Cepat
Ciri khas pendaki berbahaya, apalagi yang masih berusia muda adalah selalu bergerak dengan cepat. Mereka selalu tergesa – gesa, menjadikan naik gunung seolah lomba lari ke puncak. Malu menjadi yang paling belakang, karena sering dianggap sebagai yang terlemah.

Karena itu biasanya waktu tempuh ke puncak lebih singkat. Baru setelah perjalanan turun, aneka masalah datang. Kehabisan tenaga, cidera otot hingga kecelakaan dan kehilangan arah menjadi ancaman.

Idealnya, ada seorang sweeper yang berjalan paling belakang. Biasanya orang ini yang paling kuat dan bisa diandalkan. Tugasnya menyapu seluruh anggota tim. Memastikan tak ada yang keteteran atau tertinggal di belakang.

Namun dalam rombongan pendaki berbahaya, tak ada yang mau menerima tugas ini. Jadi sweeper dianggap hina. Menjadi paling pertama sampai puncak dan pertama turun ke kaki gunung jadi tujuan utama.

IMG-20131225-WA0002_zpsafe8efbf

“Anda Masih ingat Saat Gadis Ini ditinggal Kawan-kawan mereka yg berobsesi terhadap PUNCAK??

Hingga Rela meninggalkan DIA sendiri didalam tenda dalam keadaan sakit.. dan saat mereka kembali Sahabat ini telah dipanggil TUHAN!!”

Aku si cepat. Tanpa sadar kutinggalkan sahabatku yang kelelahan mati di gunung.

Hipotermia

20140528_192317
ilustrasi
Ane sedih banget denger berita tentang kematian, aduh serem banget kata-katanya, denger berita tentang meninggalnya seorang remaja cewe berusia 16 tahun di Gunung Gede. Iya, meninggal di gunung. Sedih. 😥
Dengan berita begitu, makin nambah lagi daftar orang-orang yang meninggal di gunung, yang ketauan sama media. Yang belum ketauan mungkin masih lebih banyak.
Ane menyoroti meninggalnya Shizuko Rizmadani, remaja cewe tadi yang meninggal di Gunung Gede, gunung yang kata kebanyakan pendaki yang gue temui adalah gunung yang paling cocok buat pemula kayak almarhumah. Tapi nyatanya? Gak boleh banget deh nyepelein gunung.
Paling bikin sedih, Shizuko meninggal karena diduga HIPOTERMIA.  Sumpah, Ane cuma bisa nahan nangis. :(((
Again, semoga Shizuko diterima di sisiNya. Yang tenang di sana ya dek. :'(( #PrayForShizuko
***
IMG-20131225-WA0002_zpsafe8efbf
Dulu, pernah denger lagunya Gita Gutawa yang Parasit ndak sih? Nah, ada salah satu liriknya: “hipotermia di kutub utara”
Jadi hipotermia ada hubungannya sama sesuatu yang dingin. Bisa tatapan yang dingin, hati yang dingin, bisa juga pacar yang semakin dingin. Halah.
Pertama-tama, apa sih Hipotermia (Hypothermia) itu?
Pada dasarnya, hypo (rendah), thermia (panas), bisa diartikan sebagai suhu di bawah panas rata-rata tubuh. Suhu tubuh yang jadi abnormal. Gampangnya, hipotermia bisa diartikan kita mengalami kedinginan yang hebat. Tapi memang, kedinginan gak serta merta bisa dibilang hipotermia karena ukuran hipotermia adalah merosotnya suhu tubuh karena kehilangan panas yang begitu cepat. Kategori Hipotermia dimulai ketika suhu tubuh kita udah mulai berada di bawah 35 derajat Celcius.
Suhu di gunung bahkan bisa mencapai 0 derajat Celcius. Wajar banget kan kalau banyak kasus hipotermia di gunung?
Penyebab Hipotermia
 
Udah jelas dong, penyebabnya karena dingin. Suhu antara minus 1 derajat sampai 10 derajat celcius. Kehilangan panas tubuh. Karena kita lagi ngebahas gunung ya pasti salah satu penyebabnya adalah manjat gunung pas lagi musim hujan atau musim kemarau.Gunung itu dingin loh. Pake banget. Kalau musim hujan, meskipun gunung jadi lebih ‘hangat’ dari musim kemarau, tapi semisal keujanan dan badan tetap basah, itu juga bikin panas tubuh perlahan menghilang. Apalagi di musim kemarau. Biarpun siangnya panas, malamnya bisa dingin luar biasa. Pagi-pagi bahkan kita bisa liat embun yang udah berubah jadi batu es.

Tapi perlu diinget, Hipotermia ini bukan serangan utama yang bikin meninggal, kalau ditangani dengan bener, bisa aja diatasi. Yang ngekor di belakang hipotermia ini yang parah, yaitu, hipoglisemia, alias kurangnya gula darah, yang berefek bikin badan makin drop karena kehilangan energi.

Ciri-ciri Hipotermia
 
1. Biasanya diawali dengan tangan dan kaki yang mulai berasa dingin dan kebas
2. Menggigil gak kelar-kelar
3. Gemeteran, gerakan jadi super pelan, mau gerak aja jadi males karena super dingin, bahkan sampe tangan/kaki gak bisa digerakkin, bahkan napas aja kadang jadi beraaaaat banget
4. Gak bisa mikir dengan baik, ya gimana mau mikir yekan, yang ada cuma gimana caranya dingin ini bisa hilang
Kalau nemu temen yang lagi dalam kondisi begitu, plis banget segera ditolongin yak!
20140529_065731
P3H – Pertolongan Pertama Pada Hipotermia
 
1. Kalau masih dalam tahap hipotermia ringan, ajak teman kamu ke tempat kering, buat api unggun lalu nongkrong bersama doi di sana. Ajak ngobrol, ajak curhat, biar makin anget dan lupa sama dingin.
2. Ganti baju yang kering, baju basah tentunya bakal bikin kondisi temen kamu makin parah. Pakai jaket yang tebel-tebel atau berbahan dasar polar yang anget. Tutupi semua titik-titik vital yang gampang jadi dingin kayak telapak tangan, punggung, telapak kaki, kuping, dan leher.
Oiya, jangan pakai jeans. Selain bikin berat dan gak bisa bebas gerak, celana atau apapun yang berbahan dasar jeans JUSTRU gampang nyerap dingin. Percaya deh.
3. Kasih minum-minuman hangat kayak teh, jahe seduh, susu, asal jangan bir. Yakali. Emang sih, minum-minuman keras bisa bikin efek hangat sama badan kita, tapi juga bikin kita gak sadar diri. Kelamaan gak sadar, tau-tau udah di surga kan gak lucu juga.Hipotermia biasanya komplikasi juga sama dehidrasi, jadi ada bagusnya juga kasih minum air gula anget atau oralit, yang penting dijaga tetep anget biar gak kehilangan cairan tubuh. Soalnya begitu kena hipotermia, cairan tubuh pasti bakal berkurang secara otomatis buat menghangatkan tubuh kita sendiri.

4. Juga makan-makanan yang bener. Duh, kebanyakan pendaki (termasuk gue) demenannya bawa mie instan sik kalo manjat. Hmm, mulai sekarang selain bawa mie instan kalau bisa beli nasi jadi juga yak. Biar ada energi ekstra dan menjaga kalori tubuh. Nugget juga gampang kok dibawa. Sop-sopan juga gampang. Bisa lah ditambah menu makanannya buat manjat.
5. Istirahat yang cukup. Kalau udah capek banget bergerak, berhenti aja dulu. Tapi tetep, usahakan cari tempat yang kering itu tadi yak.
6. Kalau udah hypo yang mayan parah, jangan lupa peperin minyak kayu putih yak. Minyak kayu putih. Atau minyak gandapura (tambahan dari abang nauvel via twitter). Jangan balsem, pengalaman gue, kalau dipeperin balsem malah jadi dingin, katanya balsem itu mengandung menthol.7. Penanganan paling efektif adalah kasih panas secara langsung. Bukan, bukan dengan disirim air panas. Bisa melepuh badan orang dong. Udah macem KDRT ntar. Tapi, bisa ngompres langsung pake botol atau kompres air panas di sekitar ketek, perut, dada, dan selangkangan.

8. Kalau udah sampe parah banget, bugilin anaknya. Iya, bugilin. Dan kamu juga harus bugil. Lah? Kok bisa?
Soalnya, itu satu-satunya cara buat mentransfer panas tubuh kamu ke temen kamu yang hypo. Jadi, temen kamu yang udah bugil itu dimasukin ke sleeping bag dan kamu juga harus masuk di dalamnya. Peluk dia sampe badannya jadi hangat.
Kalau udah keterlaluan hyponya, mau gak mau harus posisi sandwich. Maksudnya, yang bugil tiga orang. Jadi si temen kamu yang hypo ini, harus ada ditengah-tengah kamu dan temen kamu yang lainnya. Biar makin cepet transfer panasnya.
Ih, tapi kan. Tapi kan….
Gak ada tapi-tapian, ketimbang temen kamu lewat!
Pencegahan Hipotermia
 
Sedia payung sebelum hujan itu selalu berlaku dalam kondisi apapun. Pencegahan emang selalu lebih baik ketimbang mengobati. Obat biayanya lebih mahal, cyin!
1. Karena udah sadar lagi mau manjat gunung, bawa perlengkapan yang super komplit! Apa aja? Paling penting adalah, bawa baju ganti yang memadai, apalagi pas manjat di musim hujan.
2. Bergerak bareng-bareng dalam tim. Jadi kalau ada apa-apa bisa langsung ketauan.
3. Aklimatisasi (penyesuaian tubuh terhadap lingkungan), caranya ini yang gue masih agak gaib. Biasanya tubuh kita sendiri yang paling tau pas kita udah mulai kedinginan kita harus gimana, pas kepanasan, kita harus gimana.Cara Aklimatisasi >> Di gunung ada desa terakhirnya kan? Percayalah kalau di gunung pasti ada desa terakhir (maksa), Nah pendaki wajib kalo bisa, nginep sini semalam. Sehari semalam juga boleh. Apalagi mandi pakai air di desa terakhir. Tubuh langsung adaptasi sama cuaca. Kalau pendaki indonesia mau menggunung ke Himalaya, cari tahu info desa terakhir di Himalaya itu ketinggian berapa? Kalau lalu simulasi dulu nginep di ketinggian segitu. Contoh kalau ke Aconcagua nginepnya di Arjuna-welirang. 3-7 hari.

4. Jaga kondisi tubuh segimana pun caranya biar tetep kering dan anget. Dikit-dikit peluk pacar atau gebetan kalau perlu. Tapi harus main cantik, biar gak digebuk sama jomblo-jomblo di luar sana (termasuk gue)
4. Posisi tidur di tenda
Inget ya, dingin itu nyerang pertama kali ke titik-titik berikut ini: telapak tangan, punggung, telapak kaki, kuping, dan leher, pastikan ketutup rapet. Pake kaos kaki tebel, sarung tangan, kupluk, jaket, sleeping bag, sarung, apa aja yang bisa bikin anget pas waktu tidur.
Bisa juga sama tidur empet-empetan, peluk-pelukan, atau tindih-tindihan (yakali), cara ini ampuh lho biar gak dingin. Asal jangan pake modus aja. Ngahahhaa. empet-empetan atau peluk-pelukan sama temen, kita bisa ngerasain hangat yang keluar dari dalam tubuh kita. Biasa dipake kok sama kalangan pendaki, apalagi kalo kondisinya lagi dingin-dinginnya. Sante aja, kan bobonya pakai sleeping bag dan juga jaket tebel.
Jangan lupa liat sistem udara di tenda, kalau tendanya kayak tenda gue yang ada bolongannya di pinggir-pinggir ya, mau gak mau ditutupin. Jangan lupa juga bikin saluran air di sekitar tenda sebelum tidur, biar gak tergenang air pas ujan deres.
Mungkin segitu aja dari gue mengenai hipotermia. Kalau tiba-tiba ada sesepuh yang lebih ngerti tentang hal ini kebetulan mampir kemari, boleh dong ditambahin kalau ada kekurangan dan kesilapan.
Inget, harus tetap sehat. Tetap enerjik. Dan tetep kering supaya bisa naik gunung lagi!
Naik gunung seru kok! Serius deh! Asal peralatan lengkap, tetap positif, dan persiapan prima! Oiya, jangan lupa juga pengetahuan survival di gunung dikit-dikit serta latihan fisik sebelum manjat. Penting banget pokoknya!#G4D4Adventure